Follow detikFinance
Kamis, 18 Okt 2018 08:16 WIB

Cerita Sukses

Kisah Bos Zara, Orang Super Kaya yang Irit Bicara

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Amancio Ortega. Foto: AFP Amancio Ortega. Foto: AFP
Jakarta - Siapa tak tahu Zara, produk fesyen kelas dunia yang tokonya hadir di berbagai pusat perbelanjaan menengah-atas di Jakarta dan kota-kota modern lainnya di dunia. Tapi bisa jadi tak banyak yang tahu siapa orang besar di balik kesuksesan Zara.

Dia adalah Amancio Ortega, orang yang pernah mengalahkan Bill Gates dalam predikat orang terkaya di dunia. Saat ini Ortega masih berada dalam jajaran orang terkaya di dunia. Dikutip detikFinance dari Forbes, Kamis (18/10/2018), hartanya kini berjumlah US$ 63,3 miliar atau setara Rp 949,5 triliun (kurs Rp 15.000) menempatkannya di posisi terkaya nomor enam di dunia.

Tapi kisah hidup Ortega sangat susah dilacak. Meski usahanya sangat terkenal, ia enggan bertemu dengan wartawan dan menceritakan kisah hidupnya. Profilnya kebanyakan dirangkai dari wawancara orang-orang yang mengenalnya.

Ortega lahir di Kota Leon, Spanyol, pada 1936. Anak bungsu dan ketiga kakaknya ikut pindah saat ayahnya, pegawai jawatan kereta api, dimutasi ke kota lain, La Coruna. Saat itu Ortega baru berusia 14 tahun.

Dalam usia semuda itu, Ortega terpaksa berhenti sekolah dan bekerja sebagai office boy di sebuah pabrik baju di sudut Kota La Coruna. Karirnya sedikit bergerak naik saat itu menjadi pembantu penjahit.

Berbeda dengan para pekerja lain, Ortega sangat memperhatikan bagaimana sistem yang bekerja di tempatnya mencari sesuap nasi. Ia benar-benar belajar bagaimana industri pakaian jadi ini berjalan di pabriknya.

Pekerjaan kasar yang digeluti Amancio Ortega Gaona berubah saat ia tiba-tiba memiliki ide membuat pakaian sendiri. Ide yang kemudian membawanya mendirikan Zara, jaringan toko pakaian top dunia.

Zara dan jaringan toko pakaian sejenisnya sendiri sering disebut meniru desain supermahal dan menjadikannya pakaian dengan harga lebih terjangkau.

Saat itu ia melihat gaun malam bermotif kembang yang sangat mahal. Ia memiliki ide meniru gaun itu. Alasannya sederhana, yakni hanya orang-orang sangat kaya yang bisa membeli pakaian-pakaian bagus.

Ia ingin membuat pakaian bagus tapi dengan harga terjangkau. Maka, selama beberapa minggu, ia menghabiskan waktu luang di mesin jahit iparnya untuk menjiplak negligee mahal itu. Karya tiruan itu ia jual ke toko-toko di kotanya, dan ternyata laku. Ia segera membuat model-model lain.

Ortega mulai serius dengan bisnis ini. Ia membeli kain-kain murah dari Barcelona, membuat pakaian bagus tapi murah, dan menjualnya di toko-toko sekitar rumahnya di La Coruna. Karena bisnis semakin bagus, pada 1963, pada usia baru 27 tahun, ia sudah mendirikan perusahaan sendiri, Confecciones Goa. Pabrik ini membuat dan menjual kimono mandi yang bagus.

Meski usahanya berjalan lancar, ia tidak puas. Pada 1975, ia mendirikan toko Zara pertamanya. Konsepnya adalah toko pakaian yang selalu up-to-date tapi harganya terjangkau dan penampilannya wah.


Toko pertamanya itu berdiri di depan sebuah toko serba ada paling elite di La Coruna. Posisi toko yang strategis membuat Ortega kemudian mendapat cap lain: pintar mencari lokasi bagus. Pujian ini datang karena tokonya sukses dan terkenal sebagai toko pakaian dengan harga terjangkau tapi kualitas desainnya bagus.

Kebijakan Amancio Ortega Gaona agar toko-tokonya dengan cepat berganti isi membuat pabriknya tidak pernah memproduksi satu model dalam jumlah banyak. Ia lebih suka toko menyediakan stok lebih sedikit dan lebih sering berganti isi dengan yang baru. Hal ini bisa mengurangi biaya penyimpanan dan logistik.

Karena jumlah pakaian lebih sedikit, ia memproduksi pakaiannya di Spanyol dan negara tetangga, seperti Maroko dan Portugal. Kebijakan ini membuat warga Spanyol tetap memiliki pekerjaan. Selain itu, ia tidak perlu mengeluarkan biaya pengiriman dari negara yang lazim memproduksi pakaian di Asia. Hal ini membuat Zara bisa lebih menekan harga produk sehingga toko ini populer.

Zara tumbuh cepat dan kemudian Ortega mendirikan perusahaan induknya, Industria de Diseño Textil, S.A. (Inditex). Inditex membawahi sekitar 100 perusahaan, termasuk Zara. Perusahaan semua terkait pakaian, mulai desain tekstil, konfeksi, sampai toko.

Saat ini Inditex mengoperasikan 5.500 toko di seluruh dunia. Mereka beroperasi di lebih dari 80 negara dan di lima benua. Selain Zara, mereka memiliki merek Massimo Dutti, Bershka, Oysho, Pull and Bear, Stradivarius, Tempe, sampai Uterqüe. Mereka juga memiliki merek baju dengan harga miring, Lefties.

Sebagian besar tokonya dimiliki langsung. Hanya di negara yang membatasi kepemilikan asing, Inditex berkembang dengan sistem waralaba. Perusahaan ini mulai melepas saham perdana ke bursa saham pada 2001.

Praktis saat ini Inditex adalah perusahaan fashion terbesar dunia. Meski begitu, Ortega mengikuti gaya hidup unik dan sangat tertutup.


Meski sudah menjadi sangat kaya, ia masih datang ke warung kopi yang sama setiap pagi. Ia tetap makan siang di kantin perusahaannya. Ia tidak pernah mengenakan dasi. Biasanya ia mengenakan seragam pabriknya, yang tidak berbeda dengan karyawan lain.

Meski pendiam dan tertutup, ia diam-diam membeli rumah di Paris, London, Lisabon, dan Miami. Ia juga memiliki saham di salah satu klub sepak bola di Spanyol, Deportivo La Coruna.

Yang paling aneh, Ortega enggan berbicara muluk-muluk tentang bisnisnya. Ia tidak pernah berbicara mengenai strategi atau ungkapan bisnis yang sulit itu. Ia lebih suka memikirkan cara menata toko atau merancang pakaian yang dijual. Padahal bisnisnya maju pesat sehingga boleh dikatakan sekarang setiap 36 jam ada cabang baru Zara atau toko lain yang berada di bawah bendera Inditex.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed