Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 16 Nov 2018 08:16 WIB

Cerita Sukses

Kisah Jenny Lee, Ratunya Investor Startup

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jenny Lee. Foto: Dok. Forbes Jenny Lee. Foto: Dok. Forbes
Jakarta - Jenny Lee merupakan salah satu investor yang tergabung dalam perusahaan venture capital yang paling disegani di China. Perusahaan yang dijalankan Lee memiliki portofolio di penyedia sumber daya manusia China Talent Group, Gamepedia dan U51 sebuah toko rating untuk kredit konsumsi.

Lee yang lahir di Singapura pada 1973 ini merupakan perempuan cerdas, terbukti saat ia berusia 18 tahun dirinya mendapatkan beasiswa dari Singapore Technologies Group untuk jurusan Teknik Elektro di Cornell University.

Setelah lulus dari beasiswa, Lee langsung bekerja di Singapore Technology Aerospace dan masuk ke divisi electronic warfare. Pekerjaannya adalah merawat pesawat tempur yang akan digunakan untuk perang.

Saat ia bekerja, ia juga memutuskan untuk bersekolah di Amerika Serikat (AS) dan mendaftar di Kellogg School of Management di Northwestern University.

Kemudian Lee berhasil mendapatkan gelar Master bidang Administrasi Bisnis. Setelah itu dia memutuskan untuk pindah ke Hong Kong yang saat itu menjadi tempat atau pusat pengembangan teknologi di China.

Dengan gelar Masternya pada 2001, ia memulai karir di sektor keuangan yakni di Morgan Stanley. Ia bekerja di sana selama satu tahun dan kemudian bergabung dengan Jafco. Lee juga pernah bekerja di perusahaan seperti eHang184, perusahaan taksi, Lingochamp atau bot pembelajaran bahasa berbasis kecerdasan buatan untuk orang China.


Lee telah memimpin investasi di banyak perusahaan teknologi China, membawa mereka ke daftar perusahaan di bursa saham Amerika Serikat seperti Nasdaq, atau bursa di daratan China dan Hong Kong.

Dia adalah wanita kapitalis ventura pertama yang memecahkan 10 besar Forbes Midas List 2015 dalam 100 investor teratas di seluruh dunia selama beberapa tahun. Dia merupakan satu dari hanya lima wanita di dalam daftar tersebut.

Lee yang mengaku seorang geek berfokus pada sektor teknologi, internet, mobile dan game. Selama 12 tahun sebagai investor, ia telah berinvestasi di sekitar 30 perusahaan.

Salah satu catatan suksesnya adalah ketika dia memimpin investasi GGV di Xiaomi, telepon seluler China yang sekarang tumbuh pesat dan memiliki nilai perusahaan US$ 61 miliar.

Dalam investasi ventura di start-up yang terlihat memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang, risiko kegagalan sangat tinggi.Kurang dari lima perusahaan telah gagal sejak dia memulai karir sebagai investor pada 2002.

"Biasanya, mereka yang gagal harus menutup karena produk mereka terlalu dini untuk pasar. Atau manajemen tidak mengeksekusi operasi dengan baik atau perusahaan kehabisan uang tunai dan investor kehabisan kesabaran," ungkapnya.


Keberhasilan Lee juga tak lepas dari jaringan yang luas terhadap pengusaha, investor, dan profesional bidang teknologi. Artinya, ia memiliki koneksi yang dapat membantu pemula menemukan bakat, pasar, dan investor lainnya.

"Saya suka bergaul dengan pengusaha karena mereka selalu ingin menunjukkan kepada Anda produk baru apa yang mereka buat. Ini penting karena sebagai seorang kapitalis ventura, Anda telah menunjukkan minat pada apa yang mereka lakukan," katanya.


Tonton juga 'Premium Gagal Naik, DPR: Investor Jadi Takut':

[Gambas:Video 20detik]

(kil/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed