Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 17 Des 2018 15:00 WIB

Dirut BPJS TK Nyetir Sendiri di Mancanegara: Lebih Horor di Cibubur

Mega Putra Ratya - detikFinance
Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di Boston, USA / Foto: Dok BPJS Ketenagakerjaan Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di Boston, USA / Foto: Dok BPJS Ketenagakerjaan
Jakarta - Menyetir mobil sendiri bagi sebagian orang melelahkan. Apalagi di kota yang baru pertama kali disinggahi, tentu butuh adaptasi.

Bagi Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto, menyetir mobil sendiri menjadi kebiasaan yang dia lakukan sejak lama. Menjadi pejabat di badan hukum publik yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden tak membuatnya menghilangkan kebiasaannya itu meski punya beragam fasilitas.

"Sampai sekarang di BPJSTK nyetir juga. Kalau Sabtu-Minggu sopir disuruh istirahat. Mengisi libur akhir pekan dengan keluarga ke mana-mana setir sendiri," tutur Agus saat berbincang dengan detikFinance beberapa waktu lalu usai kegiatan di Tokyo, Jepang.

Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di Los Angeles USADirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di Los Angeles USA Foto: Dok BPJS Ketenagakerjaan

Sejak tinggal di Jakarta 25 tahun silam, Agus mengaku setahun dua kali pulang kampung ke Yogyakarta dan Tulungagung. Agus nyetir sendiri sekitar 16 jam lamanya.

"Demikian juga hampir setiap di luar negeri, saya selalu sewa mobil nyetir sendiri. Sewa mobil lewat internet, ambil di airport, kembalikan ke airport atau kota lain yang kita tuju. Kecuali negara-negara kecil seperti Singapura, Hong Kong enggak perlu. Saya pernah nyetir di beberapa negara Asia, Australia, Eropa dan Amerika, modalnya GPS/Google Maps dan sebelum berangkat saya selalu googling mempelajari rambu rambu lalu lintas serta etika berlalu lintas negara setempat," tuturnya.


Agus bercerita kebiasaan nyetir di mancanegara dimulai sejak 1996, ketika di Amerika Serikat, tepatnya di Orlando. Menurutnya saat itu tak banyak public transportation sehingga satu-satunya pilihan adalah menyewa mobil.

"Belum ada Google Maps. Adanya peta kertas. Kalau mau pergi dihitung belokan ke berapa. Pertama kali saya nyetir itu, sejak saat itu ke negara manapun selalu nyetir sendiri sewa mobil. Menurut agus, di luar negeri menyewa mobil stir sendiri jauh lebih hemat biaya dan leluasa menentukan tujuan perjalanan serta mudah mengatur waktu," papar pria yang saat ini sedang mengambil studi S3 program Doktor Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya ini.

Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di New ZealandDirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di New Zealand Foto: Dok BPJS Ketenagakerjaan

"Saya biasanya menginap di hotel atau homestay di luar kota, selain murah juga bisa berinteraksi dan menyelami kehidupan sosial masyarakat setempat. Dengan sewa mobil stir sendiri jarak menjadi bukan hambatan. Kita jadi bisa mengenal etika berlalu lintas, mengetahui lebih detail teknologi yang dipakai untuk mengontrol kecepatan, parkir, isi bensin, cuci mobil, bayar tol, bayar tilang dan sebagainya," lanjut Agus.

Menurut Agus menyetir di luar negeri itu jauh lebih mudah aman dan menyenangkan. Semua serba tertib dan patuh berlalu lintas. Rambu-rambunya jelas, ditulis di papan atas juga di aspal jalan.

"Kita tinggal ngikuti saja rambu-rambu yang ada. Hal yang sulit adalah menyesuaikan habit kita, dari kebiasaan tidak teratur menjadi serba diatur. Penginnya kalau nyetir nyerobot dan ngebut saja. Di luar negeri kita tidak bisa stir asal nyelonong. Etika di jalan raya terasa sangat kuat, sikap saling menghormati atas aturan sangat bagus. Saya kira Indonesia sebagai sebuah negara besar mampu memiliki budaya tertib lalu lintas selayaknya negara maju. Apalagi pemerintah gencar membangun infrastruktur jalan, dan mendorong gerakan revolusi mental," jelasnya.

Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di Ice Land. Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di Ice Land. Foto: Dok BPJS Ketenagakerjaan

Baru baru ini Agus mengaku puas atas pencapaian yang diraihnya dalam menyetir mobil di mancanegara. Kali ini Agus merasa sudah memecahkan rekor setelah menyetir di New York.

"Saya puas bisa memecahkan rekor pribadi. Saya sudah menyetir di kota-kota besar dunia seperti London, Moscow, Los Angeles, Paris, dan lainnya. Saya belum pernah nyetir di New York. Saat mengambil studi non degree di Massachusetts Information Technology - MIT Sloan School of Management Boston, libur Sabtu-Minggu saya pergi nyetir sendiri ke New York berdua saja sama anak saya 10 tahun saya tempuh 3,5 jam non stop," ungkap Agus.


"Saya pikir stir di New York itu horor, ruwet, ternyata ndak, biasa aja. Lebih serem, dan horor stir di pintu keluar tol Cibubur. Itu lebih susah, begitu keluar berdesak desakan berebut dari 10 jalur jadi 3. Tiap hari ada orang berantem rebutan jalan," lanjutnya.

Memang sudah saatnya Indonesia melakukan revolusi mental. Selain itu perlu juga didukung penguatan regulasi dan infrastruktur lalu lintas agar masyarakat dapat menggunakan jalan dengan aman dan nyaman.

Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di INSEAD Prancis.Dirut BPJS TK Agus Susanto Saat Nyetir Sendiri di INSEAD Prancis. Foto: Dok BPJS Ketenagakerjaan

Agus juga pernah memecahkan rekor pribadi stir dari Madrid Spanyol ke Lisbon Portugal pulang pergi sejauh 1200 km.

"Paling berat stir di Madrid, karena banyak jalan bawah tanah yang bercabang-cabang. GPS dan Google Maps ngga tembus, bahasa di rambu rambu gak ngerti. Saya pernah stir berputar putar di bawah tanah. Naik ke permukaan ternyata turun ke bawah tanah lagi. Mbulet terus. Ini paling terkesan. Rumit stir di Madrid," ungkap lulusan INSEAD, Perancis ini. (ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed