Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Jan 2019 08:09 WIB

Cerita Sukses

Resep Cokelat di Balik Kesuksesan Keluarga Superkaya Italia (1)

Danang Sugianto - detikFinance
Giovanni Ferrero. Foto: Dok. Forbes Giovanni Ferrero. Foto: Dok. Forbes
Jakarta - Anda pasti tahu dengan cokelat Nutella? Tapi tahukah Anda sejarah dari salah satu merek cokelat paling terkenal di dunia tersebut?

Di wilayah pinggiran Alba, sebuah kota di Italia, terdapat sebuah benteng besar kokoh berdiri. Terdapat penjaga berseragam di depan pintu gerbangnya. Tapi tempat itu bukan tempat semacam fasilitas nuklir, melainkan pabrik cokelat.

Pabrik cokelat besar itu merupakan milik Ferrero, si pembuat produk cokelat ternama seperti Nutella, Tic Tac, Mon Chéri, dan Kinder. Pabriknya begitu modern yang menggunakan teknologi robotik.

"Kami melakukan segalanya dengan begitu serius untuk menghadapi persaingan yang begitu ekstrim," kata Chairman Ferrero SpA, Giovanni Ferrero, dilansir dari Forbes, Selasa (22/1/2019).

Berkat displin dan kerja keras, pria berusia 53 tahun itu mampu membangun sebuah kerajaan bisnis. Pada 2017 perusahaan itu berhasil mengantongi penjualan sebesar US$ 12,5 miliar.

Total nilai kepemilkan perusahaan itu mencapi US$ 31 miliar. Sementara Giovanni sendiri memiliki jumlah harta US$ 22,5 miliar atau sekitar Rp 315 triliun (kurs Rp 14.000) yang menjadikannya orang terkaya ke-37 di dunia.

Awal mula kesuksesannya sebenarnya berawal dari kakeknya yang bernama Pietro. Kakeknya itu mulai membangun bisnis cokelat pada 1947 di Italia. Awal mula berkembang, usaha tersebut dijalankan dengan begitu hati-hati tanpa utang dan akuisisi.

Kisah Perusahaan Ferrero dimulai dalam bayang-bayang Perang Dunia I. Pada tahun 1923, setelah bertugas di militer, Pietro Ferrero membuka toko kue di Dogliani, di barat laut Italia. Tahun berikutnya ia menikahi Piera Cillario berusia 21 tahun, yang melahirkan seorang putra bernama Michele, pada tahun 1925.


Keluarga itu menghabiskan dekade berikutnya berpindah antar kota. Kemudian, pada tahun 1938, ia pindah ke Afrika Timur dengan rencana untuk menjual biskuit kepada pasukan Italia yang dikirim ke sana oleh Mussolini. Upaya itu gagal, jadi Pietro kembali ke rumah.

Pada saat Perang Dunia II dimulai, keluarga mereka menetap di bukit-bukit yang tenang di Alba. Di sanalah Pietro menemukan kesuksesan terbesarnya.

Atas dorongan adik laki-lakinya, ia mulai bereksperimen dengan alternatif yang lebih murah daripada cokelat, sebuah kemewahan yang tidak terjangkau di Italia pada masa perang. Dia menemukan campuran molase, minyak kemiri, mentega kelapa dan sedikit bubuk kakao, yang dibungkusnya dengan kertas lilin dan dijual di sekitar kota. Dia menyebut itu sebagai campuran Giandujot, atau gianduiotto, sebuah penganan serupa yang telah dipopulerkan di bawah Napoleon.

"Dia mengalami sindrom penemu. Dia akan bangun kapan saja, pergi ke laboratorium dan tepat di tengah malam akan membangunkan istrinya, berkata, cicipi ini, inii resep yang bagus," kata Giovanni menceritakan sosok kakeknya.

Lalu Pietro bekerja sama dengan saudaranya, yang juga bernama Giovanni, yang memiliki latar belakang makanan grosir, dan mereka membentuk perusahaan bernama Ferrero pada tahun 1946.

Pietro nyaris tidak melihat bisnisnya berkembang pesat sebelum dia meninggal karena serangan jantung pada tahun 1949, di usia 51 tahun. Tetapi dasarnya telah diletakkan. Pada tahun yang sama Ferrero meluncurkan versi Giandujot yang lebih mudah disebarkan, yang akhirnya menjadi Supercrema, pendahulu Nutella.

Lalu, bagaimana akhirnya Nutella ditemukan? Dan seperti apa perjalanan Fererro hingga akhirnya membuat Giovanni Ferrero menjadi orang terkaya ke-37 di dunia? Simak terus lanjutan kisah suksesnya di detikFinance.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed