Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 30 Jan 2019 08:32 WIB

cerita sukses

Jerih Payah dan Kecerdikan Ingvar Kamprad si Pendiri IKEA

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Ingvar Kamprad. Foto: Claudio Bresciani/Reuters Ingvar Kamprad. Foto: Claudio Bresciani/Reuters
Jakarta - Mendengar nama Ingvar Feodor Kamprad, mungkin akan asing bagi sebagian orang. Namun, apabila kita bicara IKEA, siapapun pasti mengenalnya.

Dialah Ingvar Kamprad, seorang pemuda dari provinsi kecil di selatan Swedia yang berhasil merintis toko furnitur sebesar IKEA. Kisah suksesnya dapat menjadi inspirasi bagi semua orang, terlebih lagi Ingvar sejak dulu dikenal bukanlah orang yang bagus pendidikannya.

Ingvar sendiri lahir di Smalandiya, Pjätteryd (sekarang bagian dari Älmhult Municipality), Swedia pada 30 Maret 1926. Lahir dari keluarga yang memang memiliki mata pencaharian sebagai pedagang, dari situ banyak orang percaya bahwa keahliannya merintis toko sebesar IKEA memang merupakan keahlian turunan dari keluarganya.

Ingvar sangat mengagumi neneknya sejak kecil, dari neneknya lah Ingvar mendapatkan pelajaran untuk menjembatani kesulitan dengan kemauan dan ketekunan. Nenek Ingvar, Francis, memiliki dampak positif yang sangat besar tidak hanya pada seluruh keluarga, dia adalah wanita yang sangat cerdas, meskipun asal usulnya sederhana.

Nenek Ingvar pun berhasil menyelamatkan bisnis suaminya. Pada tahun 1987, usaha kakek Ingvar berada di ambang kebangkrutan, karena tidak bisa membayar utang-utang akhirnya kakek Ingvar bunuh diri, namun nenek Ingvar berhasil menyelamatkan bisnis itu.

Sejak kecil Igvar dikenal sebagai anak yang tidak cukup bagus sekolahnya, bahkan guru membacanya pun lelah untuk mengajarnya. Namun, kekurangan itu digantikannya dengan antusiasme dalam mengerjakan segala hal.

"Jika Anda bekerja dan tidak merasakan antusiasme yang tidak dapat diperbaiki, pertimbangkan bahwa setidaknya sepertiga dari hidup Anda telah sia-sia," kata Ingvar.

Bisnis pertama yang dibuat Ingvar muda di masa kecil adalah menjual pensil dan korek api dalam jumlah besar, barang tersebut dia jual ke teman sekelasnya untuk mendapat untung. Bukan hanya pensil dan korek api, selama penelitian, Ingvar pun terus mencoba berbagai kegiatan, dari menjual ikan hingga membuat dan menjual kartu Natal.

Ini adalah sekolah kehidupan yang sebenarnya, Ingvar tidak terlatih untuk melakukan bisnis, juga tidak membaca buku untuk berdagang. Namun, apa yang kita ketahui persis hari ini adalah bahwa perusahaan IKEA yang berdiri sekarang merupakan hasil pengalaman dan jeri payah seorang Ingvar.

Pada tahun 1943, ketika dia berusia 17 tahun, saat temannya sibuk bermain dan melirik perempuan, Ingvar justru fokus ke bisnisnya. Dia menambahkan sejumlah uang ke akumulasi modal dan membuka IKEA-nya, dia pun meyakinkan ayahnya untuk memberikan pinjaman uang dengan alasan untuk melanjutkan sekolah. Nama IKEA sendiri berasal dari inisial Kamprad (I.K.) ditambah huruf-huruf pertama Elmtaryd dan Agunnaryd, pertanian dan desa tempat ia dibesarkan.

Diawal operasi IKEA, sekitar awal tahun 1940 Ingvar mencoba menjual segalanya, bahkan dia pernah memesan 500 pena dari Paris karena saat itu pena diminati masyarakat, mengambil pinjaman sebesar 500 SEK di bank distrik (saat itu sekitar US$ 63). Menurut Kamprad, ini adalah pinjaman pertama dan terakhir yang ia ambil dalam hidupnya.

Namun, furnitur dilihat Ingvar sangat menarik perhatian pada fitur kehidupan di Swedia, saat itu furnitur adalah barang mewah bagi kebanyakan orang karena harganya mahal. Pada tahun 1948, Ingvar Kamprad memutuskan untuk terlibat dalam perdagangan furnitur.

Guimars Fabriker dari Alvesta, merupakan pesaing utama Ingvar, mereka telah lama menjual furnitur di Kagnuit. Dia melihat iklannya di koran pertanian dan juga memutuskan untuk mencoba bisnis. Jadi, penjualan furnitur, yang dia mulai secara kebetulan, dan semata-mata untuk mengalahkan pesaing telah menentukan nasibnya.

Ingvar menemukan produsen untuk membeli furnitur dan dia melakukan persetujuan dengan produsen pelapis yang bagus. Kisaran tokonya diisi dengan meja kopi dan kursi tanpa sandaran tangan, kursi itu bernama 'Root.' Sejak itu, setiap barang di toko memiliki namanya sendiri, nama-nama itu diciptakan oleh Ingvar, karena ketidakmampuannya untuk mengingat item numerik.


Pada tahun 1951, IKEA mulai menyebarkan buklet di antara para pelanggannya yang disebut 'Berita IKEA.', buklet ini lah yang menjadi prototipe katalog IKEA modern. Bisnis Ingvar ditargetkan pada pelanggan dengan pendapatan menengah dan rendah, untuk itu, ia memesan furnitur murah di pabrik-pabrik furnitur lokal.

Saat itulah ia menemukan formula terkenalnya: "Lebih baik menjual 600 kursi dengan harga lebih murah daripada menjual 60 kursi dengan harga tinggi."

Pada awal tahun 50-an Ingvar membeli sebuah pabrik kecil tua di Swedia, yang memungkinkannya melakukan aliran produksi bahkan furnitur yang lebih murah untuk tokonya. Langkah berisiko seperti itu mendapatkan kecaman dari para pesaing, Ingvar diboikot. Federasi Industri Kayu dan Mebel Swedia sangat marah dengan harga murah yang ditawarkan IKEA dan membujuk para penebang terkemuka untuk menghentikan semua kerja sama dengan IKEA.

Namun, dimata Ingvar setiap masalah ada solusinya. Diboikot tidak bisa membeli bahan baku dari dalam negeri dia mengakalinya dengan membeli beberapa komponen furnitur dengan harga murah dari pemasok Polandia, bahkan dia bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Showroom furnitur IKEA pertama dibuka pada tahun 1953 di Älmhult, Swedia, pelanggan dapat melihat dan menyentuh perabot rumah IKEA sebelum membelinya. Lima tahun kemudian, toko itu dipugar dan dibuka kembali, toko seluas 6.700 meter persegi itu kurang lebih mirip dengan yang kita lihat hari ini di bawah nama besar IKEA.

Pada tahun 1965, toko Kungens Kurva IKEA seluas 31.000 meter persegi dibuka di dekat Stockholm. Ingvar melakukan banyak peningkatan secara kreatif dalam membuka toko barunya ini. Pertama, toko itu terletak di pinggiran kota, otomatis biaya sewa tanah di sana jauh lebih rendah, dan dengan lahan yang luas Ingvar membuat tempat parkir mobil yang luas.

Kedua, untuk mengurangi biaya transportasi, perusahaan memesan furnitur siap pakai, di mana setiap detail ditempatkan dalam sebuah paket bongkar pasang. Lebih mudah dan lebih murah untuk mengangkutnya, dan pelanggan harus merakit sendiri furnitur. Ingvar memperhatikan bahwa orang-orang suka merakit sendiri lemari dan sofa. Terutama, jika proses pemasangannya begitu sederhana berkat instruksi yang terperinci.


Ingvar juga melihat peluang bahwa saat itu mobil mulai menjadi tren di Swedia dan dia menyadari bahwa orang-orang siap untuk pergi berbelanja ke daerah yang jauh. Untuk mendorong pelanggan berbelanja di IKEA, mereka mulai menjual rak atap untuk mobil dengan harga terjangkau. Berkat kebijakan ini, omset perusahaan meningkat dua kali lipat dalam satu tahun.

Ingvar menemukan formula baru dalam menjajakan produknya, yaitu membuat gudang swalayan, ini merupakan hal yang tepat yang dibutuhkan oleh klien modern. Bukan lagi rak-rak namun Ingvar menjajakan produknya ke dalam bentuk set-set kamar.

Hingga sekarang setiap toko furnitur IKEA adalah semacam ruang pamer, di mana dipamerkan tidak hanya sofa dan lemari, tetapi hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari taplak meja, gorden, seprai, handuk dan tempat lilin. Dengan demikian, pengunjung dapat melihat sepuluh kamar anak-anak berturut-turut, dan kemudian dua puluh lima ruang makan atau ruang tamu dan sebagainya. Dengan membayangkan tampilan furnitur tertentu di interiornya, pengunjung bisa lebih mudah menentukan apa yang mau ia beli.

Sejarah IKEA, tidak dapat disebut tanpa lawan karena ada banyak pesaing seperti Argos (Italia), Ilva (Denmark) dan lainnya. Tapi Ingvar Kamprad tahu bahwa tokonya menawarkan segala hal yang penting bagi pelanggan di mana mereka bisa mendapatkan sensasi visual dan sentuhan dan kesenangan nyata berada di sana. Kekayaan bersih Ingvar Kamprad adalah US$ 3,8 Miliar atau berkisar Rp 55 miliar pada November 2014.

Tepat setahun lalu, Ingvar Kamprad meninggal dalam tidurnya pada tanggal 27 Januari 2018. Penyebab kematian adalah penyebab alami, saat itu dia berusia 91 tahun.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed