Dulu Chairul Tanjung Niat Bikin Pabrik Sepatu, Eh Sukses di Pabrik Sandal

ADVERTISEMENT

Dulu Chairul Tanjung Niat Bikin Pabrik Sepatu, Eh Sukses di Pabrik Sandal

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Minggu, 19 Jun 2022 23:00 WIB
Sebagai wujud tanda syukur menginjak usia 60 tahun, Chairul Tanjung ingin membagikan pengalaman hidupnya untuk seluruh pembaca detikcom dengan membagikan e-Book Si Anak Singkong secara gratis dan juga menyelenggarakan acara makan malam bersama.
Foto: 20Detik
Jakarta -

Tahukah kamu bahwa sebelum mendirikan CT Corp, Chairul Tanjung pernah menekuni industri sandal? Ya, PT pertama yang ia dirikan bersama dua orang rekannya itu bahkan pada awalnya direncanakan menjadi sebuah pabrik sepatu, bukan sandal.

PT pertamanya itu didirikan pada tahun 1987. Bahkan beberapa saat sebelumnya, CT baru saja mengalami kerugian besar sebagai kontraktor di sebuah proyek pembangunan pabrik sumpit di kawasan Citeureup, dimana proyek tersebut gagal karena kebangkrutan dari sang pemilik.

"Tuhan, bagaimana ini? Seluruh uang saya tertanam di pembangunan itu semua," tulis CT dalam bukunya yang berjudul Chairul Tanjung Si Anak Singkong.

Tidak hanya itu, hampir semua aset yang ia miliki telah dijualnya, termasuk kendaraan pribadinya yakni sedan besar Honda Accord keluaran tahun 1981.

Meski begitu, di saat yang bersamaan dirinya juga mendapatkan pekerjaan renovasi sebuah pabrik sepatu di Kapuk Muara, yang dimiliki oleh pemilik sepatu Kasogi. CT mengatakan bahwa dari sana lah ia bertemu dengan Michael Chiam, seorang technical assistant berkebangsaan Singapura.

Tanpa disangka, Chiam lah yang membantu CT untuk mendirikan pabrik sepatu miliknya sendiri dengan memberikan anjuran perhitungan modal pembangunan pabrik.

"Kala itu, saya berpikir, ini merupakan tantangan baru untuk menyelesaikan pembangunan pabrik sumpit di Citeureup yang mandek di tengah jalan itu.

Tidak berhenti sampai di situ, rupanya pemilik pabrik sumpit, Mr. Wong, masih berbaik hati dengan memberikannya pabrik belum yang jadi tersebut. Banguna tersebut dihargai Rp 50 juta, dimana harga tersebut ia jadikan modal yang mewakili kepemilikan sahamnya dalam PT yang akan ia bangun bersama kedua rekannya yang masing-masing membayar Rp 25 juta.

"Sementara dua kawan lainnya, yaitu Untung Sentausa yang semula berpartner dengan sepatu Kasogi dan Aris Mulyono yang kini telah almarhum, masing-masing memiliki 25 persen porsi saham. Dengan demikian, mulailah kami bertiga berpartner di pabrik baru tersebut dengan komposisi 50:25:25," ujar CT.

Dari sanalah, pada tahun 1987 itu pertama kalinya dirinya mendirikan PT. Pun untuk pertama kalinya CT memberanikan diri untuk meminjam uang sebesar Rp 150 juta ke bank pemerintah, yakni Bank Exim (Ekspor Impor).

"Berapa saya pinjam? Tidak tanggung-tanggung sebesar Rp 150 juta. Sebuah nilai yang sama sekali tidak kecil bagi orang yang berusia di bawah 30 tahun seperti saya waktu itu," ujar CT.

Cerita dilanjutkan dengan Michael Chiam yang mulai membuat desain sepatu, sepatu anak-anak tepatnya. CT mengatakan, beberapa contoh mereka kirimkan kepada calon pembeli di Eropa dan Amerika. Sebulan dua bulan pun berlalu tanpa adanya kejelasan kabar, bahkan pesanan yang masuk.

"Pucuk dicita ulam pun tiba. Pesanan datang, tapi bukan sepatu, melainkan sandal. Beach sandal yang waktu itu sangat digandrungi di pasar Eropa. Cuma 12.000 pasang sebagai pesanan awal," ujar CT.

CT mengatakan dari sana lah semangat ia dan rekan-rekannya mulai muncul kembali. Tak berhenti sampai disitu, karena merasa puas, akhirnya pembeli dari luar negeri itu pun melakukan repeat order. Bahkan tidak tanggung-tanggung pesanan pun melonjak menjadi 240.000 pasang. CT pun memberanikan diri datang kembali ke Bank Exim untuk melakukan pinjaman lagi.

"Kali ini bermodal letter of credit (L/C) pesanan sebanyak 240.000 pasang sandal dengan harga jual 1,10 dollar AS per pasang. Alhamdulillah, keluarlah kredit ekspor dari Bank Exim," ujar CT.

Waktu pun terus berjalan hingga dari yang awalnya hanya satu pabrik, kata CT, menjadi dua, pabrik, tiga pabrik, dan seterusnya, hingga akhirnya kami memiliki kawasan industri sendiri.

"Sekitar tahun 1991 hingga 1992, saat itu telah ada 4 pabrik dan satu kawasan industri di bawah naungan induk bernama Para Group. Pada tahun 1994, mulai saya putuskan keluar dari industri, berjalan sendiri, dan tidak berpartner dengan yang lain," tambahnya.

Dengan latar belakang sejarah seperti itu, kini Chairul Tanjung berhasil menduduki peringkat ke-6 orang terkaya di Indonesia menurut catatan Forbes tahun 2021. Berbagai usaha di berbagai sektor pun ia tekuni hingga mampu mendirikan CT Corp. Forbes mencatat, total kekayaan CT saat ini mencapai US$ 6,5 miliar atau setara dengan Rp 96,45 triliun (kurs Rp 14,838.85).

Penasaran dengan cerita inspiratif CT lainnya? detikers bisa mendapatkan kesempatan itu, caranya dengan membuka website pada link ini. Kemudian di kanan atas halaman akan ada dua pilihan Download E-Book dan Download E-Book & Bertemu CT.

Klik Download E-Book dan Download E-Book & Bertemu CT. Untuk login pastikan kamu telah memiliki akun MPC atau sebagai nasabah dari Allo Bank.

Login masukan nomor telepon dan password akun MPC atau Allo Bank. Bagi yang ingin mengunduh e-book sekaligus mendaftar acara "Makan Malam dan Dialog Bersama Chairul Tanjung" wajib memiliki Allo Prime dan menjawab pertanyaan pada form pendaftaran.

Setelah menjawab pertanyaan, e-book sudah langsung bisa diunduh. Sedangkan, pengumuman orang yang berkesempatan makan malam bareng dengan CT akan diumumkan Senin, 25 Juli 2022.

Untuk diingat, kesempatan makan malam dan ngobrol bareng CT hanya untuk 60 orang terpilih. Undangan hanya untuk satu orang dan tidak dapat dialihkan.

Bagi 60 peserta terpilih pada tanggal 28 Juli 2022 wajib melakukan pendaftaran ulang di Lobby Gedung Transmedia Tendean, Jakarta Selatan pukul 16.00 WIB dan mengikuti seluruh rangkaian acara yang telah ditentukan.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT