ADVERTISEMENT

Kisah Inspiratif

Frank Lowy, Korban Kekejian Holocaust yang Kini Jadi Crazy Rich Australia

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Rabu, 28 Sep 2022 08:29 WIB
Monumen Holocaust Memorial Berlin Jerman
Ilustrasi Holocaust Foto: (Tobias Schwarz/Reuters)
Jakarta -

Frank Lowy merupakan salah satu orang terkaya di Australia dan dunia. Mengutip Forbes, kekayaannya mencapai US$ 6,8 miliar atau setara dengan Rp 102,68 triliun (kurs Rp 15.100).

Diketahui Frank Lowy adalah pendiri Westfield Group, sebuah perusahaan pusat perbelanjaan di Australia. Namun, dirinya lahir di Slovakia dan meninggalkan Eropa akibat perang dunia II.

Pria berumur 91 tahun ini tiba di Australia pada 1952. Ia kemudian menjadi salah satu pebisnis paling berpengaruh di negeri kanguru.

Bersama tiga anaknya, dia berhasil merajai bisnis ritel melalui Westfield Group. Westfield Group merupakan perusahaan yang didirikan Lowy dan kini menjadi bisnis yang menggurita di Australia. Mengutip laman resmi lowyinstitute.org, pusat perbelanjaan itu berdiri pertama di Sydney pada 1959.

Di balik kesuksesannya itu, siapa sangka Lowy dulunya merupakan korban dan pengungsi perang dunia II. Ia menjadi salah satu orang yang selamat dari holocaust atau pembantaian kaum Yahudi oleh Jerman.

Saat perang terjadi, ayah Lowy hilang hingga Lowy tak bertemu dengan orang tuanya. Akhirnya ia harus pindah ke Budapest, Hungaria untuk menghindar dari penangkapan Nazi dan polisi rahasia di sana.

Menjadi pengungsi bukanlah hal yang menyenangkan untuk siapapun termasuk Lowy. Merasa kesepian di kamp pengungsian pasti dirasakan.

Pada 1946 Lowy berhasil mendarat di Prancis dan mulai berpindah ke Sde Ya'akov bersama dengan Haganah dan Golani Brigade saat perang Arab-Israel. Kemudian pada 1952 Lowy sampai di Australia dan memulai bisnis pengiriman barang kecil-kecilan.

Nah pada 1953 Lowy bertemu dengan sesama imigran Hungaria bernama John Saunders dan ini merupakan cikal bakal bisnis Westfield Development Corporation. Secara bertahap mereka mulai memperluas pusat perbelanjaan di Australia dan Amerika Serikat (AS).

Dia mengubah nama menjadi Westfield Group. Pada 1987 Saunders meninggalkan perusahaan dengan menjual seluruh sahamnya. Lowy tetap gigih, ia membawa perusahaannya ke Selandia Baru dan Inggris untuk melebarkan sayap.

"Jangan menyerah, orang tidak mengerti perjuangan anda. Apa yang anda hadapi, tapi anda harus menemukan cara untuk maju. Jalan itu harus memutar, mencari arah dan banyak rintangan anda harus yakin sangat kuat dan akan berhasil, kalau tidak anda akan tergilas," ujar Lowy.

Bersama ketiga anaknya, David, Peter dan Steven dia juga mendirikan sebuah perusahaan investasi yang diberi nama Lowy Family grup yang saat ini sudah berada di tiga tempat yakni New York, Los Angeles dan Sydney. Sebagai ayah, ketiga anak Lowy menganggap dirinya sebagai 'ketua geng' yang benar-benar mengarahkan dan mengajarkan tentang bisnis keluarganya.

Selain menjalankan bisnis pusat perbelanjaan, Lowy kini juga aktif di lembaga independen yang mempelajari masalah utama terkait keamanan nasional Israel dan Timur Tengah. Selain pria kelahiran Slovakia 88 tahun lalu ini juga gemar ikut serta dalam kegiatan filantropis.

Hal ini karena ketiga putranya memiliki penyakit mata yang tak bisa disembuhkan. Akhirnya ia mendirikan sebuah lembaga internasional untuk meneliti penyakit-penyakit tersebut.

Lihat juga video 'Psikolog Bicara Soal Istilah 'Crazy Rich Palsu'':

[Gambas:Video 20detik]



(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT