Lika-liku Low Tuck Kwong dari Kontraktor hingga Jadi Raja Batu Bara

ADVERTISEMENT

Kisah Inspiratif

Lika-liku Low Tuck Kwong dari Kontraktor hingga Jadi Raja Batu Bara

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 30 Nov 2022 07:45 WIB
Presiden Direktur Bayan Resources Low Tuck Kwong
Low Tuck Kwong/Foto: Dok. Situs Bayan
Jakarta -

Low Tuck Kwong dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Bahkan, ia masuk daftar orang terkaya di dunia.

Forbes mencatat, kekayaan Low Tuck Kwong mencapai US$ 13 miliar atau Rp 204,10 triliun (kurs Rp 15.700). Berdasarkan Real Time Net Worth Forbes, Low Tuck Kwong berada di posisi 135 orang terkaya di dunia. Sementara, pada tahun lalu ia tercatat berada di urutan ke-18 orang terkaya di Indonesia.

Low Tuck Kwong dikenal sebagai raja batu bara. Pria kelahiran Singapura ini merupakan pendiri Bayan Resources yakni perusahaan tambang Indonesia. Selain itu, ia juga mengendalikan perusahaan yang bergerak di bidang energi baru terbarukan Singapura, Metis Energy yang sebelumnya dikenal Manhattan Resources.

Low Tuck Kwong memiliki peran di The Farrer Park Company, Samindo Resources dan Voksel Electric. Tak cuma itu, ia juga terlibat di SEAX Global yang membangun sistem kabel bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia dan Malaysia.

Perjalanan panjang telah dilalui Low Tuck Kwong sehingga sukses seperti sekarang. Mulanya, ia bekerja di perusahaan konstruksi ayahnya di Singapura di usia 20an. Kemudian, ia memutuskan pindah ke Indonesia pada 1972 untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik.

Di Indonesia, Low mengawali bisnis sebagai kontraktor bangunan. Namun, kejayaan ia raih setelah berhasil membeli tambang pertamanya di tahun 1997.

Sementara, dikutip dari laman Bayan Resources, pada 1973 Low Tuck Kwong mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI) yakni kontraktor pekerjaan tanah, pekerjaan sipil dan struktur kelautan. Perusahaan dengan cepat menjadi pelopor dalam pekerjaan pondasi tiang pancang yang kompleks dan kontraktor terkemuka di Indonesia pada periode 1980 dan 1990-an.

Pada 1988, JSI masuk ke kontrak tambang batu bara dan menjadi kontraktor tambang terkemuka ketika Low Tuck Kwong mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP) dan PT Dermaga Perkasapratama (DPP) pada 1998. Pada saat GBP belum memulai penambangan dan Terminal Batubara Balikpapan di bawah DPP memiliki kapasitas 2,5 juta ton per tahun.

Di bawah Low Tuck Kwong, Bayan Group bertransformasi menjadi perusahaan tambang batu bara. Bayan Group dibentuk melalui sejumlah akuisisi strategis di sektor batu bara.

Dijelaskan, dalam beberapa tahun terakhir proyek Tabang/Pakar telah mengalami perkembangan yang signifikan. Dari hanya operasi tambang skala kecil yang memperoduksi 1,9 juta ton pada 2014 menjadi sekitar 22,7 ton di tahun 2018. Hal itu menempatkan perusahaan di posisi 5 besar produsen batu bara Indonesia. Pertumbuhan diramal meningkat dari tahun ke tahun dengan target untuk proyek tersebut menjadi produksi 50 juta ton per tahun.

Bayan Group juga memiliki infrastruktur batu bara dengan kepemilikan di Terminal Batu Bara Balikpapan, Dermaga Perkasa dan Wahana dan dua Floating Transfer Barges (KFT). Dengan fasilitas ini perusahaan membongkar hingga memasukkan muatan ke kapal dengan kecepatan 3.000-8.000 ton per jam. Perusahaan akan terus berinvestasi untuk memperluas fasilitas jika diperlukan.

Lihat juga Video: Prediksi Harga Minyak, Batu Bara dan CPO Versi Sri Mulyani

[Gambas:Video 20detik]



(acd/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT