Mengenang Sosok Subroto, Mantan Menteri ESDM Era Soeharto yang Tutup Usia

ADVERTISEMENT

Mengenang Sosok Subroto, Mantan Menteri ESDM Era Soeharto yang Tutup Usia

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 20 Des 2022 19:45 WIB
Mantan Menteri Pertambangan dan Energi era Soeharto
Foto: Yulida Medistiara/detikFinance
Jakarta -

Subroto atau dikenal Prof Subroto meninggal dunia hari ini. Mantan Menteri Pertambangan dan Energi atau kini Menteri ESDM tersebut tutup usia di usia 99 tahun.

Subroto menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi selama dua periode yakni dari 1978 hingga 1988. Hingga saat ini, namanya diabadikan sebagai nama penghargaan di bidang energi.

Selama hidup, banyak terobosan yang telah dilakukan pria kelahiran Surakarta, 19 September 1923 ini.

Dikutip dari laman Kementerian ESDM, Selasa (20/12/2022), sejumlah pemikirannya di antaranya terkait lahirnya Kebijakan Energi Nasional (KEN), program Listrik Masuk Desa (LMD), pengupayaan sumber energi non minyak (seperti tenaga air, panas bumi dan matahari), sampai gerakan hemat energi.

Pria yang memiliki ciri khas rambut putih dan dasi kupu-kupu ini juga melakukan perubahan di lingkungan kerjanya. Kementerian yang dahulu bernama Departemen Pertambangan diubah menjadi Departemen Pertambangan dan Energi. Konsekuensinya, antara lain, Perusahaan Listrik Negara (PLN) masuk menjadi bagian Departemen Pertambangan dan Energi.

Di tingkat global, Subroto dikenal sebagai The Wise Minister Subroto from Indonesia. Julukan yang diberikan karena kearifan serta visinya yang hati-hati dalam pengelolaan minyak di kalangan negara-negara OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Ia juga piawai berdiplomasi dan mampu meredam silang pendapat antar negara OPEC, kala menjabat sebagai Presiden Konferensi (1984-1985) dan Sekretaris Jenderal pada tahun 1988-1994.

Subroto juga salah satu tokoh yang ikut merancangblueprintpembangunan perekonomian Indonesia. BersamaWidjojo Nitisastro, Emil Salim, Moh Sadli, dan Ali Wardhana, ia menjadi anggota Tim Ekonomi untuk pembangunan Indonesia di era awal Orde Baru. Pada tahun 1968 Tim Ekonomi melahirkan seri Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).

Di sisi lain, Subroto pernah bercerita, jika ia pernah ditolak menjadi tentara Pembela Tanah Air (Peta). "Karena badan saya dianggap terlalu kurus," tuturnya.

Menariknya, ia justru diterima di Militaire Academie (MA, Akademi Militer) dan meraih predikat terbaik kedua dari 197 orang yang lulus tahun 1948.

(acd/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT