Zainal, Bela Songket Sampai Mati
Kamis, 05 Jul 2007 18:24 WIB
Jakarta - Nama asli yang diberikan orangtuanya adalah Zainal Arifin namun masyarakat lebih mengenalnya dengan julukan Zainal Songket. Nama itu melekat karena kepiawaian Zainal menenun songket dan selama 20 tahun berkomitmen mempertahankan eksistensi pengembangan motif songket asal Palembang.Nama Zainal Songket juga sudah tak asing lagi di kalangan tokoh tenun di Malaysia. Bahkan setiap tamu kenegaraan yang berkunjung ke Indonesia, selalu mampir ke butiknya. Salah satunya adalah Laura Bush."Saya telah memasarkan produk hingga Malaysia, Singapura, Brunei, Prancis, Inggris dan Filipina. Pertahunnya didalam negeri saya bisa menjual 300 potong kain," ungkap Zainal dalam perbincangannya dengan para wartawan di butiknya di Jl. Kebon Kacang, Jakarta, Kamis (5/7/2007).Zainal kini telah memiliki tujuh unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja pegawai tetap 100 orang dan pegawai lepas mencapai 300 orang di outletnya di Palembang dan Jakarta.Sedangkan perajin songket binaanya telah mencapai 80 orang. Mereka telah mampu berdiri sendiri membuat motif, desain dan corak songket sehingga motif lama tenun songket palembang akan tetap lestari dan terhindar dari kepunahan."Songket ya Zainal, jadi saya yang akan membela sampai mati kalau ada negara lain mengaku-ngaku buatan mereka," tegasnya.Zainal menengarai, saat ini pemalsuan kain songket telah terjadi dimana-mana. Songket palsu itu dijual pada harga Rp 400 ribu-Rp 500 ribu, atau jauh dibandingkan songket asli yang biasanya ditenun dalam waktu 3-6 bulan dengan harga Rp 2,5 juta-5 juta."Saya sedih kalau saya ke musium tekstil Malaysia, saya melihat disitu ada kain songket kita yang dipajang dengan klaim produk khas mereka," keluh pria 41 tahun ini.Karenanya, Zainal bertekat untuk mendaftarkan 30 motif songketnya agar tak bisa ditiru.Rencananya, Zainal juga akan memamerkan songket warisan nenek moyangnya, SUltan Badaruddin yang sudah berusia 200-500 tahun di Pekan Produk Budaya Indonesia 11-15 Juli 2007 di Jakarta Convention Center. Pameran ini pertama kali dilakukan pemerintah dalam rangka proteksi produk asli Indoensia dari para pencontek yang mengklaim barang tersebut asal negaranya.
(arn/qom)











































