Takut Masuk Surga Terakhir, Orang Kaya Ini Justru Ingin Jadi Miskin

Kisah Inspiratif

Takut Masuk Surga Terakhir, Orang Kaya Ini Justru Ingin Jadi Miskin

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kamis, 19 Feb 2026 04:00 WIB
Takut Masuk Surga Terakhir, Orang Kaya Ini Justru Ingin Jadi Miskin
Ilustrasi sahabat nabi Abdurrahman bin Auf/Foto: Getty Images/GN STUDIO
Jakarta -

Banyak orang mengejar kekayaan agar hidup terasa aman dan cukup. Namun bagi Abdurrahman bin Auf, harta justru menjadi sumber kegelisahan. Ia bukan takut miskin, melainkan khawatir kekayaannya membuatnya masuk surga paling terakhir.

Abdurrahman bin Auf lahir dari seorang ibu bernama Shafiyah, sedangkan ayahnya bernama Auf bin Abdu Auf bin Abdul Harits bin Zahrah. Ia adalah salah satu sahabat Nabi yang dikenal kaya raya, tetapi gemar bersedekah. Abdurrahman bin Auf pernah menangis sedih karena terlalu banyak harta.

"Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya sehingga hisabnya paling lama. Mendengar hal tersebut, Abdurrahman bin Auf pun berpikir keras bagaimana caranya agar ia kembali menjadi miskin supaya dapat memasuki surga lebih awal," tutur sebuah riwayat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam upayanya jatuh miskin, Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan separuh hartanya pada masa Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia kembali bersedekah sebanyak 40.000 dinar, yang sebagian besar hartanya diperoleh dari hasil perdagangan.

Suatu hari, salah satu kaum Anshar bernama Saad yang dikenal sebagai orang kaya di Madinah menawarkan sebagian hartanya kepada Abdurrahman bin Auf. Namun, tawaran tersebut ditolak. Ia justru bertanya tentang lokasi pasar di Madinah.

ADVERTISEMENT

Setelah ditelusuri, harga sewa pasar di Madinah saat itu sangat mahal. Banyak orang ingin berdagang, tetapi tidak memiliki modal besar untuk menyewa tempat. Melihat peluang tersebut, Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan menjadikannya sebagai kavling-kavling pasar.

Kavling-kavling tersebut dibangun dan digunakan oleh para pedagang Muslim tanpa dipungut biaya sewa. Ia menerapkan sistem bagi hasil yang lebih adil, sehingga tidak memberatkan para pedagang yang masih merintis usaha.

Diriwayatkan, Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan 200 uqiyah emas-satu uqiyah setara dengan kurang lebih 31 gram-untuk memenuhi kebutuhan logistik selama Perang Tabuk. Saat Rasulullah SAW menyerukan infak, ia tidak pernah ragu untuk mengeluarkan hartanya.

Begitu pula saat Perang Badar. Abdurrahman bin Auf memberikan santunan sebesar 400 dinar kepada masing-masing veteran. Ia juga tercatat menyumbangkan 40.000 dinar, 500 ekor kuda, dan 1.500 ekor unta untuk para pejuang.

Tidak hanya itu, ia pernah membeli kurma yang hampir busuk dari para sahabat di Madinah. Para pedagang pun gembira karena kurma mereka dapat terjual. Sementara Abdurrahman bin Auf berharap dengan sedekah itu dirinya bisa jatuh miskin.

Namun, tiba-tiba datang seseorang yang mengaku sebagai utusan dari Yaman. Ia mengabarkan bahwa negerinya tengah dilanda wabah penyakit menular, sehingga rajanya mengutusnya untuk mencari kurma busuk.

Menurut utusan tersebut, kurma busuk dipercaya dapat menjadi salah satu obat untuk penyakit menular itu. Akhirnya, seluruh kurma milik Abdurrahman bin Auf diborong dengan harga sepuluh kali lipat dari harga kurma biasa.

Kedermawanannya tidak membuat Abdurrahman bin Auf jatuh miskin. Sebaliknya, kehidupannya justru semakin meningkat. Keberhasilannya dalam bisnis membuatnya dijuluki sebagai "tangan emas" karena apa pun yang dikerjakannya selalu membuahkan hasil besar.

Di saat Abdurrahman bin Auf merelakan hartanya agar menjadi miskin, pada saat yang sama Allah memberikan limpahan rezeki berkali-kali lipat kepadanya. Ia wafat pada usia 72 tahun dan termasuk dalam deretan sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga.

Bagi Abdurrahman bin Auf, warisan terbaik yang ditinggalkan untuk keluarganya bukanlah harta atau kekayaan, melainkan ajaran Islam dan teladan dari Rasulullah SAW. Semoga kita dapat meneladani sifat Abdurrahman bin Auf, ya detikers.

Simak juga Video 'BPS Rilis Data Ketimpangan, Jurang Si Kaya-Si Miskin Masih Lebar':

(fdl/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads