Bagaimana prospek pasar finansial di tahun 2009? Berikut wawancara dengan Presdir PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Kahlil Rowter di Jakarta, Rabu (17/12/2008).
Apakah aliran dana asing yang mulai ke Indonesia masih hot money sifatnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara investor lokal kalau beli hanya Rp 20 miliar, jadi kalau asing beli dampaknya besar ke pasar kita. Karena itu orang selalu tunggu bule datang dan bikin heboh kemudian harga naik. Itulah mentalitas trade.
Seharusnya seperti apa?
Untuk investasi kita jangan lihat seperti tadi itu, tapi harus melihat fundamental value yang naik. Jadi saya yakin saat ini emerging market seperti Indonesia dan lainnya justru memberikan return yang tinggi. Karena pertumbuhan ekonomi global yang diprediksikan di 2009 sebesar 2% ditopang oleh emerging market, artinya di emerging market perusahaan masih untung dan harga sahamnya masih naik.
Sementara negara maju resesi karena pertumbuhan ekonomi negatif, perusahaan rugi dan harga sahamnya turun. Jadi perpindahan dana ke emerging market masuk akal. Sekarang ini aliran dana tersebut belum masuk karena takut akibat krisis ini. Begitu krisis mereda, dana akan kembali, saya yakin sekali.
Sekarang banyak permintaan di US treasury, dampaknya terhadap SUN pemerintah?
Ini memang sempat menurunkan harga SUN sekitar 30-40% turunnya, yield-nya juga sampai 17%. Tapi sekarang itu sudah mereda, bahkan tekanan jual SUN tidak ada lagi, malah mereka sudah mulai masuk lagi. Tapi hedge fund ini kita tidak tahu akan muncul lagi atau tidak. Hedge fund ini muncul karena ada investor yang berani ambil risiko tinggi. Tapi saat ini appetite risiko investor sudah moderat untuk mencari return di emerging market.
Untuk rencana pemerintah terbitkan SUN baik domestik maupun internasional tahun depan, apakah kesempatannya masih ada?
Untuk SUN rupiah investor masih berani masuk, karena kepercayaan terhadap pemerintah kita masih ada. Tapi mereka masih takut beli SUN dolar kalau-kalau dolarnya melemah. Mungkin SUN rupiah mengguntingkan saat ini. Jadi pemerintah harus mempertimbangkan ini, namun pemerintah masih punya kebutuhan dolar, jadi dia harus terbitkan SUN dolar.
Untuk obligasi global pemerintah kabarnya sudah tunjuk 7 penjamin emisi, kira-kira bagaimana?
Pasar global bond sampai saat ini belum memperlihatkan tanda-tanda kehidupan, bukan hanya di Indonesia tapi semua termasuk korporasi. Jadi mungkin yang akan dilakukan oleh 7 underwritter global bond ini mereka akan masuk ke pasar-pasar yang non tradisional misalnya sovereign wealth fund dari Timur Tengah, China dan sebagainya. Kedua lewat private banking community karena mereka duitnya masih banyak, kemudian juga bisa lewat bilateral seperti IFC, World Bank dan lainnya. Itu dilakukan pemerintah Indonesia, jadi pemerintah sepertinya akan issue SUN dolar dan mencari tempat non tradisional.
Kalau untuk sukuk global?
Ternyata kondisi likuiditas di Timur Tengah tidak menggembirakan juga, karena begitu harga minyak turun sampai di bawah US$ 50 per barel, likuiditas di Dubai dan sebagainya turun juga. Tapi kalau pemerintah untuk sukuk global hanya menerbitkan sekitar US$ 1 miliar masih bisa diserap, apalagi ini instrumen baru, mungkin masih menarik.
Untuk obligasi korporasi Rp 10 triliun yang siap diluncurkan di 2009?
Itu domestik rupiah, dari bank ataupun finance company atau sektor riil. Dari sisi demand masih ada kesempatan, untuk dana pensiun bisa menyerap sekitar Rp 5 sampai 10 triliun di SUN. Di bank juga masih ada sekitar Rp 75 triliun yang bisa diletakkan di SBI, SUN atau corporate bond. Tapi untuk obligasi tadi tinggal masalah timing, karena suku bunga saat ini.
Tapi prospeknya tidak separah yang diduga kok.
Untuk makro kita di 2009?
Makro memang melambat, tapi orang toh masih bisa konsumsi kebutuhan sehari-hari, jadi kehidupan jalan terus, jadi dengan krisis ini kita bukan berarti kiamat.
Kalau prospek sukuk ritel?
Besar potensinya, karena return yang ditawarkan tinggi. Orang juga lihat dari keamanan, sukuk lebih aman dari SUN konvensional karena dia ada jaminannya, tuh Gelora Bung Karno, kalau ada apa-apa ada jaminannya. Kalau SUN konvensional jaminannya kan hanya tanda tangan menteri atau foto presiden.
(dnl/qom)











































