Sejak wacana ini disampaikan, Dahlan Iskan yang menjabat Direktur Utama PLN sejak23 Desember 2009, berusaha memenuhi janji yang sudah dilontarkannya.
Seluruh skenario disiapkan. Mulai dari membeli kelebihan daya listrik (excess power) dari perusahaan lain, memperbaiki genset-genset milik perseroan yang sudah rusak, sampai menyewa genset dari Dubai, opsi terakhir yang akan dipilih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dahlan menjamin ajang piala dunia yang berlangsung mulai 11 Juni- 11 Juli bisa dinikmati penuh. Penggunaan listrik dalam jumlah besar selama sebulan itu tak akan membuat pemadaman bergilir lagi.
"Banyak teman-teman panik. Tapi saya bilang tenang saja," kata mantan CEO Grup Jawa Pos ini.
Bahkan, ia juga berjanji langkah-langkah darurat untuk mengatasi byar-pet hanya berlangsung hingga Juni 2011. Setelah itu, pasokan listrik di tanah air akan stabil seiring beroperasinya sejumlah proyek pembangkit, transmisi, serta distribusi listrik di tanah air. Dengan begitu, opsi sewa genset pun akan ditinggalkannya.
Bagaimana dan apa rencana PLN untuk mewujudkan ambisinya itu? Kepada detikFinance yang menemui di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jumat (11/6/2010) pekan lalu, Dahlan memaparkan kemajuan langkah yang telah ditempuh PLN.
Bagaimana ceritanya tiba-tiba muncul wacana 30 Juni 2010, Indonesia bebas pemadaman bergilir?
Saya ini orang yang suka keliling Indonesia. Dari kota kecil sampai kota besar. Di mana pun, keluhannya soal listrik. Waktu itu terlintas dalam pikiran saya, kapan ya ini bisa berakhir, masak Indonesia tidak bisa atasi ini. Padahal listrik kebutuhan yang basic.
Sebetulnya orang-orang di daerah seperti itu (daerah krisis listrik) tidak mempermasalahkan harga. Yang penting ada listrik. Mau berapapun harganya pasti dibeli.
Contohnya di Tarakan, waktu saya ke sana luar biasa krisisnya. Rakyat di sana terlalu sering beli lilin. Perhitungan saya, pengeluaran beli lilin selama sebulan melebihi rekening listrik setiap bulan. Di sana juga terlalu sering kebakaran karena lilin. Bayangkan: gara-gara listrik mati, rumahnya hilang karena kebakaran. Saya pikir ini tidak sehat. Tidak masuk akal. Masa Indonesia yang lumbung energi bisa seperti itu?
Lalu ide 30 Juni itu dicetuskan kapan? apa waktu bertemu presiden atau bagimana?
Presiden bilang tahun ini krisis listrik harus berakhir. Belakangan Presiden bilang Oktober. Saya pikir kok lama banget. Lalu saya hitung-hitung, sebenarnya 30 Juni bisa selesai. Menurut saya, sesuatu itu harus dipaksakan, tidak ada barang yang tidak dipaksa bisa maju. Wartawan itu maju karena dipaksa jam 12 malam harus deadline. Karena itu kenapa disebut deadline, itukan taruhannya mati.
Kenapa memilih 30 Juni 2010?
Karena enam bulan masa jabatan saya sebagai Dirut PLN.
Apakah rencana ini terlalu nekat? Apalagi anda adalah orang baru di PLN?
Bagi orang yang biasa kerja keras, itu tidak nekat. Lagipula seperti saya sampaikan, sesuatu itu memang harus dipaksakan.
Saya kumpulkan semua Direktur mulai dari Direktur Operasi Jawa-Bali, Direktur Operasi Indonesia bagian Barat dan juga Indonesia Bagian Timur. Siapa bisa tanggal berapa? Mereka dikasih waktu. Mereka harus rapat dengan general manager di wilayahnya. Mereka juga harus ke lapangan, kemudian rapat. Kami bikin perencanaan. Banyak yang menawar jangan 30 Juni. Saya bilang tidak bisa, tetap harus selesai tanggal segitu.
Akhirnya diputuskan tiga cara. Pertama, membeli kelebihan daya listrik (excess power). Kami harus tahu dimana dan berapa besar ada excess power dan harus ada tim yang menggerilya excess power ini. Timnya ada di masing-masing wilayah. Kedua, genset yang mati itu ada berapa? Kami identifikasi berapa banyak yang rusak dan penyebabnya. Kalau tidak bisa diperbaiki kita ambil opsi ketiga yaitu menyewa genset dari pihak lain.
Soal sewa ini, saya betul-betul ditolong Olimpiade Beijing, China. Waktu olimpiade Beijing, meskipun listrik di-set-up luar biasa hebat, mereka tetap butuh genset. Ada seribu genset, masing-masing satu megawatt (MW). Gensetnya baru semua dan belum pernah dipakai karena Olimpiadenya lancar. Itu semua disewa murah sekali.
PLN ambil dari sana?
Kami ambil dari orang yang suplai Beijing. Nah karena tidak dipakai kan genset itu balik lagi ke dia.
Memang lebih murah daripada kita sewa genset di Indonesia?
Dibanding genset kita sendiri, sewa ini lebih murah. Di Makasar, kami punya genset besarnya 30 MW. Kalau kami jalankan sendiri butuh Rp 2.200 per Kwh. Tapi dengan menyewa, hanya bayar Rp 1.700 per Kwh. Kenapa yang punya kita lebih mahal? Karena mesin tua. Genset sewa ini baru, jadi lebih efisien. Istilahnya, seperti punya mobil tua, boros sehingga pengeluaran per bulannya sekitar Rp 1 Juta. Kemudian anda naik taksi, itu cuma Rp 800 ribu. Tentu lebih milih naik taksi.
Rp 1.700 per KWh itu sudah termasuk bahan bakar dan ongkos kirim?
Sudah termasuk semuanya. Kita cuma tinggal pakai semua.
Tidak takut ambil genset dari China, karena barang China kan terkenal gampang rusak?
Bukan dari China. Gensetnya memang bekas Olimpiade yang tidak dipakai. Tapi kembali dikumpulkan semua di Dubai karena itu milik perusahaan asal Dubai. Lagipula mesinnya dari Amerika.
Apa PLN berencana untuk menyewa semua genset itu?
Tidak. Tergantung kebutuhan masing-masing wilayah saja. Butuhnya berapa? Silakan disewa. Tapi ini baru diambil setelah excess power, setelah genset rusak diperbaiki. Kalau betul-betul masih kurang baru sewa ini.
Apa untuk pemasok genset ini, PLN menunjuk langsung atau lewat tender?
Semua perusahaan penyewaan genset kami libatkan dalam tender. Perusahaan Dubai itu juga ikut tender. Tapi tendernya, di masing-masing wilayah. Rencananya, 80 % dari sana karena kami perlu banyak sekali dan di sana itu gensetnya baru. Lagipula, kontraknya hanya enam bulan. Jika genset milik PLN sudah selesai diperbaiki, maka kontraknya bisa diputus.
Kalau untuk pembelian excess power sendiri sekarang progresnya sudah sejauh mana?
Kalau untuk excess power sekarang sudah 170 MW di seluruh Indonesia. Tapi paling banyak di Sumatera karena di sana banyak pabrik kelapa sawit yang punya kelebihan daya. Jadi kami beli itu.
Targetnya berapa besar?
Dulu pernah ada target 600 MW. Tapi setelah dihitung ulang tidak segitu. Paling 300 MW. Tapi ada banyak kesulitan, karena ada yang minta harga lebih mahal rata-rata Rp. 900 per kwh.
Tapi kan lebih murah daripada PLN sewa genset?
Untuk itu, sewa genset akan kami jadikan opsi terakhir.
Lalu untuk perbaikan genset sendiri sudah sejauh mana?
Yang PLN sendiri terkumpul 80 MW. Misalnya, di Ambon itu ada genset 5 MW yang dulu retak dan sekarang bisa diperbaiki. Di Palu, Poso, Manado itu ada 30 MW. Umumnya genset-genset itu rusak karena sistem pendingin airnya rusak. Ini bisa ditarik pelajaran, dulu suplai air untuk pendingin kurang diperhatikan.
Dengan langkah-langkah ini berarti pemakaian bahan bakar minyak akan melonjak seiring banyaknya genset yang digunakan. Berapa besarnya?
Berdasarkan perhitungan kami, 400 ribu kilo liter per tahun. Kalau sekarang setengah tahun berarti setengah-nya yaitu 200 ribu KL
30 Juni kan sebentar lagi. Tinggal hitungan hari. Kita juga tidak bisa memprediksi jika tiba-tiba saja pasokan batubara atau gas ke pembangkit terhenti. Bagaimana Anda mengantisipasi hal ini?
Sebaiknya dibedakan Jawa-Bali, Indonesia barat dan timur karena sistemnya berbeda. Yang begitu-begitu ancam Jawa Bali karena bebannya tinggi. Jawa-Bali sudah dihitung. Sekarang ini, dayanya sudah kelebihan 2 ribu MW. Tapi karena pembangkit itu harus ada yang mati karena ada pemeliharaan atau karena pasokan batubaranya ada masalah. Beberapa waktu lalu, PLTU Labuan ada masalah. Tapi beda sama dulu, waktu PLTU Tanjung Jati B pasokannya kurang, hebohnya luar biasa. Kalau sekarang kan tidak karena mati satu masih ada yang lain.
Masalahnya kan tidak hanya di pembangkit, tapi juga transmisi dan distribusi juga masih kurang. Percuma pasokan listrik banyak dari pembangkit tapi tidak bisa disalurkan karena distribusi dan transmisinya kurang?
Sebenanya sama-sama rawan karena pembangkit banyak yang tua, yang baru juga masih alami baby sick kaya PLTU Labuan
Kalau untuk transmisi keandalannya berapa persen?
Kita bedakan Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali. Bali itu paling tidak bermasalah distribusinya. Dia (Bali) bermasalah pembangkitnya, pasokannya tidak cukup.
Untuk Jawa Timur, kira-kira keandalannya sudah 80 persen, Jateng 80 persen, Jabar kira-kira 75 persen, dan Jakarta 60 persen. Jadi justru yang paling berisiko itu Jakarta. Sementara beban di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi terus bertambah. Tapi di sini nanti mulai baik sekitar bulan Oktober. Karena kami beli beberapa trafo IBT yang pemasangannya sudah selesai bulan Oktober.
Sambil tunggu Oktober, pada bulan Juli kami pasang kapasitor untuk naikkan tegangan. Kapistor itu kami pindahkan dari Cilacap yang di sana tak nganggur. Sehingga kita tidak perlu investasi, hanya bangun sarana yang mendukung.
Kalau dikalkulasikan, kira-kira sudah berapa persen persiapan?
Yang disebut bebas padam itu sama dengan bebas pemadaman bergilir. Sekarang tinggal satu wilayah yang belum selesai yaitu Lombok. Saya akan ke sana sebagai penutup pada 30 Juni.
Mulai 11 Juni hingga 11 Juli 2010, ada piala dunia. Apa Anda tidak khawatir ada pemadaman karena konsumsi listrik akan melonjak? Kalau ada pemadaman berarti rencana ini bisa dinilai gagal?
Banyak teman-teman panik karena piala dunia dimulai 11 Juni-11 Juli 2010. Sedangkan deadline-nya 30 Juni. Saya bilang tenang saja, karena piala dunia itu di Afrika, dan di sana pertandingannya sore. Kalau di sana sore, di sini menjelang tengah malam sekitar jam 11 malam. Kalau jam segitu kan beban puncak jadi turun.
Beban puncak pada pukul 4 sore sampai 9 malam. Saat itu orang lagi perlu listrik. Kalau ada pemadaman bergilir, akan sangat terasa sekali. Tapi kalau jam 11 malam, saya yakin pasokan listriknya aman.
Tapi tidak mungkin kita terus-terusan pakai cara darurat untuk atasi pemadaman bergilir? Apa PLN siap kan langkah-langkah yang lebih permanen?
Yang penting kerja itu tidak boleh panik. Harus tenang. Pemadaman-pemadaman yang ada di Indonesia bikin panik dan tidak bisa berpikir tenang. Yang penting, panik hilang setelah itu kami pikirkan yang terstruktur dan terencana dengan baik.
Kami punya program 140 PLTU kecil dengan total 800 MW. Itu semua ditargetkan selesai 2012. Kemudian ada 10 ribu MW tahap pertama. Tahun depan banyak yang selesai. Tahun ini saja sekitar 3.400 MW. Tahun depan bisa selesai 6.800 MW. Saya menganggap ini terlalu lama. Karena itu dua minggu lalu saya putuskan membangun pembangkit listrik gas barubara. Tahun depan sudah bisa beroperasi. Total kapasitasnya sekitar 400 MW dan tersebar di seluruh daerah.
Misalnya, di Palu kami masih sewa genset. Nanti kalau ada ada PLTGB 20 MW, sewanya berkurang. Di Toli-toli 5 MW, Mamuju ada 10 MW. Di Lombok dan Manado, totalnya 400 MW. Ini yang akan gantikan dulu sampai semua pembangkit beroperasi.
Tujuannya pertama gantikan sewa genset, turunkan biaya, dan ketiga sebetulnya untuk melepaskan kejengkelan PLN karena kami mengais-ais gas tapi tidak dapat-dapat. Ya sudah bikin saja gas sendiri. Jadi cara darurat hanya 1 tahun. Mulai Juni tahun depan, kami tidak akan andalkan sewa genset lagi, tapi PLTGB.
Itukan baru bebas pemadaman bergilir untuk para pelanggan listrik PLN, tapi di satu sisi ada juga masyarakat yang masih belum nikmati listrik, Nah yang ini bagaimana?
Sekali lagi harus dibedakan Jawa dan luar Jawa. Cara berpikirnya tidak boleh nasional karena masalahnya berbeda. Saya selalu bedakan supaya bisa berpikir fokus, jangan dianggap Indonesia ini merata.
Di Jawa itu, Oktober bisa kami layani besar-besaran. Dari sisi daya, Oktober nanti kami bisa salurkan 1.500 MW tambahan baru dari proyek 10.000 MW tahap I, yang akan segera beroperasi seperti PLTU Rembang, Suralaya, Indramayu, Paiton sehingga ada tambahan 1.500 MW. Tapi itu tidak bisa disalurkan kalau tidak ada tranmisi. Kenapa kami targetkan Oktober? Karena pada bulan in pemasangan 6 trafo IBT dan 6.000 trafo distribusi selesai.
(epi/qom)











































