Belum lama menahkodai bea cukai, pria kelahiran 29 Maret 1967 ini, sudah diterpa berbagai kasus penyelundupan yang diduga adanya kerjasama antara importir dengan oknum anak buahnya.
Sebagai contoh kasus penyelundupan dua kontainer BlackBerry. Meskipun Agung kini mengaku sibuk 'bersih-bersih' agar isu penyakit KKN, tidak lagi menerpa instansi yang mengurusi penerimaan negara melalui pabean dan cukai itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana pembenahan tubuh DJBC atas praktik KKN yang menjadi isu selama ini?
Orang itu memang paling senang men-stereotype-kan, kalau ditjen bea cukai dan pajak itu gudangnya KKN. Padahal mereka juga tidak pernah melakukan evaluasi ke tempat-tempat lain, apakah betul kita lebih jelek atau lebih bagus. Tapi intinya begini, saya sebagai dirjen yang baru mendapatkan amanah dari pimpinan untuk membawa DJBC menjadi lebih baik.
Salah satu yang saya lakukan pertama kali, seperti yang telah saya sampaikan dulu, konsolidasi internal, konsolidasi ini dimulai dengan menguatkan integritas, itu yang saya sedang dan akan terus jalankan.
Integritas ini menurut saya ini adalah sumber atau pondasi dari pergerakan organisasi. Jadi bagi saya pondasi yang harus dibangun dalam menjalankan organisasi adalah integritas dari SDM-nya, itulah yang saya bangun saat ini. Untuk membangun integritas, itu harus dimulai dari pimpinannya.
Untuk itulah, saya tidak mau berlebih-lebihan, tidak mau neko-neko, saya mencoba diri saya menguatkan integritas saya dulu, kemudian ini saya tularkan kepada bawahan-bawahan saya di eselon II, eselon II nanti saya harapkan menularkan ke eselon-eselon dan pegawai di bawahnya.
Saya berharap dengan top down seperti ini, bea cukai akan menjadi institusi yang kuat karena tidak hanya memerintahkan integritas di bawah tapi di atasnya lemah tetapi seluruh jajaran mempunyai komitmen yang sama untuk membangun organisasi yang kuat, bermartabat, bersih, bebas KKN, dan berwibawa.
Bentuknya seperti apa untuk menerapkan integritas tersebut?
Pertama adalah semua anggota organisasi berkomitmen untuk menjadikan integritas ini nomor satu, kita buat pakta integritas, seluruh pegawai menandatangani pakta integritas, jadi dia berkomitmen tidak boleh macam-macam, tidak boleh KKN.
Kedua, mereka menandatangani kontrak kinerja, jadi sudah ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang mereka harus mencapai hasil yang maksimal, ini untuk internal.
Eksternalnya, kami mengajak kepada para stakeholder kita, teman-teman sejawat kita, untuk bersama-sama membangun integritas ini dengan mengadakan deklarasi antikorupsi, seperti di Bandara Soekarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok, di Bandara Djuanda, lalu di tempat-tempat lain, kita ajak teman-teman dari Kepolisian, instansi teknis, semua yang berkaitan dengan pekerjaan kepabeanan dan cukai kita ajak bersama-sama untuk mempunyai paradigma yang baru bahwa kita ini melayani masyarakat yang betul-betul harus menjaga integritas.
Jadi menurut saya yang paling penting integritasnya dulu. Karena apa? Karena soal kemampuan teknis, saya yakin pegawai saya sudah handal-handal, canggih-canggih. Jadi kalau kemampuan teknis, saya yakin kita mampu, tinggal untuk membersihkan diri sendiri.
Jadi prinsipnya sederhana sekali, kalau mau menyapu lantai supaya bersih maka sapunya harus bersih dulu. Jadi kalau mau membersihkan organisasi, diri kita harus bersih dulu, nanti akan berkembang ke pegawai menjadi bersih, akhirnya organisasi menjadi bersih.
Β
Dengan tindakan tersebut, apakah Anda bisa menjamin tidak ada lagi praktik KKN dan penyimpangan yang dilakukan pegawai DJBC?
Apakah itu bisa menjamin zero corruption? Jawabannya pasti tidak menjamin. Orang sudah haji saja apakah sudah terjamin bersih dari dosa, jawabannya pasti tidak menjamin. Tetapi, kalau tidak ada niat yang baik, maka lebih tidak terjamin lagi. Jadi, itu merupakan komitmen, komitmen ini kemudian diikuti oleh proses pengawasan secara melekat.
Jadi ini step kedua. Di Bea Cukai, itu sudah unit kerja yang bernama unit kerja Kepatuhan Internal, Kepatuhan Internal ini tugasnya mengawasi para pegawai sendiri, apakah sudah melaksanakan tugasnya sesuai SOP, sesuai dengan kode etik. Selain seklarasi tadi, kita juga sudah punya kode etik yang menjadi dasar kita bekerja.
Kembali lagi ke unit kepatuhan internal, di Eselon II, itu sudah ada Pusat Kepatuhan Internal (Puski), itu di kantor pusat. Kalau di Kanwil, itu ada Kepala Bagian Umum dan Kepatuhan Internal (Kabuki), nanti di Kantor Pengawasan juga punya unit Kepatuhan Internal. Jadi, sudah tiap strata sudah memiliki unit kepatuhan internal sendiri-sendiri.
Langkah ketiga, sudah ada prosedur mengenai pelanggaran disiplin, di kepegawaian itu ada PP 53, dulu PP 30 , tentang kode etik dan pelanggaran disiplin pegawai. Jadi di situ sudah ada sanksi apa saja jika melanggar, mulai dari ringan sampai berat. Puski inilah yang akan menggondok kalau ada yang melanggar, sebatas mana hukuman yang harus ditegakkan.
Β
Yang terberat apa? Dan karena apa?
Terberat itu dipecat, kalau kesalahannya misalnya suap-menyuap, melakukan KKN, terutama itu karena telah melakukan pengkhianatan terhadap organisasi, pengkhianatan terhadap teman sejawat, dan terutama pengkhianatan terhadap bangsa dan negara.
Kita ini masuk pegawai negeri kan disumpah, kalau dilantik kan disumpah lagi, masa bolak-balik disumpahin masih tidak menjalani sumpahnya, tapi itu ada kategorinya, prosedur tetapnya, tapi tidak bisa saklek, itu ada timnya, komitenya, karena kita menghukum orang tidak boleh sewenang-wenang, jadi sudah ada komite khusus yang menyatakan ini berat, sedang, atau ringan, dan seterusnya.
Terkait penyelundupan, bagaimana bisa pihak Bea Cukai tidak mengetahui kontainer-kontainer selundupan? Apakah ada sistem yang membantu terjadinya penyelewenagan itu?
Katakan lah kontainer di Tanjung Priok, sehari ada berapa kontainer, ada 2500-an. Jadi terlihatnya kontainer itu besar, tapi kalau sudah masuk di Tanjung Priok, kontainer itu bergeraknya cepat dan masuk langsung langsung 2500-an sehari, dan hal itu memang tidak mudah. Kedua, potensi selalu ada, sepanjang manusia dikelilingi dengan rasa tamak maka kemungkinan-kemungkinan itu akan selalu ada.
Saya tidak menjamin dengan integritas itu bebas dari penyelewengan, tapi paling tidak mencegahnya pasti, kalau terjadi sesuatu menanggulanginya pasti, tapi apa mungkin tidak kembali lagi, itu tergantung ke nurani. Pertanyaan sederhana adalah sekarang kan bulan Puasa, tapi apa yakin tidak ada yang nakal? Ya tidak tentu juga, tidak ada yang bisa menjamin itu.
Jadi, yang paling penting bagi kita adalah satu, kita meyakini para pegawai kita menjaga integritasnya. Kedua, kita menempatkan pegawai pada posisi yang sesuai kemampuan dan juga dengan kadar integritasnya. Kalau ada pegawai yang sudah terindikasi hal-hal seperti itu, dia tidak akan ditempatkan di tempat strategis supaya tidak terjadi usaha membuat penyelewengan tersistem. Yang ketiga, tentu dengan adanya profiling ini sangat perlu supaya mencegah dari awal apakah orang ini berniat baik atau buruk.
Profiling ini kita punya track record dari importir. Yang jadi masalah adalah kadang-kadang ada intervensi dari pihak lain, intervensi ini banyak lah, di Tanjung Priok ini kan bukan hanya Bea Cukai, ada 30 institusi baik pemerintah maupun swasta. Jadi, kejadian-kejadian seperti itu, kemungkinan bisa terjadi.
Hanya prinsipnya di Bea Cukai, kalau kami tahu ada kenakalan pegawai kami maka akan cepat kami tindak. Kalau kemudian kita tindak tapi kemudian hilang, makanya sekarang ini saya berkoordinasi dengan KPK. KPK ini kan bisa menciduk baik eksternal maupun internal. Dengan kerjasama ini kami ingin menunjukkan bahwa kami tidak punya niat mewarisi kondisi-kondisi zaman Jahiliyah itu.
Hanya memang sekarang ini kalau bergerak baik sendirian mempunyai tantangan yang berat, kalau yang lain tidak ikut. Makanya, ini step by step, Alhamdulillah teman-teman sejawat sudah mau berkomitmen untuk bebas KKN.
Itu merupakan langkah yang luar biasa, mengajak teman-teman sejawat untuk sama-sama tandatangan deklarasi anti KKN, menurut saya luar biasa karena berarti kita sudah punya komitmen yang bagus, kalau nanti ada masalah di lapangan, maka kita dengan mudah bisa mengatakan bahwa itu tidak boleh, kita harus menuju ke seperti ini.
Jadi, saya tidak mau takabbur apa yang saya lakukan saat ini akan mampu meredam semua kelemahan itu karena kelemahan itu sumbernya dari manusia, dari sifat tamak manusia. Kalau sifat tamak ini bertemu dengan kekuasaan maka akan menjadi faktor korupsi yang sangat besar. Jadi yang paling penting bagi saya bagaimana pegawai-pegawai saya menutupi atau menghilangkan sifat-sifat itu.
Kita sudah mendapatkan anugerah yang luar biasa menjadi pegawai Bea dan Cukai, sudah bisa hidup dengan layak, kalau katakan bisa kaya, itu sangat relatif. Pegawai saya banyak yang kehidupannya masih di bawah standard kelayakan kalau dikatakan kaya, atau makmur, atau nyaman, tapi saya ingin itu jangan dijadikan alasan kemudian dia melakukan pelanggaran.
Karena saya kembali kepada prinsip dasar hidup, apa enak menafkahi anak istri dan keluarga dengan hasil yang tidak halal. Apa enak nama baik jadi rusak, kehidupan terkekang, toh yang didapatkan hilang lagi karena harus dikembalikan.
Β
Kalau tidak ketahuan kan tidak ada masalah?
Nah itu, jadi itulah yang saya sebut integritas. Jadi integritas itu kalau bahasa Arabnya Ihsan. Ihsan itu kan kalau kita bekerja tahu, jadi tidak perlu diawasi kalau kita bekerja secara benar, kita tahu kita selalu diawasi, di sini saja di awasi, apalagi diawasi oleh Yang buat Kita. Jadi jangan berpikir orang nanti tidak tahu.
Intervensi tadi maksudnya apa?
Intervensi ini kan contohnya orang bertepuk pasti kedua tangan, kalau kita sudah diam, tapi pihak lain akan mengintervensi terus, merayu maka bisa terjadi KKN itu. Intervensi bukan hanya dari orang-orang besar, justru melambai-lambaikan dolar, itu godaan yang luar biasa bagi kita.
Bagi kami sekarang, kami kerja sesuai aturan, doakan bahwa ini mendapatkan support dari teman-teman dan stakeholder yang lain. Tantangan pasti ada.
Mengapa selalu ada isu terkait Bea Cukai dan KKN?
Orang yang punya kepentingan tidak ingin bea cukai baik, karena kalau BC baik mereka tidak bisa main, kalau tidak main, dapurnya tidak ngebul, jadi supaya dapurnya ngebul, bea cukai dapat tekanan sehingga dapat citra jelek, sehingga pada titik akhir bea cukai nyerah, mau baik atau tidak sama saja, tapi kami tidak akan menyerah, kita kuat. Jadi jangan stereotype kami, memang dulu dianggap trade mark KKN ada, tapi selalu kita berusaha untuk mengubah itu, tapi tolong dukung kami, tolong anak-anak diberikan berita yang berimbang, bukan baik, tapi berimbang.
(nia/hen)











































