Kelangkaan daging sapi belakangan ini ramai dikeluhkan para pelaku usaha. Dunia usaha beranggapan pemangkasan kuota impor daging tahun ini berperan besar terhadap penyebab daging langka sehingga harganya naik tajam.
Pemerintah melalui Menteri Pertanian Suswono membuka diri untuk menambah kuota impor daging sapi, asalkan dipastikan kalau pasar dalam negeri kekurangan daging.
Suswono mengaku masalah tak efisiennya distribusi daging lokal dari sentra-sentra produksi ke pusat pasar masih menjadi kendala, sehingga pasokan daging lokal belum maksimal untuk menutupi dipangkasnya daging impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut ini wawancara detikFinance dengan Mentan Suswono, saat ditemui di kediamanya Jl Widyacandra, Jakarta, Selasa malam (10/7/2012)
Bisakah kita swasembada daging dalam waktu dekat dan Indonesia bebas dari impor daging?
Walau swasembada maksimal impor masih ada tapi maksimal 10%, karena seperti daging sapi tetap ada industri yang butuhkan bahan bakunya dari impor. Jadi tidak bisa kita larang sama sekali.
Bukankah populasi sapi kita sangat banyak dari hasil survei tahun lalu, lalu kenapa pelaku usaha protes daging kurang?
Setidaknya sekarang ini kenapa peternak ini kemarin kurang bergairah karena tekanan impor yang begitu berat. Sehingga harga bobot hidup sapi murah. Dengan pangkas impor naik.
Ketika saya mulai jadi menteri, kalkulasikan jumlah sapi bakalan + daging masih impor 900.000 ekor bahkan 1 juta. Mulai tahun pertama 2010, importasi daging sapi masih 120.000 ton daging + 600.000 ekor sapi bakalan.
Kemudian tahun 2011 impor daging sapi hanya 90 .000 ton daging, sapi hidup 400.000. Sekarang tahun 2012 daging bekunya 34.000 ton sapi bakalannya 283.000 ekor bakalan.
Dengan begini, kita menurunkan ini dengan ada datanya yang ada memungkinkan sapi yang ada lokal mengcakup 80% dari kebutuhan daging sapi di dalam negeri, makanya 17,6% impor saja. Kalaupun ada tambahan impor untuk industri mudah-mudahan tidak lebih dari 20%.
Sekarang ini mengangkat harga di peternak, harganya bagus, dulu pembeli bisa pilih seenaknya, karena petani sudah tahu harganya sudah baik kalau dulu terpaksa. Saya yakin blantik-blantik (pedagang) yang memainkan harga karena harga daging naik, bobot sapinya kok malah turun, alasannya karena impornya banyak.
Nah kalau sekarangkan tidak ada alasan, targetnya 2014 impor tinggal 10%, kalau sekarang tinggal 20% mudah-mudahan tahun depan bisa dikurangi hanya 15%, jadi 2014 jadi 10%.
Kesannya pemerintah mengendur untuk tambah kuota impor karena ada demo kamarin?
Bukan, kita belum ada keputusan, keputusannya minggu depan oleh menko. Rapatnya kan di menko. Kemarin itu (demo) banyak yang demo tidak tahu masalah, karena mereaka tidak ngerti. Saya minta perwakilan tidak ada yang berani, bos-bosnya baru belakangan.
Jatim sapinya banyak. impor ini untuk hotel, restoran dan ketering. impor ini untuk itu. Impor dibuka lebih, banyak daging beku masuk ke pasar tradisional. Impor daging murah maka banyak yang beli, padahal masyaarakat suka daging yang segar.
Tim terpadu, sekarang sedang bekerja, untuk menghitung kebutuhan yang ada ini bisa dipenuhi tidak dalam negeri, kalau ada ngapain tambah impor.
Menyiapkan ini kan (angkut sapi pakai KA) saya juga lagi nagih ke kementerian perhubungan, saat ini masih sedang dipersiapkan, saat in belum.
Kadang-kadang, masalah harga ritel-ritel ini asik dengan daging impor karena lebih murah sehingga marginnya lebih gede. Saya juga menghimbau kepada mereka termasuk pelaku industri dan importir supaya ya kurangilah sedikit keuntungan tapi membahagiakan peternak-peternak dalam negeri, belalah mereka, mana rasa nasionalismenya untuk membangkitkan gairah peternak dalam negeri.
Tapi kita tidak masalah kalau faktanya kekurangan daging, impor bukanlah haram, silahkan saja, tidak masalah kalau nyatanya kurang ya kita tambah, tapi optimalkan dulu yang dalam negeri.
Kami pun juga ada masukan banyak sapi betina yang dipotong, ya nanti kita bisa hitung, kenapa padangang suka betina karena harganya lebih murah. RPH (rumah potong hewan) standarnya sudah banyak yang penuhi sudah ditinjau Australia.
Jadi sebetulnya tidak ada masalah, kalau jumlahnya masih sedikit ya mungkin saja, kita juga meminta kepada investor sebetulnya investasi RPH moderen tidak rugi seiring meningkatnya populasi dan swasembada tapi masih banyakyang belium minat.
Di Surabaya dan sidoarjo juga sudah banyak RPH moderen. Kalau kita tidak mulai, bahaya kita akan terus tergantung impor. katakanlah kalau ada kekurangan kita perbaiki, tapi semangat bangun pangan dalam negeri ini, basis nya kedaulatan betul-betul bisa diwujudkan.
Ada impor, toh banyak produk unggulan kita yang kita ekspor, tidak perlu di jadikan momok, kita seperti dibanjiri impor, faktanya kita juga membanjiri ekspor, ada keseimbangan. (hen/ang)











































