Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 10 Nov 2016 08:50 WIB

Wawancara 'Wanita Listrik'

Mengenal Tri Mumpuni, Pahlawan yang Menerangi Desa-desa Terpencil

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Dalam pertemuan para wirausaha dari negara-negara muslim yang bertajuk Presidential Summit on Entrepreneurship pada 27 April 2010 lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama secara khusus menyebut langsung nama seorang wirausahawati sosial dari Indonesia yang sukses mengembangkan pembangkit-pembangkit listrik di daerah terpencil, yaitu Tri Mumpuni.

Wanita berjilbab ini telah membuat sekitar 61 desa terpencil yang awalnya gelap gulita menjadi terang benderang melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka).

Tri Mumpuni bersama suaminya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai sumber energi listrik bagi wilayah yang belum terjangkau atau sulit dijangkau oleh PLN dengan memanfaatkan potensi energi air di wilayah setempat untuk menggerakkan turbin.

Wanita kelahiran Semarang, 6 Agustus 1964 itu sama sekali tidak menyangka namanya akan disebut secara langsung oleh Obama. Namun berdasarkan penuturan staf Gedung Putih, Obama memang sangat sepakat dengan konsep wirausaha sosial yang diusung Tri Mumpuni.

Tri Mumpuni sering dijuluki 'wanita listrik'. Akibat jasa tersebut, Tri berhasil mendapatkan Nobel atau award Ashden Awards 2012. Asdhen adalah lembaga swadaya masyarakat Inggris yang terlibat dalam energi ramah lingkungan. Pangeran Charles menjadi salah seorang penaung Ashden Awards.

Salah satu desa yang berhasil dibuat Tri menjadi terang benderang adalah Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Puluhan tahun warga desa hidup tanpa listrik, bahkan untuk mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari membutuhkan waktu 7 jam.

Rumah-rumah warganya banyak berada di atas bukit, sementara ketersediaan air ada di bawah bukit. Setiap harinya Ibu-Ibu harus menghabiskan waktu 7 jam lamanya untuk mengumpulkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini tentunya tidak boleh dibiarkan. Melalui lembaga Ibeka yang diasuhnya, Tri membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang terletak di Bakuhau, Desa Kamanggih. Listrik salah satunya digunakan untuk menyedot air dari bawah bukit ke atas, jadi para Ibu tidak perlu menghabiskan waktu 7 jam lamanya untuk angkut air dari bawah.

Dampak lain, waktu 7 jam yang bisa dihemat Ibu-Ibu, karena tidak lagi ambil air di bawah bukit, dimanfaatkan para ibu untuk menenun kain, sehingga menambah pendapatan keluarga.

Untuk mengenal lebih dekat 'wanita listrik' yang menjadi pahlawan bagi banyak warga desa ini, detikFinance melakukan wawancara pada Rabu (9/11/2016). Berikut petikannya:

Mengenal Tri Mumpuni, Pahlawan yang Menerangi Desa-desa TerpencilFoto: Michael Agustinus

Bisa diceritakan bagaimana awalnya Ibu terjun melistriki desa-desa terpencil?
Awal saya tertarik untuk masuk ke desa ngurusi listrik adalah pada saat saya diajak sama suami melihat potensi air di Indonesia yang luar biasa melimpah, dan dia membangun satu pembangkit kecil 13 KW di desa Subang untuk melistriki penduduk desa yang jumlahnya 144 KK.

Waktu itu diawal tahun 1990-an saya masih mengerjakan rumah murah untuk penduduk miskin perkotaan. Melihat bahwa listrik itu menjadi pembuka pintu peradaban bagi masyarakat desa dan mampu untuk menjadi pendorong pembangunan ekonomi, maka saya memutuskan untuk mengurus desa saja, lebih jelas hasilnya dan interest politiknya membangun desa agak kurang dibanding harus membuat perubahan di kota.

Musuh utama pembangunan kota adalah uang, money driven development, siapa yang punya uang itulah yang bisa merubah wajah kota seperti yang mereka inginkan.

Sementara kalau di desa, kita datang dengan niat baik untuk membuat perubahan, misalnya dengan pintu masuk memberi akses listrik, dengan pendekatan yang benar, kita akan dianggap sebagai 'pahlawan'. Itu saya rasakan benar pada saat kita melakukan comissioning, uji coba listrik pertama kali menyala selama 72 jam non stop.

Pas listrik menyala mereka akan berteriak 'Allahu Akbar' saya sering merinding di tengah tengah penduduk di daerah terpencil bahkan kadang ditengah hutan pada waktu itu yang gelap gulita tiba tiba terang oleh listrik yang kita bangun.

Berbuat baik itu membuat saya ketagihan ternyata, sejak saat itu, saya tidak pernah berhenti untuk membuat muka orang-orang desa bahagia. Dan dalam bukunya Doktor Ali Syariati, seorang ulama Iran, beliau engatakan bahwa kalau kamu ingin mendekat kepada Tuhan, dekatlah dengan kaum dhuafa. Sejak saat itu, saya tidak pernah berhenti keluar masuk desa dan daerah terpencil, namun saat ini tidak sesering dulu waktu masih muda, hehehe.

Apa ada pengalaman unik dan mengesankan saat melistriki desa-desa di pedalaman?
Pengalaman yang sangat mengesankan adalah saat tidur di bedeng di bawah pohon, kedinginan, karena angin gunung begitu kencang, mandi di sungai yang awalnya saya merasakan betapa susahnya hidup begini.

Namun karena saya melihat hampir semua penduduk desa melakukan hal yang sama, lama-lama saya sangat menikmati kehidupan begitu. Bahkan dulu pernah pada tahun 1996, saya bersama salah satu direktur program dari LPE/ESDM, mandi di sungai di tengah-tengah gunung Halimun setelah jalan kaki 9 jam untuk memasuki desa di tengah hutan itu, kita bisa merasa sangat bahagia sambil khawatir kalau-kalau ada yang melihat kita mandi dan sekarang kalau ingat, itu jadi kenangan manis banget.

Namun ada yang tidak bisa saya lupakan adalah pada saat saya 'diculik' di Aceh, karena kesalahpahaman teman-teman yang kita latih membuat turbin. Di situlah pertama kali saya merasa bahwa pilihan hidup saya berada di hutan bersama masyarakat adalah pilihan yang berat.

Namun karena akhirnya semua itu bisa teratasi dengan baik, saya merasa bahwa saat kejadian itu mungkin ujian dari Tuhan, apakah benar saya memilih jalan yang 'mendaki' ini, berada selalu dengan rakyat yang memerlukan saya atau memilih kehidupan kota dengan 'zona nikmat' yang bisa saya peroleh selama ini. Akhirnya saya tetap pada pilihan saya bahwa saya ingin menjadi orang yang bermanfaat buat sesama.

Apa kunci keberhasilan Ibu melistriki sampai puluhan desa di pelosok-pelosok Nusantara?
Kunci keberhasilan listrik di daerah terpencil, dan daerah-daerah lainnya pada umumnya menurut saya selama lebih dari 20 tahun ngurusi listrik untuk rakyat, karena saya dan tim IBEKA menganggap listrik adalah modal sosial bangsa, bukan infrastruktur atau bukan komoditi.

Khusus mikrohidro adalah alat untuk pemberdayaan masyarakat, bukan jalan orang mencari uang. Kenyataannya, kalau sekarang banyak mikrohidro dan proyek-proyek PLTS yang mangkrak, itu karena pemerintah menganggap listrik adalah infrastruktur buat rakyat, jadi rakyat dibangunkan fasilitas listrik, top down, project base, dan tidak melibatkan rakyat dalam proses pembangunannya.

Memang sistem pembiayaan negara kita tidak memungkinkan adanya proses pemberdayaan masyarakat. Masyarakat adalah objek, harus disuapi dan saya melihat ini seperti keadaan yang tidak bisa atau tidak mau diperbaiki. Jadi kalau pemerintah sudah mengeluarkan uang triliunan tetapi rasio elektrifikasi tidak tambah dan kemiskinan tidak berkurang, saya sering berpikir bahwa kemiskinan itu by design.

Saya sih belum lelah untuk menyurakan hal ini, karena waktu saya membantu pak Sudirman Said di ESDM, saya berusaha untuk membuat agar birokrat hanya mengurusi regulasi saja, dan yang membangun biarkan masyarakat langsung yang sudah didampingi oleh sarjana profesional sekaligus sarjana rakyat, atau kalau swasta berminat biarkanlah swasta.

Pemerintah menyediakan pendanaan dan peraturan, bukan ngurus niti griti yang sangat rigid dan sering kali memusingkan birokratnya sendiri, belum lagi tuduhan korupsi padahal ternyata hanya salah prosedur. Saya sering kasihan melihat sarjana-sarjana hebat masuk birokrasi terus disibukkan oleh hal-hal administratif, tidak berpikir konsep sehingga sulit memunculkan terobosan terobosan baru.

Kita perlu terobosan baru kalau mau memakmurkan rakyat. Saya melihat bukan hal yang sulit memakmurkan rakyat, apalagi ada Nawacita yang mengharuskan kita membangun dari pinggiran. Ini adalah kesempatan emas untuk membuat rakyat desa bisa makmur dengan mudah, asal kita mau merubah apa-apa yang selama ini menjadi faktor penghambat.

Desa harus punya aset dan rakyat dengan sendirinya akan punya cash basis. Saya tidak asal ngomong, karena saya sudah membuktikan hal ini sangat mungkin, betul betul sangat mungkin.

Apa masukan dari Ibu agar pembangkit-pembangkit listrik yang dibangun pemerintah di daerah terpencil tidak mangkrak seperti yang sudah sering terjadi?
Di dalam membuat fasilitas listrik untuk rakyat agar sustainable, kita harus menyiapkan masyarakatnya dulu, kita bangun manusianya. Kita siapkan kelembagaannya, dan yang penting tunggu dan bantu masyarakat muncul passion-ya untuk membangun.

Kita menjadi fasilitator agar orang desa mampu membangun dirinya sendiri. Hal-hal seperti ini susah untuk dijalankan sebagai 'business as usual'. Padahal dana APBN itu kecenderungannya membangun seperti business as usual.

Saya katakan pendekatan kita membangun listrik adalah membangun modal sosial rakyat. Rakyat rela bekerja tanpa dibayar karena memang mereka sadar kemanfaatan yang akan mereka peroleh. Dengan cara ini, maka fasiliats yang dibangun akan berkelanjutan.

Sayang sekali metodologi pembangunan yang dilakukan pemerintah, tidak menganggap fasilitas pembangkit listrik itu sebagai modal sosial masyarakat.

Pemerintah membuat Program Indonesia Terang untuk melistriki 12.000 desa di seluruh Indonesia. Apa pendapat Ibu terkait program ini?
Jika Program Indonesia Terang ini mau dikaitkan juga dengan pengentasan kemiskinan, maka metode investasi oleh investor yang selama sudah mendapatkan izin prinsip dari lokasi-lokasi pembangkit yang ada di desa tidak akan mengurangi kemiskinan, bahkan akan memperbesar jurang perbedaan antara miskin dan kaya. Secara logika, konsep economic growth akan menghasilkan koefisien gini ratio yang lebih besar.

Solusinya adalah investasi harus berpartner dengan masyarakat, atau yang selama ini saya sebut community partnership investment.

Kalau ada investor mau terlibat di dalam PIT, skema yang dibuat haruslah menguntungkan rakyat juga, tidak hanya sekedar memproduksi listrik. Menguntungkan masyarakat adalah membangun modal sosial masyarakat.

Keberhasilan Program Indonesia Terang adalah kalau mengerjakannya melibatkan masyarakat, tidak top down. Pembangunan Indonesia Terang harusnya dilakukan dari, untuk, dan oleh masyarakat. Investor disini fungsinya adalah sebagai katalisator agar proses itu segera berjalan. Investor ada, tetapi akan 'diluted' bersama masyarakat, sehingga ini bisa dikatakan sebagai win-win solution.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan rasio elektrifikasi nasional mencapai 97% pada 2019. Bagaimana agar ini bisa berhasil dengan baik?
Kalau kita ingin mencapai 97% rasio elektrifikasi, kita harus juga mengingat jangan sampai ini meningkatkan koefisien gini ratio kita, karena semua pembangkit punya investor.

Jadi bagaimana caranya Dana Ketahanan Energi yang pernah diinisiasi oleh ESDM mampu menjadikan masyarakat sebagai investor di dalam memenuhi kebutuhan listriknya sendiri dengan energi terbarukan yang secara alami tersedia di desa-desa di mana masyarakat lahir dan tinggal.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com