Follow detikFinance
Jumat 21 Apr 2017, 09:32 WIB

Wawancara Menteri Kelautan dan Perikanan

Kisah Susi, 'Kartini' yang Sukses Jadi Menteri Kelautan dan Perikanan

Michael Agustinus - detikFinance
Kisah Susi, Kartini yang Sukses Jadi Menteri Kelautan dan Perikanan Foto: Wahyu Daniel/detikFinance
Jakarta - Susi Pudjiastuti adalah perempuan pertama yang diangkat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Ketika ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 27 Oktober 2014, banyak yang meragukannya, apalagi bila melihat latar belakang pendidikan Susi yang hanya lulusan SMP.

Tetapi Susi menjawab keraguan publik dengan berbagai gebrakan dan prestasi. Sejak menjabat, Susi konsisten memerangi pencurian ikan oleh kapal-kapal asing di laut Indonesia.

Sepanjang 2016 saja, ada 236 kapal pencuri ikan yang ditenggelamkan Susi. Keberaniannya mengundang decak kagum, menginsipirasi banyak orang, Susi pun menjadi idola baru.

Perempuan kelahiran Pangandaran 52 tahun lalu ini menunjukkan bahwa gender bukan halangan untuk berprestasi. Susi adalah Kartini di zaman modern.

Kepada detikFinance, Susi mengungkapkan pengalamannya di dunia yang didominasi laki-laki. Berikut petikan wawancara dengan Susi pada Kamis (20/4/2017) dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Ibu Susi sudah sekitar 3 tahun anda menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, langsung membuat gebrakan yang mengguncang dunia. Bahkan sudah menjadi komik di Jepang. Anda tidak takut? Apa yang menjadi visi anda?
Saya sebagai seorang profesional harus berani mengeksekusi Undang Undang dan tidak pernah merasa sebagai seorang individu yang berani banget. Saya tidak takut sih untuk tegas mengeksekusi Undang Undang, itu kan tugas saya, amanat Undang Undang. Sebagai pejabat negara, ya amanah ini harus dijalankan, Undang Undang melindungi saya.

Jadi karena terpaksa?
Oh tidak terpaksa, itu kan amanat. Kalau kita sudah komitmen ambil pekerjaan ini, kan itu bukan terpaksa. Itu profesionalisme, saya sign, saya terima sumpah saya sebagai seorang menteri, berarti saya mesti melaksanakan amanat Undang Undang. Jadi bukan karena terpaksa, bukan karena berani, tapi karena profesionalisme, sebagai pejabat negara ya amanat Undang Undang mesti kita jalankan. Tidak boleh tidak, tidak ada choice, itu saja.

Anda menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan wanita pertama di Indonesia, dan gebrakan anda langsung didukung masyarakat banyak. Bagaimana anda melihat kondisi sektor kelautan dan perikanan Indonesia sebelum menjadi menteri, dan sekarang setelah menjadi menteri?
Kalau dari urusan illegal fishing perikanan, dari gambar satelit tahun 2014 sebelum November setelah saya dilantik bulan Oktober, kemudian gambar satelit sekarang picture-nya di laut beda jauh. Dulu penuh sama lampu, sekarang tidak lagi. Kemudian saya lihat masyarakat nelayan sekarang dapat ikan besar-besar. Dan saya dengar dari beberapa kawan, mereka sekarang belanja ikan di pasar, berani ditim ikannya, kalau dulu digoreng karena kurang segar. Sekarang warteg-warteg sudah jual ikan banyak. Saya pikir itu perbedaan.

Kalau dulu kan susah beli ikan dan mahal, adanya di supermarket, ikannya juga adanya ikan tertentu. Kemudian kalau lihat data BPS, angka-angkanya berbeda. Dulu NTN (Nilai Tukar Nelayan) cuma 104-106 persen sekarang 110 persen. Saya pikir sekarang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga lebih dikenal. Mudah-mudahan masyarakat dimudahkan, itu saja.

Di kampung saya, dan kemarin inspeksi ke beberapa daerah, di Maluku, itu ikannya makin besar. Kalau di tempat saya di Pangandaran, itu ada ikan yang 17-20 tahun enggak kelihatan, sekarang kelihatan lagi ikannya, seperti ikan teri, tuna, yellowfin.

Sekarang kan yang tangkap sudah banyak. Yang beli dan mengolah harus ada. Salah satu yang paling maju di bidang pengolahan adalah Jepang. Mereka mau masuk tapi tidak di perikanan tangkap, tapi ke dalam industri pengolahannya. Perikanan tangkap, biar orang-orang Indonesia yang tangkap ikan.

Anda berada di dunia yang mayoritas dikerjakan oleh kaum laki-laki. Sebagai perempuan, bagaimana anda memimpin orang di Kementerian dan kalangan pengusaha yang mayoritas laki-laki?
Saya kalau kerja enggak pikir laki-laki atau perempuan. Saya enggak pernah merasa sendirian karena banyaknya laki-laki, enggak ada. Sama saja. Kalau orang lain bisa, ya bisa. Saya tidak pernah merasa keperempuanan saya itu handicap atau obstacle, biasa saja.

Tidak pernah merasa terhalang atau tidak mampu karena perempuan?
Tidak pernah. Tadi saya bilang, keperempuanan saya tidak pernah terasa oleh saya oleh saya sebagai sesuatu yang handicap, obstacle, 'oh itu tidak bisa karena perempuan'. Harus dikerjakan, ya dikerjakan. Simple.

Apa rencana prioritas di bidang kelautan dan perikanan di 2 tahun sisa pemerintahan?
Membuat industri-industri kerakyatan karena arahan Pak Presiden di bidang ekonomi harus ada keberpihakan dan unsur keadilan. Jadi saya ingin mengembangkan UMKM, industri kerakyatan, dan memberikan porsi masyarakat Indonesia untuk bisa menikmati hasil perikanan ini seperti pemain-pemain besar zaman dulu.

Yang kedua, memastikan bahwa keberlanjutan dari sumber daya ikan ini tetap ada dan banyak. Kalau sedikit tidak cukup untuk menghidupi banyak orang. Harus ada dan banyak. Maka kelestariannya mesti kita atur, penangkapannya. Visi Pak Presiden menjadikan laut masa depan bangsa akan terjadi. Kalau tidak, 10 tahun lagi habis, masak bangsa kita cuma bisa hidup dari laut sekarang? Tidak boleh.

Hal-hal apa saja yang Ibu Susi rasakan sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan?
Kalau bikin policy baik, tujuannya membantu masyarakat dengan baik, terus diprotes. Terus ada provokator yang menyesatkan masyarakat. Memprovokasi masyarakat yang baik, yang sudah menerima, yang ingin memperbaiki, ingin maju. Itu saya jengkel sekali.

Kadang-kadang tekanan ya misalnya saya tidak bisa ngomong leluasa, situasi publik tidak mengizinkan. Saya pikir so far bisa saya manage.

Apa saran anda terhadap wanita-wanita di Indonesia, supaya bisa sukses seperti anda?
Kita stop mempermasalahkan gender. Kerja, bergerak, berkarir, berprestasi tanpa mikir 'saya perempuan', 'saya tidak boleh ini', 'saya tidak boleh itu', 'saya harus diistimewakan'. Stop itu. Jangan pikir gender itu handicap, persoalan. (mca/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed