Follow detikFinance
Rabu 31 May 2017, 13:50 WIB

Wawancara Eksklusif

Jokowi: 40 Tahun RI Cuma Bangun Tol 780 Km, China Sudah 280.000 Km

Wahyu Daniel - detikFinance
Jokowi: 40 Tahun RI Cuma Bangun Tol 780 Km, China Sudah 280.000 Km Presiden Jokowi (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Membangun dari pinggiran atau Nawa Cita, itu jadi visi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Infrastruktur dibangun dari Sabang sampai Merauke untuk menciptakan pemerataan ekonomi.

Jokowi rajin blusukan berkunjung ke berbagai daerah untuk mengecek proyek-proyek infrastruktur, bahkan sampai ke Papua. Jokowi pernah naik motor trail menyusuri proyek jalan Trans Papua.

[Gambas:Video 20detik]

Dalam wawancara dengan detikFinance, Jumat (26/5/2017), Jokowi mengatakan infrastruktur harus dibangun sehingga semua masyarakat Indonesia merasakan berputarnya perekonomian. Dan bisa meningkatkan daya saing negara.

Jokowi: 40 Tahun RI Cuma Bangun 780 Km Tol, China Sudah 280.000 KmPresiden Jokowi (Foto: Agung Pambudhy)
Berikut hasil wawancara dengan Jokowi:

Anda dikenal sebagai presiden yang fokus di infrastruktur. Bahkan anda sampai bolak-balik ke Papua, naik motor trail untuk memperlihatkan pembangunan infrastruktur. Apa tujuannya?
Infrastruktur ini sangat fundamental sekali. Semua negara memerlukan infrastruktur harus ada. Apakah itu pelabuhan, bandara, jalur kereta api, pembangkit listrik, jalan raya dan jalan tol. Semua diperlukan. Tanpa itu tidak mungkin daya saing kita naik.

Saya berikan contoh, kemarin saya meresmikan pelabuhan kecil di Tapaleo, Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Itu pelabuhan kecil, tapi dengan adanya pelabuhan itu, kapal-kapal bisa merapat. Kapal ukuran sedang bisa merapat. Dengan kapal itu, sembako bisa dibawa ke sana secara rutin, semen juga, sehingga harga menjadi turun lebih rendah.

Tetapi juga jangan keliru, kapal yang mengantar sembako dan semen saat kembali bisa mengantar produk Halmahera Tengah, seperti lada, cengkeh, jagung. Produk-produk komoditas lokal bisa dijual. Ini memberikan dampak perekonomian yang besar terhadap daerah dan rakyat. Dan pada saat kita membangun infrastruktur, jangan lupa ada rekrutmen tenaga kerja yang banyak sekali. Bisa ribuan.

Contoh saat saya melihat pembangunan pelabuhan di Batam. Saya tanya pekerjanya dari mana? Dari Papua, ada yang dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, jadi banyak sekali untuk membangun bendungan saja.


Belum saat membangun jalan tol, karena saya ke bawah terus melihat langsung. Seperti jalan tol Semarang-Solo-Ngawi. Muncul warung-warung makanan banyak sekali untuk makan para pekerja. Jadi dampak ke ekonomi di rakyat bawah besar sekali.

Ini yang sering tidak dilihat. Sehingga kita ingin APBN kita fokus ke infrastruktur. Saya tidak senang, APBN kita tidak besar tapi dibagi-bagi ke semua tempat, nanti tidak kelihatan dan tidak dirasakan masyarakat. Jadi fokus infrastruktur.

Lalu kedua pembangunan sumber daya manusia, kemudian pembangunan industri, lalu pembangunan sektor jasa. Kalau tahapan ini kita kerjakan secara fokus akan gampang mengontrolnya, gampang menganggarkannya, yang penting bisa dirasakan dan dilihat langsung.

Sudah berapa kilometer jalan yang sudah dibangun sampai ke Papua?
Misalnya jalan tol target kita 1.200 km dalam 5 tahun. Tapi perkiraan saya akan lebih dari itu, bisa 1.600-1.800 km. Tapi harus kita ingat, dalam 40 tahun ke belakang setelah tol Jagorawi. Itu dalam 40 tahun hanya membangun 780 km jalan tol.

[Gambas:Instagram]


Negara yang lain, seperti China itu sekarang yang dulu melihat tol Jagorawi, mereka sudah memiliki 280.000 km. Oleh sebab itu kenapa kita ingin mempercepat agar tidak tertinggal dengan negara lain yang dulu melihat ke kita. (wdl/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed