Follow detikFinance
Senin 10 Jul 2017, 11:55 WIB

Wawancara Wadirut Pan Brothers

Si Cantik di Balik Perusahaan Pemasok Garmen Uniqlo dan Adidas

Danang Sugianto - detikFinance
Si Cantik di Balik Perusahaan Pemasok Garmen Uniqlo dan Adidas Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto. Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - PT Pan Brothers Tbk (PBRX) merupakan salah satu pemarin garmen tersebesar di Indonesia. Perusahaan yang berbasis di Tangerang ini tercatat didirikan sejak 1980.

Pan Brothers juga cukup di kenal di kawasan regional ASEAN, Eropa bahkan Amerika Serikat. Di Industri garmen, perusahaan ini bahkan sudah memproduksi brand-brand ternama dunia, seperti Uniqlo, Adidas, Nike, New Balance, The North Face, Lacoste, Ralph Lauren dan masih banyak lagi.

Perusahaan ini juga telah memiliki 23 pabrik garmen di 8 lokasi dengan kapasitas 90 potong per tahun. Pabrik-pabrik tersebut mampu menyerap lapangan kerja hingga 37 ribu orang.

Ada beberapa orang yang berperan penting dalam besarnya Pan Brothers. Salah satunya Anne Patricia Sutanto yang sudah menjabat posisi penting di Pan Brothers sejak 1997.

Kini Anne sudah duduk di kursi Wakil Direktur Utama Pan Brothers. Meski seorang wanita, ibu dua anak itu bekerja tak kalah keras dengan jajaran direksi lainnya.

detikFinance berkesempatan untuk berbincang eksklusif dengan Anne. Berikut wawancara selengkapnya.

Si Cantik di Balik Perusahaan Pemasok Garmen Uniqlo dan AdidasWakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto. Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Bagaimana perkembangan industri tekstil saat ini, apa saja tantangannya?
Kita harus melihat secara global. Saya selalu bicara sama semua orang seberapa maju perkembangan teknologi kita semua orang akan selalu membutuhkan pakaian jadi. Kita sebagai masyarakat dunia cukup santun untuk kita memakai baju pakaian jadi.

Populasi dunia juga selalu meningkat setiap tahun selalu meski di bawah 2%. Itu kecil tapi selalu selalu meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan pakaian jadi juga selalu meningkat dengan GDP masing-masing negara yang selalu naik dan kita selalu membutuhkan pakaian baju yang layak otomatis prospeknya di mata saya akan terus berkembang

Jadi saya sangat percaya, karena apapun yang terjadi baik teknologi berkembang sampai titik manapun kita pasti membutuhkan baju.

Dunia melihat baju bukan hanya dari nilainya tapi dari kualitasnya. Kita sebagai produsen ditantang untuk memproduksi barang dengan kualitas yang semakin tinggi, tetapi dengan harga yang tetap atau malah lebih murah. Di situ kita akan bisa bertahan.

Apa strategi Pan Brothers untuk menghadapi kompetitor baik nasional maupun global?
Setiap negara memiliki kelebihan satu hal yang harus kita tekankan. Pertama dari sisi aturannya dulu, kita dibanding negara lain seperti apa? Memang aturan lebor law kita lebih tinggi daripada negara lain, tapi kita punya kelebihan juga dari sisi tenaga kerja. Kebetulan orang-orang kita memang dari awal cocok untuk industri pakaian jadi terutama di pulau Jawa.

Karena di Pulau Jawa terjadi yang namanya revolusi manusia dari berburu ke pertanian, ke industri baru jasa. Terlihat kita kuatnya di garmen. Kantong-kantong pekerjaannya cocok untuk memproduksi dalam lingkungan manufacturing.

Kita lebih oke dibanding negara lain yang secara pendidikan masih jauh lebih rendah. Tapi memang kita tidak hanya bisa menggantungkan itu, karena negara lain pasti akan naik juga. Dari sisi UMK Indonesia itu di tengah-tengah, tapi kalau melihat negara lain seperti Kamboja dan Myanmar lebih rendah dari Indonesia. Memang tingkat pendidikannya lebih rendah juga, tapi bisa meningkat lebih cepat

Nah Indonesia saat ini masih diminati bukan karena aturan tapi lebih karena perusahaan perusahaan garmen di Indonesia pada posisi yang tepat karena pekerja kita cocok dengan industri Manufacturing.

Akan tetapi kita nggak bisa bersenang diri, karena kita bisa dikejar. Seperti Vietnam yang dulu di bawah kita, sekarang Vietnam sudah melebihi kita. Pemerintahnya ikut men-support. Kalau Indonesia dibandingkan dengam Vietnam secara aturan mereka lebih pro terhadap garmen dari sisi labor insentif.

Aturan di Indonesia ini banyak dan terhadap garmen belum terealisasi aturan yang nyata. Memang secara mayoritas pemerintah bisa ngomong sudah ada aturannya, tapi secara real belum kepada industri garmen. Labor intensif yang berorientasi ekspor misalnya dari sisi PPH badan itu belum.

Dari sisi listrik sudah ada subsidi, tapi garmen tidak memerlukan banyak listrik kalau industri tekstil mungkin tapi garmen enggak butuh banyak listrik. Aturan aturan PPH itu untuk insentif garmen ekspor belum nyata.

Berarti benar garmen Indonesia kalah dengan Vietnam? Apa penyebabnya?
Pertama dari sisi labor law dia lebih lebih ringan dari Indonesia. Kemudian mereka punya banyak bilateral agreement dengan negara lain yang meyakinkan bahwa mereka bisa diterima di negara lain dengan import duty lebih murah atau tanpa import duty. Ketiga mereka mendukung industri ini dan memastikan bahwa industri ini ada supply chain-nya. Jadi kemudahan-kemudahan suplai seperti tekstil atau spinning-nya.

Karena di sana mereka bisa berikan kepastian investasi lebih cepat. Kalau di Indonesia kan berinvestasi perlu waktu perizinannya dan sebagainya. Mereka kawasan Industrinya saja dipersiapkan dan tidak mahal

Kita kan gak bisa berdiri sendiri sebagai garmen harus ada supply chain seperti pabrik kain. Karena pabrik kain di Indonesia ini tidak bisa mensuplai garment di Indonesia. Sebenarnya kan lebih indah kalau kita bisa ambil dari pabrik kain di indonesia, jadi dari Indonesia ke Indonesia. Untuk itu perlu foreign direct investment. Karena PMDN kita enggak didukung oleh struktur perbankan juga

Pemerintah Indonesia ada keinginan membantu labor insentif garmen, tapi kita tidak butuh pernyataan saja, yang diperlukan realisasinya dalam hal aturan-aturan yang mendukung. Harus direalisasikan

Apa labor insentif di Vietnam yang membuat garmen mereka lebih maju dari Indonesia?
Perbedaan paling nyata itu jam kerja. Di kita itu jam kerjanya 40 jam seminggu, sementara di Vietnam 48 jam seminggu. Jadi upah minimum mereka dari dasar perhitungan 48 seminggu kita 40 jam seminggu, bedanya 20% dan paket-paket retrenchment yang mereka lebih rendah daripada Indonesia

Selain Vietnam, Kamboja, Myanmar Bangladesh itu kompetitor juga di luar China. Kita tidak hanya bersaing dengan perusahaan di Indonesia tapi perusahaan yang ada di negara lain

Apa strategi untuk menghadapi persaingan dengan perusahaan garmen Vietnam?
Yang penting kita meningkatkan inovasi kita, tanpa itu kita tidak ada nilai tambah. Kedua bagaimana kita mengetahui optimalisasi seluruh aset kita baik dari fixed assets maupun pekerja. Supaya hasilnya efisiensi kita nyata dalam cost. Kalau Pan Brothers kita selalu menekankan harus ada fund untuk bisa membiayai semua operasional, termasuk utang kita harus kita bisa biaya sendiri.
Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto. Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto. Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Lini penjualan apa yang menyumbang pemasukan Pan Brothers paling besar?
Garmen. Memang kita ada produksi kain, kita juga ada benang jahit, itu semua melalui anak usaha. Tapi Pan Brothers sendiri paling besar di garmen sekitar 93%, kain 3-4%, sisanya ritel. Kita kan punya 2 brand, Salt n Peppers dan Zoe, sebentar lagi kita tambah satu lagi, tapi belum bisa kita sebutkan.

Kalau untuk garmen itu kita memproduksi untuk brand-bran, seperti Uniqlo dan lain-lain. Totalnya banyak ada di website kita.

Adakah rencana ekspansi tahun ini?
Ada pasti, kita akan nambah kapasitas pabrik. Kita sekarang punya pabrik di 8 lokasi dengan total 23 pabrik. Setiap pabrik kapasitasnya berbeda-beda, tetapi penyerapannya antara 2.000 sampai 6.000 orang per pabrik.

Pabrik baru ini pabrik garmen, kapasitas produksinya tergantung berapa orang pekerjanya. Kalau bisa menampung 2000 orang itu bisa 6 juta pertahun.

Tahun ini berencana tambah pabrik baik kita beli atau bangun dari nol. Kalau sudah ada, tahun depan kita harapka ada penambahan produksi sekitar 21 juta pcs. Kan sekarang 90 juta pcs pertahun jadi total bisa 111 juta pcs per tahun. Itu bisa nyerap kira 45 ribu orang, sekarang total karyawan 35-37 ribu orang.

Bagaimana perjalanan karir Anda hingga mencapai posisi saat ini?
Saya jadi Direktur Pan Brothers sejak tanggal 1 April 1997. Sebelumnya memang di 1996 ada proses due diligence dari founder-nya kepada kita. Pan Brothers pada 1997 itu hampir bangkrut, karena founder-nya ada bisnis lain yang harus diselamatkan, akhirnya diambil alih kami.

Pan Brothers saat itu tidak dipercaya oleh buyer-nya karena ada kesalahan pengiriman. Selain itu juga pada 1997 terjadi krisis ekonomi sehingga di satu sisi pencarian pendanaan Pan Brothers yang sudah hampir mati tidak bisa banyak. Karena orang takut, berisiko, apalagi lagi sedang krisis.

Tapi kita punya kepercayaan terhadap perusahaan ini, kita meminta kepercayaan kembali kepada buyer. Secara proses akhirnya kita dipercaya lagi.

Dengan manajemen yang baru kita perlu ketetapan dan determinasi yang kuat dari manajemen perusahaan untuk mengubah pemikiran-pemikiran buyer agar percaya lagi. Lalu tahun 2000 kita ke posisi normal lagi. Karena dulu kalau beli bahan kan dikonversi ke rupiah sementara pendapatan kita dolar. Apalagi saat krisis dulu dolarnya dari Rp 2.500 tiba-tiba naik tinggi. Jadi kita punya keuntungan selisih kurs, sehingga memperkuat permodalan kita. Dengan permodalan yang semakin kuat otomatis kita bisa berkembang

Sebagai wanita apakah Anda mendapatkan kendala saat meniti karir?
Tantangan itu pasti ada, pria yang duduk menjadi direktur juga pasti ada tantangan. Tapi menurut saya jenis kelamin tidak bisa menjadi alasan bahwa itu adalah tantangan. Karena ketika kita sudah komitmen untuk bekerja baik itu pria ataupun wanita tanggung jawabnya sama, karena di belakang kita banyak orang yang menggantungkan hidupnya kepada kita. Kepemimpinan kita dari sisi responsibility dan accountability-nya juga harus clear.

Jangan karena kita wanita kita berlindung di feminitas kita, menurut saya itu juga enggak fair terhadap seluruh kolega baik terutama pria. Dari awal saya memang punya prinsip this is my choices, my commitment, my also responsibity and accountability. And my dream is Pan Brothers become number one in the world until today.

Memang saya sempat leave di 2007-2009 karena ada bisnis keluarga yang saya kembangkan, tapi saya balik lagi ke Pan Brothers karena saya percaya that we can do much more. Walaupun dulu orang bilang garmen adalah industri sunset, saya tidak perduli. Tapi memang kita harus lebih gigih dibanding sektor lain.

Pesan bagi wanita yang merasa tidak bisa sukses karena kodratnya?
Saya lebih senang pakai istilahnya Kartini. Kita harus tahu bahwa kodratnya kita sebagai istri dan ibu. Untuk itu kita harus kembalikan lagi kepada suami dan anak, ketika ingin mengambil keputusan. Apakah mereka bisa mendukung karir kita? kalau nggak ya tidak usah. Mendingan kita membatasi karir kita melebihi dari proporsi.

Tapi kalau suami mendukung anak-anak juga mendukung sebenarnya secara tidak langsung kita ini bisa lebih bebas dan kita bisa komitmen lebih lanjut. Kalau kita bekerja semakin tinggi tanggung jawabnya semakin luas komitmennya harus lebih besar. Kita harus paham setiap level itu ada komitmen waktu, nah suami harus tahu bahwa istrinya Istrinya harus bekerja dari waktu sekian sampai sekian.

Memang diperlukan pasangan hidup yang baik yang mengerti untuk kita bisa berkarir. Karena ada banyak pengorbanan dari keluarga agar kita bisa menunjang karir. Tapi mereka memang harus ikhlas.

Saya dari awal ada keterbukaan di antara saya, suami dan anak-anak. Anak-anak bilang you can do it mom, no problem, itu membuat mereka jadi independen.
Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto. Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto. Foto: Danang Sugianto/detikFinance

Bagaimana kalau keluarga tidak mendukung?
Kalau keluarga tidak mendukung, ya kita jangan naif. Saya selalu bilang sama semua wanita seperti itu. Kondisi keluargakan juga berbeda-beda, kebetulan anak-anak saya sehat wal afiat. Tapi mungkin kan ada anak yang kurang beruntung, ya kita tidak boleh egois, oh saya mau karir tapi anak terlantar di rumah, itu omong kosong.

Jadi kita harus menyesuaikan apakah ada pekerjaan yang bisa kita kerjakan dari rumah. Saat ini kalau memang mau bisa jualan di Instagram nggak perlu bekerja full time di kantor. Kita perlu mengetahui keterbatasan, bukan hanya dari sisi mampu atau tidak, tapi dari sisi sekitarnya juga. Kalau sekitarnya tidak mendukung yang harus beradaptasi dan kita harus menerimanya.

Saya selalu bilang jangan pernah melihat saya, anda harus lihat diri anda sendiri dan ukur. Saya selalu melihat diri sendiri saya dan sekitar saya, mampu tidak melakukan itu? kalau tidak ya kita batasi, supaya kita happy. Kalau kita tidak mampu, kita tidak akan happy, kalau tidak happy hasilnya juga tidak akan keluar.

Saya selalu ngomong ke semua wanita, kita jangan lihat rumput tetangga karena rumput tetangga itu selalu lebih hijau. Kita lihat rumput sendiri kalau kurang hijau bagaimana caranya supaya lebih hijau. Jangan lihat tetangga, itu tidak ada habisnya, yang penting kita masih punya rumput.

Pedoman saya ada empat dalam bekerja, kerja keras, kerja pintar, kerja presisi disiplin, dan kerja ikhlas. Karena kalau kita lihat tetangga terus tidak ada habisnya, kita tidak akan pernah puas dam happy. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed