Perbankan berlomba-lomba untuk memanfaatkan digitalisasi agar biaya operasional lebih efisien. Namun dalam penerapannya memang dibutuhkan biaya investasi untuk menggunakan teknologi ini.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menyampaikan jika digitalisasi perbankan di Indonesia memang sangat dibutuhkan. Namun juga dibutuhkan edukasi dan sosialisasi kepada nasabah agar digitalisasi tersebut bisa berjalan lancar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan Karir
|
Foto: Grandyos Zafna
|
Dulu saya bekerja di kantor akuntan sekitar tahun 1979 sampai 1980, setelah itu saya pindah ke Kalbe Farma, nah di situ itu awal karir saya cost akuntan, jadi asisten manajer.
Lalu dua tahun kemudian saya promosi naik jabatan jadi manajer keuangan sampai periode 1988, kemudian saat usia saya ke 33 tahun, saya diangkat jadi direktur keuangan Kalbe Farma.
Kemudian tahun 1989 itu saya dipindah ke Indomobil, saya di situ masih Direktur Keuangan. Lalu di Kalbe Farma baru setahun yaitu 1990, saya diminta pindah ke BCA sekitar bulan Oktober 1990an lah.
Hanya saja waktu itu saya dikasih tahu oleh owner, begini karena BCA lebih besar, saya jadi wakil kepala divisi dulu, ya setingkat General Manager dan bukan direktur, mereka menjanjikan setahun kemudian diangkat jadi kepala divisi. Saya tunggu sampai tahun 1995 baru diangkat jadi kepala divisi.
Nah tahun 1998 itu kan kerusuhan, 92% saham BCA diambil BPPN. Setahun setelah kerusuhan, tahun 1999, saya diangkat jadi direktur, yang angkat BPPN. Lalu pada 2005 saya diangkat jadi wakil Presiden Direktur untuk bantu pak Setijoso, kemudian 2009 pak Setijoso memutuskan untuk jadi Komisaris Utama BCA, saya diminta jadi Presiden Direktur pada 2011 saya resmi jadi Presiden Direktur.
Waktu awal masuk BCA divisi apa yang bapak urusi?
Ya anggaran dan akunting. Itu awal 1990, setahun kemudian 1991 saya diminta mengembangkan divisi treasury, waktu itu BCA belum ada treasury nya, dulu masih masuk di cabang, padahal itu penting buat bank. Saya ingat, dulu di Asemka tuh tresury BCA yang lama, kemudian saya pindahkan ke Wisma BCA, waktu itu saya bangun 1/2 lantai untuk mengembangkan treasury.
Sebagai bankir, apa kegiatan yang bapak sukai?
Saya senang golf dan renang untuk kesehatan. Menurut saya begini, manusia itu harus memiliki lima keseimbangan. Pertama ketuhanan ya jelas kita beragama dan percaya Dia mengatur semuanya. Kedua komunitas, sebagai mahkluk sosial kita harus memiliki teman yang harus dijaga. Ketiga keluarga, ini sangat penting karena merekalah orang yang selalu ada karena itu harus diutamakan anak, istri, cucu. Keempat kesehatan harus dijaga, jangan sampai lupa diri kerja terus sampai kesehatan terabaikan, tapi juga jangan sampai terlalu santai juga. Kelima keuangan, nah ini harus dijaga kewajarannya, jangan sampai salah mengatur keuangan dan konsumtif.
Semuanya harus dijaga agar seimbang dan mencapai ekulibrium yang baik bersama. Saya mencoba gaya hidup seperti itu, jangan ngoyo kerja, jangan hura-hura. Main sama keluarga, jaga kesehatan itu penting karena kesehatan tidak bisa dibeli kalau sudah sakit mau Rp 1 M atau Rp 1 T itu nggak bisa didapatkan.
Bagaimana cara bapak menjaga kesehatan?
Saya rutin berenang setiap hari minimal 30 menit. Saya juga sudah satu tahun ini belajar meditasi untuk melatih pernapasan dalam, satu hari minimal satu jam lah. Bangun tidur meditasi dulu baru berenang.
Atau misalnya sedang ada perjalanan jauh, saya bisa meditasi di jalan atau di pesawat. Menurut saya meditasi ini bisa menyegarkan kembali tubuh saya dan merasa lebih fit meskipun capek bekerja. Bisa mereparasi organ kita sendiri, rasanya seperti di recharge lagi. Guru saya bilang, fisiknya dilatih juga jangan hanya dalamnya saja, makanya saya berenang dan golf. Golf itu kan untuk sosialisasi dan santai lah, itukan bukan olahraga yang berat banget, ya daripada saya temenin istri dorong troley di super market mending saya main golf.
Bapak memang hobi sekali main golf?
Sebenarnya begini, saya kan suka tantangan. Golf itu kan olahraga yang menantang sebenarnya, jadi dia itu beda dengan olahraga tinju, bulu tangkis atau silat dan karate yang pukul lawan sampai jatuh ya dia yang menang. Kalau di golf saya harus berkompetisi untuk memperbaiki diri, lawan saya bagus ya saya harus lebih bagus lagi bukan dengan cara menjatuhkan lawan.
Makanya saya mau orang BCA itu harus seperti golfer, selalu memperbaiki diri, tidak memberikan sentimen negatif ke kiri kanan. Harus kasih pelayanan yang terbaik, karena kalau sudah baik maka kita bisa lebih unggul dan ini kompetisi yang baik dalam persaingan. Makanya kita di BCA terus melatih diri sendiri untuk memperbaiki diri.
Tadi kesehatan, sekarang keuangan?
Tergantung tingkatannya kan beda kalau baru mulai bekerja, yang penting jangan lupa sediakan budget cicilan untuk rumah, jangan credit card yang diutamakan konsumtif itukan rumah investasi, untuk mobil juga yang wajar ya nah itu harus diusahakan.
Kemudian kalau sudah meningkat ke yang lebih tinggi sudah harus memikirkan investasi. Tapi jangan hanya di one basket, misalnya dipisah ke reksa dana, deposito atau saham. Harus ada perhitungan, reksa dana lebih terjamin dari produk reksa dana pendapatan tetap dan konservatif lebih aman apalagi jika ada peningkatan besar.
Setelah itu mulai coba asuransi jiwa untuk kebutuhan masa depan. Lalu bisa juga investasi properti, mulai di dalam negeri dulu jika sudah ada pendapatan lebih bisa mulai ke luar negeri. Oh iya dalam berinvestasi itu jangan terus ambisius cari keuntungan yang terbesar ya, karena kalau apes ya amblas semua. Jangan ngoyo harus realistis juga dan bertahap sesuai kemampuan. Saya dulu awal mulai dari deposito, baru kemudian belajar yang lain seperti reksa dana dan saham.
Quality time dengan keluarga?
Kebetulan anak saya sudah menikah dua-duanya dan saya punya dua cucu laki dan perempuan. Kalau hari sabtu saya pagi golf sampai siang, lalu pulang dan makan di rumah. Malamnya kondangan atau pergi berdua sama istri atau anak-anak.
Minggu pagi kami ke gereja, lalu hadir di arisan. Setelah itu pulang dan main dengan cucu dan kumpul dengan keluarga. Karena saya menyesal tidak bisa maksimal membahagiakan orang tua saya, ibu saya meninggal tahun 1983, waktu itu saya belum menikah, kemudian ayah saya meninggal pada 1995.
Saya sedih, dulu hanya bisa mengajak dia jalan-jalan ke puncak, tapi memang waktu itu kemampuan saya segitu karena saya mulai dari zero. Itu juga saya baru selesai melunasi utang KPR dulunya papan sejahtera, harus bereskan itu semua. Jadi saya belum terlalu bisa menyenangkan mereka, kalau sekarang mungkin saya bisa ajak mereka keluar negeri atau ke mana saja yang mereka mau.
Soal pak Bambang yang jadi nasabah BRI bagaimana?
Pak Bambang sekarang nasabah BRI padahal dia yang punya BCA ha ha ha. Saya sambil kirim kirim ke pak Sis Apik (direktur BRI) wah hebat, you bisa bikin bos saya jadi nasabah BRI. Terus pak Sis Apik jawab haha kita bisa kolaborasi lagi lebih banyak pak, saya jawab oke.
Untung beliau tidak dapat medali emas yah, kalau dapat kan hadiahnya PNS juga, nanti kepala dinasnya pusing punya staf konglomerat hahaha. Ya pak Bambang sedih hanya dapat perunggu, kapan lagi dia bisa main di Asian Games. Dia oke lah main di usia segitu otaknya masih tajam bridge itu mesti mikir kan ya.
Krisis 1998
|
Foto: Ari Saputra
|
Masa sulit itu ya pasti 1998 ya, waktu itu kan sebenarnya IMF kan meminta untuk menutup 16 bank kecil. Saya ingat itu sekitar Oktober dan November 1997, begitu bank ditutup masyarakat resah dan memindahkan dana ke bank pemerintah dan bank besar termasuk BCA.
Kemudian masuk ke 1998 awal tahun, ada krisis moneter dan krisis ekonomi. Tapi kepercayaan itu masih sempat ada. Hanya saja bulan Mei pak Harto ada masalah di pemerintahannya. Padahal saham BCA waktu itu 30% dikuasai anak-anak pak Harto, memang ada nuansa politiknya, jadi masyarakat hilang kepercayaan dan mereka tarik dana besar-besaran. Sampai akhirnya pemerintah mengambil alih bank ini. Setelah rush pada Mei, Oktober dan November 1998, kepercayaan masyarakat sudah kembali lagi.
Bagaimana cara BCA mengembalikan kepercayaan masyarakat?
Jadi begini, waktu rush, semua orang kan tidak percaya dan mereka tarik uang. Mereka waktu itu hanya ketakutan. Kemudian setelah itu, mereka melihat tidak terjadi apa apa ya mereka kembali lagi. Itu memang menyebabkan kami (BCA) rugi, tapi masuk ke 1999 kami sudah untung lagi.
Kami sudah mulai menyalurkan kredit, secara bertahap memang. Tidak langsung jor-joran. Pada tahun 2000 kita sudah mulai lepas kredit secara normal. Tadinya kita juga punya goverment bond untuk menyeimbangkan ekuitas kita secara berturut-turut dan akhirnya bisa bagus lagi.
Penutupan bank kecil bagaimana dampaknya?
Waktu itu kami bingung, kenapa bank kecil pada ditutup. Tapi kalau dilihat memang, saat itu bank di Indonesia dibilang terlalu banyak sih iya banyak, ada sekitar 160 lebih bank. Memang kebanyakan, tapikan sudah dikasih izin oleh regulator sudah konsekuensi. Kita juga sedih, dan tidak kepikiran bagaimana rush di bank kecil juga terjadi di bank besar.
Akhirnya lega karena masa sulit 1998 bisa terlewati?
Iya akhirnya masa sulit itu terlewati. Memang yang paling berat adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat. Tapi di BCA kami bersyukur karena nasabah lebih mudah percaya untuk kembali, kita selalu menjaga relationship ke nasabah.
Sebenarnya waktu rush itu begini, nasabah di bank besar pindah ke bank kecil, mereka cari bunga yang lebih besar. Tapi karena kondisinya buruk, mereka kembali ke bank besar. Nah mereka yang kembali ke BCA terpapar masalah politik dan mereka ikut kabur lagi, itu dia yang menyebabkan rush luar biasa.
Kami bersyukur memiliki nasabah-nasabah besar yang loyal, bahkan ada nasabah yang justru menyetorkan dana ke BCA ketika nasabah lain menarik dana. Karena banyaknya nasabah loyal itu, pemulihan kami dari rush itu begitu cepat. Apalagi ketika pemerintah masuk, ada penjaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mereka berbondong kembali lagi.
Rupiah 'Diamuk' Dolar AS
|
Foto: Grandyos Zafna
|
Sebenarnya susah dikomentari ya soal dolar AS dan Rupiah ini. Karena kan memang bank sentral AS akan menaikan bunganya beberapa kali lagi. Saya bilang, kali ini ekonomi kita bukan lagi lomba lari sprint, tapi lari maraton ya uji ketahanan bukan uji ketepatan. Karena itu kita harus menjaga cashflow untuk menajaga posisi dan jangan berspekulasi terus, harus buat pertahanan untuk menjaga.
Seperti menjaga likuiditas, saya bilang ke nasabah jangan dulu agresif investment kalau belum punya equity besar. Jangan terlalu berani jika punya penghasilan 10 tapi tarik kredit 10, akan sulit nanti perhitungannya dan akan terasa berat.
Ke depan bunga AS memang akan naik terus, karena trennya begitu, sulit turun. Kalau US$ bunganya naik 1,25% saja ya rupiah bisa 2% - 3% naik. Jadi untuk pinjaman atau kredit yang tidak dibutuhkan sekali ya jangan dulu lah, kalau sudah
terlanjut tarik ya ada persiapan untuk bayar bunga tinggi.
Kondisi ini ada kemiripan sama krisis 97/98 ?
Tidak sampai seperti dulu, kalau 98 itu kan ada masalah politik, riot dan chaos banget yang kerusuhan itu kita nggak tahu siapa dalangnya. Kalau sekarang ini sepenuhnya masalah ekonomi, karena kalau dicampur politik itu bisa seperti Venezuela dan Argentina yang ada masalah ketidakpercayaan kepada pimpinannya.
Memang krusial juga ada pemilihan Presiden tahun depan. Mudah-mudahan isu ekonomi tidak dijadikan bahan politik, ya meskipun di dunia politik semua cara dihalalkan. Harapan saya jangan lah, kalau NKRI hancur kan kita rakyat sama-sama menanggung rugi, padahal sekarang lagi bagus. Menurut saya, kalau tidak ada faktor eksternal atau global ini Indonesia masih bagus ekonominya, tidak ada yang mengganggu kepercayaan masyarakat.
Penguatan dolar AS ini jika dianalisa lebih dalam, pengaruhnya ke middle market atau orang-orang yang mengonsumsi barang impor. Tapi kalau masyarakat di pedesaan itu rasanya tidak terpengaruh asalkan sandang, pangan, jaminan kesehatan terpenuhi maka tidak terdampak. Mungkin BBM ya, kan mengikuti harga minyak dunia kalau naik ya naik, kalau turun ya turun. Petani juga harus sejahtera, saat ini nelayan juga sedang bagus karena harga ikan sedang naik, kita juga harus menyiapkan diri untuk bersaing di pasaran.
Perbankan akan terpengaruh?
Bank jika menjaga posisi saya rasa tidak. Baiknya bank juga jangan mengucurkan kredit dengan menggebu-gebu ya. Kta lihat likuiditas dulu oke nggak? Kalau nggak ya tahan diri dulu jaga modal dan jaga spekulasi di exchange rate. Jangan paksakan diri dulu.
Dulu indikator krisis Seperti apa?
Dulu itu 98 memang sulit, inflasi tinggi sekali, BI terlalu cepat menaikkan bunga, kurs rupiah tidak terkendali, cadangan devisa kita tidak cukup. Saat itu pengawasan penjualan dolar AS sangat longgar dan menyebabkan spekulan bisa memborong dolar AS, jadi orang mau beli dolar AS itu gampang sekali. Kalau sekarang kan mau beli banyak ditanya dulu underlyingnya mana? Kalau butuh buat impor harus jelas dulu peruntukkannya apa. Kalau dulu susah, jadi meskipun bunga naik 60% itu ya tidak akan menolong karena orang tetap spekulasi. Kalau sekarang tidak seperti itu dan bisa dikendalikan.
Kalau dulu itu geraknya cepat sekali, cepaaat sekali. Hanya dalam beberapa bulan dari kisaran Rp 2.000 di November 1997 jadi Rp 16.000. Sekarang kan sedikit-sedikit, memang kita tidak bisa prediksi akan berhenti di mana, lagi-lagi karena faktor eksternal.
Rencana akuisisi bank jadi dilaksanakan tahun ini?
Ya kita memang merencanakan itu, kita sekarang sedang menyusun laporan bulanan untuk dilaorkan ke OJK terkait akuisisi itu. Ya namanya orang dagang kan tidak gampang juga ya.
Kita usahakan secepat mungkin, tapi proses itu harus ada due diligence, negosiasi harga selama belum pas harus tetap dinego. Tidak bisa sekali duduk ketemu harganya. Karena banyak yang harus dihitung mulai dari NPL nya, biaya terminasi pegawai, tunggakan pajak dan lain-lain itu akan mempengaruhi negosiasi kita. Tidak seperti beli pisang goreng, bilang mau beli, bayar langsung dapat.
Seperti waktu akuisisi bank UIB, sekarang kan sudah jadi BCA Syariah. Dulu kita beli Rp 600 miliar, sekarang sudah Rp 5,2 triliun itu butuh waktu 2 tahun untuk pengembangan. Kita masih sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) lah soal akuisisi ini.
Digitalisasi Perbankan
|
Foto: Istimewa
|
Digitalisasi kan mau tidak mau harus dilakukan dan dikenalkan ke masyarakat dan nasabah. Hanya begini setiap pengenalan harus ada tahapan-tahapan. Seperti pembayaran non tunai seperti ATM, EDC, internet banking, aplikasi mobile banking kita sudah punya semua itu digitalisasi.
Kemudian kita luaskan lagi di gadget payment seperti Sakuku, Gopay dan pay pay lain kan itu tidak ada bentuk kartunya seperti debit. Sekarang transaksi kita 22 juta sampai 27 perhari itu 97% sudsh dilakukan secara digital, jadi nasabah tidak ke cabang, kalaupun ada ya hanya 3% yang ke cabang untuk transaksi yang nilainya masih gede. Misalnya tarik uang tunai dalam jumlah besar seperti Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar, setoran dalam jumlah besar, cek, giro kan harus ke cabang. Tidak bisa lewat online.
Untuk pembayaran elektronik, kita kenalkan Sakuku. Cuma sekarang kita juga harus menanyakan apa yang menyebabkan orang-orang pakai Sakuku? pasti karena ada promosi kan? tapi kalau tidak ada promo lebih baik pakai Flazz toh sama saja, tidak perlu password. Kalau Sakuku harus masukin password dan memang bisa discan juga, tapi kalau tidak lebih cepat ya sama saja.
Kenapa orang pakai Gopay? karena mereka kasih banyak kemudahan mulai dari cashback, sampai potongan harga. Tapi kita belum sampai tahap itu, meskipun sebenarnya kita kuat.
Apa jadi persaingan dengan fintech?
Kita begini saja, BCA gandeng Gopay, Tokopedia, Traveloka, Blibli hingga Bukalapak. Mereka kita minta buka account di BCA sami mawon kan? dana mereka masuk juga ke kita. Kita juga tidak mau head to head untuk promosi, mereka promo wah kita juga harus. Nggak juga, biar mereka saja kita enjoy dari corporate account yang mereka buat di kita.
Kita selalu support fintech, karena saya yakin kita harus bekerja sama bukan musuh atau pesaing. Semuanya kan jadi mudah dengan adanya fintech uang tunai bisa berkurang dalam transaksi. Nah dari situ kita juga bisa dapatkan feebased income. Kan kalau uang tunai itu cost nya mahal, sukur-sukur dengan adanya fintech itu bisa mengurangi peredaran uang tunai kan. Ya kita win-win solution saja, so far begitu.
Untuk Sakuku sendiri bagaimana perkembangannya?
Jujur saya katakan belum terlalu banyak. Karena kita belum fokus untuk promosi besar-besaran. Inikan beda sama credit card yang ada promo 20% langsung laris. Kita gamau promosi dulu, biar fintech dulu lah yang maju, yang penting transaksi di kita terus ada. Karena kita sudah punya, jadi sewaktu-waktu mau kembangkan sudah punya nih basisnya, ancang-ancangnya.
Seperti internet banking, dulu aja kita bukan yang pertama mengenalkan internet banking, tapi kita siapkan juga dari dulu. Waktu internet berkembang, dulu kan buka internet banking harus pakai PC, susah itu kan tidak semua orang punya PC, kalaupun di kantor belum tentu juga dia bisa buka. Masih jadi barang mewah lah internet waktu itu.
Tapi ketika internet banking bisa diakses di handphone, kita langsung bergerak dan makin gencar pengembangan internet banking. Nah sama seperti Sakuku ini, nanti arahnya kita akan kembangkan dengan yang paling terbaru, seperti penggunaan QR code, sekarang kita lagi tunggu perizinan dari Bank Indonesia (BI) lagi proses.
Tadikan fintech sistem pembayaran, kalau peer to peer lending bagaimana?
Ya begini kalau hal baru sedang berjalan, yang jadi pertanyaan bisa long term atau tidak? Belum lama ini saya baca berita di China peer to peer lending itu sudah empat tahun yang lalu dan meledak dua bulan lalu. Hitungan kasarnya ada Rp 2000 triliun lebih bablas begitu saja.
Untuk peer to peer lending, kalau pemain non bank mereka kan sediakan pendaftaran online nah itu bagaimana cari alamatnya, meyakinkan jika mereka akan membayar dan risiko kredit macetnya kecil.
Menurut saya kredit asesmen ini yang sulit, wong pakai jaminan sepeda motor dan BPKB saja susah, dia mau kabur ya bisa aja kabur, tetap jadi NPL juga apalagi yang tidak tatap muka.
Kami mulai mencari informasi dan meneliti melalui BCA Capital Venture, soal fintech peer to peer lending itu.
Apakah peer to peer lending bisa menjadi pesaing bank?
Saya rasa tingkat ini belum. Kalau mereka sudah benar-benar canggih dan bisa mengambil database bagus dengan risiko kredit macet yang sangat kecil. Mungkin bisa jadi pesaing bank yang mengandalkan deposito, kalau BCA kan dananya tabungan dan murah, kami tidak terlalu pengaruh.
Apalagi kami tidak masuk ke kredit kecil tanpa agunan dan memang belum minat ke sana. Tapi akan terasa ke BPR dan BPD yang punya kredit kecil itu.
Berapa banyak investasi IT di BCA untuk mendukung digitalisasi?
Total investasi IT kita itu setahun Rp 2 triliun. Kan memang yang namanya teknologi harus diikuti terus. Sekarang kita punya mesin ATM setor tarik, ini memang lebih mahal daripada mesin ATM biasa investasinya. Tapi biaya operasional jadi lebih murah, kalau ATM biasa kan habis harus diisi lagi, kalau mesin setor tunai penuh harus diambil uangnya. Kalau setor tarik ini kan berputar terus, ada yang ambil ada yang setor itu sangat efisien. Sekarang ada 4000 unit mesin setor tarik BCA dari total ATM 17.000.
Nanti semua mesin ATM akan berjenis setor tarik?
Untuk lokasi memang harus dipelajari, kalau lokasinya banyak orang yang setor tapi tidak ada yang tarik ya tidak berfungsi juga. Kalau tarik terus tidak ada yang setor kan sama aja. Jadi harus disesuaikan antara individu, pedagang dan pekerja. Mungkin tidak semua lokasi akan kami taruh mesin setor tarik. Kami akan menyesuaikan sesuai kebutuhan lokasi mana saja yang harus menggunakan mesin setor tarik dan yang biasa.
Jahja menjelaskan, untuk masalah IT, BCA memang menyiapkan dana yang besar. Pasalnya kepuasan nasabah harus diutamakan. Misalnya kita harus punya fiber optic untuk koneksi ke processing center dan harus mirroring juga ke recovery center.
Jadi kalau investasi tidak hanya di satu tempat harus ketiga posisi itu. Sebagai bank harus menyiapkan back up, seperti sekarang untuk listrik saja kita punya tiga lapisan. Jadi kalau di PLN nya lagi apes, kita bisa pakai genset kedua, kalau nggak bisa juga pakai genset ketiga, kalau nggak bisa juga ya amit-amit ya. Makanya kita terus gunakan standar ganda.
Termasuk investasi IT untuk menggaet generasi milenial?
Iya kita sudah ada di Gandaria City, namanya My BCA di sana ada mesin otomatis untuk bertransaksi. Jadi orang yang terbiasa dengan digital bisa dengan mudah menggunakan. Kalaupun ada petugas di sana ya dia mengajarkan nasabah yang belum terbiasa aja.
Kita juga harapkan makin banyak nasabah yang transaksi otomatis tanpa bantuan. Memang untuk ini biayanya mahal tapi lebih awal lebih baik. Meskipun milenial saat ini jumlahnya banyak tapikan duit mereka belum terlalu banyak, belum bisa menguntungkan sekarang ini. Kita membidik jangka panjang, dari awal mereka masih muda kita rangkul supaya terus jadi nasabah BCA. Ketika mereka masuk ke middle class mereka tetap pakai BCA karena BCA bank pertama yang mereka kenal.
Termasuk chatbot Fira juga?
Iya Fira juga, karena ini juga masuk ke kebutuhan anak muda yang butuh kecepatan dan kemudahan karena lewat Line kan. Kalau dulu kita pakai call center di phone banking. Sekarang Fira sudah bisa kasih tau saldo berapa sisanya kita juga memang sedang edukasi ke nasabah.
Kalau nasabah milenial sih sudah biasa, tapi yang tua-tua juga harus dibiasakan. Kalau phone banking kan ribet ya, masukan ini-itu, password, kode lain yang bikin malas. Sekarang lebih mudah, hp kan sudah ketahuan milik kita, password kita yang tahu, seperti instagram lah, ada fitur untuk mengembalikan password. Memang digitalisasi ini tidak bisa dihindarkan.











































