Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 28 Des 2018 07:33 WIB

Wawancara Direktur Keuangan Inalum

Menjawab Isu Miring Seputar Pembelian Saham Freeport

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Halaman 1 dari 4
Tambang Grasberg di Papua. Foto: Ardhi Suryadhi Tambang Grasberg di Papua. Foto: Ardhi Suryadhi
Jakarta - Indonesia akhirnya menguasai mayoritas saham PT Freeport Indonesia (PTFI) setelah 50 tahun lebih dikuasai asing. Setelah melakukan pembayaran saham pada pekan lalu, kepemilikan Indonesia atas PTFI meningkat dari hanya 9% menjadi 51%.

Proses ambil alih saham ini tak lepas dari peran kendaraan pemerintah yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau yang dikenal dengan Inalum. Inalum sendiri menjadi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki tugas mengeksekusi pencaplokan saham tersebut.

Memang bukan perkara mudah mengambil saham PTFI. Butuh negosiasi panjang agar Freeport McMoRan selaku pemegang saham mayoritas sebelumnya mau melepas saham.

Bukan hanya itu, Inalum juga harus kerja keras untuk mencari dana agar saham genap 51%. Sebab, nilai saham yang diakuisisi mencapai US$ 3,85 miliar. Uniknya, dana yang yang didapat Inalum adalah 'modal dengkul' alias tanpa jaminan.

Lantas, bagaimana perjalanan Inalum akhirnya menyukseskan langkah pemerintah mengambil PTFI? Kepada detikFinance, Direktur Keuangan Inalum Orias Petrus Moedak bercerita panjang lebar di kantornya, Kawasan SCBD Sudirman Jakarta, Kamis (27/12/2018). Berikut petikan wawancaranya:

Klik selanjutnya untuk halaman berikutnya (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com