Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 28 Des 2018 07:33 WIB

Wawancara Direktur Keuangan Inalum

Menjawab Isu Miring Seputar Pembelian Saham Freeport

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
1 Latar Belakang Perebutan Saham
Halaman 2 dari 4
Foto: Ardhi Suryadhi Foto: Ardhi Suryadhi

Apa makna akuisisi saham PTFI bagi Inalum?
Sebenarnya balik lagi ke mandat Inalum. Inalum itu ada 3 mandat, kita punya mandat itu untuk menguasai minimal 15 sampai 20% dari komoditi yang ada, tambang ya. Jadi kita mau bisa menguasai itu.

Kedua, kita mau hilirisasi. Inalum sendiri kan perusahaan yang bergerak di hilirisasi. Dengan mandat kedua ini nggak aneh. Tapi, kita harus buat supaya PTBA, Antam, Timah untuk masuk ke hilir juga. Tidak hanya upstream, tapi juga downstream.

Mandat ketiga, kita mau jadi perusahaan terkemuka di dunia. Terkemuka itu bukan hanya dari sisi revenue tapi banyak hal. Semua aspek mesti kelas dunia. Banyak sekali yang dilakukan Inalum.

Dengan mengambil Freeport, sebenarnya yang mandat pertama terpenuhi untuk cooper dan ikutannya emas dan juga perak. Mandat pertama untuk khusus 3 komoditi ini tercapai. Kedua, kita mengambil mengubah posisi dari mitra Freeport yang semulanya dari bermitra pemerintah, sekarang bermitra perusahaan, BUMN. Arti penting, mandat pertama kita untuk komoditi tercapai.

Susahnya di mana negosiasi ini? Nggak ada susah-susahnya. Yang bikin susah itu mengurai yang rumit lalu, masa lalu. Makanya terlihat sulit. Transaksinya B to B biasa, yang terlihat rumit karena memang yang lalu rumit. Kalau benang kusut diurai, terlihat kok kusut banget. Kita mengurai benang kusut dan jadi simpel sekarang. Kita kerja sama dengan dia, pemerintah kasih izin, selesai. Kalau sebelumnya pemerintah dengan dia, mitra dengan Freeport apapun yang dilakukan pemerintah yang berdampak negatif terhadap kerjasama ini akan diprotes. Karena kita kan mitra. Tapi kalau sekarang pemerintah di atas, dia mitranya dengan BUMN. Jadi kita mengurai yang kusut di masa lalu, diurai menjadi sederhana. Yang lalu Kontrak Karya kita bermitra, dia juga dibolehkan punya Rio Tinto dan sebagainya. Yang rumit itu sebenarnya struktur yang lalu rumit. Sekarang jadi sederhana, dia kerja sama sama kita, Rio Tinto nggak ada lalu.

Bisa dikatakan rumit karena mitra pemerintah?
Kalau mitranya pemerintah, jadi kikuk. Pemerintah susah bergerak. Dengan sekarang pemerintah jadi lincah karena rezimnya perizinan. Kesulitannya justru mengurai yang lama, kalau dari bisnis biasa.

Apa kesulitan Inalum di pencaplokan saham PTFI?
Sebenarnya kesulitan, dari sisi Inalum saya jawab Inalum nggak ada sulitnya. Karena kita cuma bahas valuasi seperti apa, berapa nilainya. Waktu dapat nilainya itu tugas Inalum selesai. Kita siap beli, kita tinggal tunggu penyelesaian struktur lama ini. Misalnya, dia bayar pajak. Dia karena sebelumnya mitra pemerintah, dia mau supaya jangan berubah-ubah. Karena pajak lain, akan berdampak ke dia, padahal dia mitra. Mengubah itu menjadi izin, dia mau jangan sampai secara ekonomi terganggu. Bahwa pemerintah ingin dapat lebih besar iya, jadi negosiasi untuk mempertemukan titik-titik itu itu lebih ke porsi pemerintah, bukan porsi Inalum.

Kalau ditanya sisi Inalum, Inalum kesulitannya ya valuasi aja, dia jual dia mau setinggi-tingginya. Kita mau ya semurah mungkin. Dan ketemu kita titiknya, waktu ketemu, bagi Inalum selesai. Yang lain porsi dia dengan pemerintah, karena sebelumnya mitranya. Ada juga Rio Tinto di dalamya mengurai itu. Strukturnya sederhana kita beli Freeport, Freeport beli Rio Tinto.

Valuasi nilai saham ada beberapa, bisa dijelaskan?
Ya namanya negosiasi, dia sama advisor datang dengan valuasi-valuasi mereka, kita juga dengan advisor kita datang dengan valuasi kita. Kita tahu kalau nilainya yang diajukan pasti lebih tinggi. Kita juga meng-hire teknikal advisor yang meng-asses (assessment) apakah proyeksi dibuat sudah make sense atau tidak. Misalnya asumsi hari kerja ditambang, asumsi kandungan di dalam sepeerti apa, tingkat produksi apakah setinggi itu terus. Asumsi-asumsi itu orang keuangan saya tidak bisa meng-assess bahwa itu benar makanya kita pakai teknikal advisor. Dari aspek teknis kita bawa ke model keuangan untuk menghitung kembali valuasi dia seperti apa. Dia memberi proyeksi, kita adjust proyeksi sesuai dengan hasil teknik advisor kita. Dan itu kita turunkan ke bawah, dari situ kita nego.

Ada beberapa kali memang, angka-angkanya saya nggak hafal persis, tapi bolak-balik terus sampai pada satu titik kita sepakat US$ 3,85 miliar splitnya di antara mereka terserah. Kalau kita split selalu disalahin, kenapa bayar Freeport sekian, tapi bayar porsi Rio Tinto sekian. Ini kan nggak imbang, kita nggak mau urus. Itu bagi-bagi urusan mereka.

Tapi US$ 3,85 miliar bagi kami rendah sekali, karena apa perhitungan itu dengan menghitung equity dari kita. Kita mesti taruh modal sendiri. Kalau kita pinjam semua diskonnya makin besar. Kita beli murah sekali modal dengkul. Yang ditanya investor dengkulnya kuat nggak.

Saya kalau berhitung mungkin 2024-2025 sudah bisa lunas dari Freeport sendiri, jadi selesai. Bahwa kita punya utang 30 tahun semua bisa diatur, itu semua mekanisme pasar kita tidak mau bilang akan bayar, tapi logikanya kalau dapat 1 miliar setahun, 4 tahun kan uang balik.

Pada titik mereka akhirnya mau melepas sahamnya?
Jadi mereka perhitungan sendiri, posisi bagi Freeport McMoRan toh ada Rio Tinto yang ambil 40%, jadi kalau dia melepas 40% ke kita sebenarnya dia nggak kehilangan apa-apa. Kalau dia ada kehilangan, sedikit. Selama ini 40% diambil Rio Tinto. Waktu kita bayar Rio Tinto yang disahamkan, dia kekurangan sebenarnya nggak banyak yang dikorbankan.

Rio Tinto kehilangan opportunity dia, tapi kan kebijakan Rio Tinto mereka kebetulan mau keluar juga, kalau kita ambil, swasta ambil. Dan itu ada swasta-swasta yang siap ambil. Ya harusnya uangnya cukup, swasta yang kira-kira cukup. You bisa cari tahu, detikcom kan tahu siapa swastanya, swasta yang cukup uang ambil juga. Jadi kalau mulai ada ramai-ramai sapa yang sebenarnya mau ambil.

Klik selanjutnya untuk halaman berikutnya

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com