Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 07 Jan 2019 08:12 WIB

Wawancara Khusus

Dirut Jiwasraya Buka-bukaan soal Penyebab Tunggakan Polis

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Halaman 1 dari 4
Direktur Utama Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko/Foto: Rengga Sancaya/detikcom Direktur Utama Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko/Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jakarta - PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tengah berupaya membayar polis jatuh tempo dari produk JS Saving Plan. Perseroan melakukan sejumlah cara agar kewajiban perseroan bisa dipenuhi.

Opsi yang ditawarkan adalah memperpanjang (roll over) polisnya selama setahun dengan tawaran bunga 7%. Pasalnya perseroan saat ini mengalami tekanan likuiditas untuk menunaikan kewajibannya.

Direktur Utama Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko membeberkan mengenai penyebab terjadinya tunggakan polis hingga cara perseroan membayarnya.

Simak wawancara khusus detikFinance bersama Hexana seperti ditulis, Senin (7/1/2019).

Boleh diceritakan bagaimana awal persoalan tunggakan polis terjadi?
Mengenai permasalahan hari ini bahwa di masa lalu terutama empat tahun terakhir 2013-2014 itu model bisnisnya agak berubah di mana melihat besarnya premi tanpa melihat karakterisktik premi itu sehingga model bisnis kita mengarah, lebih mengarah ke banking product ya yang punya sifat utang. Seperti utang yang ada jatuh temponya dan itu memang efeknya kepada neraca itu cepat sekali menjadi perusahaan besar. Karena seperti orang nabung, seperti orang berinvestasi neracanya seperti neraca bank sepertinya dan dalam penerimaan preminya didominasi oleh produk yang mempunyai sifat jatuh tempo.

Produknya apa namanya?
Produknya namanya Saving Plan. Intinya seperti orang taruh duit, nabung, nanti dibayar pokok plus bunga.

Jatuh temponya berapa lama?
Jadi kontraknya itu lima tahun tetapi ada window dicairkan setiap tahun. Jadi semua investor berhak mencairkan setiap tahun. Makanya mereka menyebutnya jatuh tempo satu tahun.

Ada namanya masa asuransi, ada periode investasi. Periode investasi itu menghitung bunganya setiap tahun jatuh tempo dibayar pokok dan bunganya.

Nah karena sifatnya jatuh tempo, itu seperti utang kan seperti bank terima deposito dan wajib dibayar pokok plus bunga. Beda dengan proteksi asuransi kita bicara probability, kalau risiko terjadi nah itu life insurance bicara mortalitas. Jadi itu tidak definite kapan jatuh tempo nggak. Beda. Oleh karena itu manajemennya beda, cara investasinya beda meng-cover-nya juga beda mestinya.

Selanjutnya bagaimana?
Di masa lalu kemudian besar eksposurnya. Di situ sifatnya utang jatuh tempo tentunya kan dengan cara mencairkan asetnya, karena semua premi dibilang aset investasi. Karena melihatnya masih belum seperti sebuah produk yang bisa jatuh tempo, portfolio manajemen sehingga kaget ketika orang mencairkan ya udah yang jatuh tempo sama asetnya nggak jatuh tempo liabilitiesnya jatuh tempo. Akibatnya perusahaan tidak bisa membayar sepenuhnya atas pokok, sehingga restructuring yang paling (memungkinkan dilakukan).

Kita melindungi hak pemegang polis. Bunga jatuh tempo dibayar sepenuhnya dan roll over kasih insentif, dibayar maju artinya secara return on investment masih terlindungi masih terjamin, pokoknya yang kita minta di-restructure rescheduling. Kalau comparative investasi di obligasi korporasi itu biasanya bunganya di-stand-still-kan sekian pokoknya bisa di-restructure 10 tahun sampai dia mampu membayar.

Ini bagian dari edukasi juga ya, jadi misalnya sekadar dialog ringan. Saya bertemu beberapa nasabah apakah bapak/ibu ketika membeli ini menyadari sepenuhnya, apakah menyadari akan risikonya, apakah menyadari bahwa ini bukan tabungan tapi investasi, degree-nya di atas investasi.

Investasi itu high risk high return, jadi kalau ibu selama ini menikmati return yang tinggi, lancar sekian tahun hari ini ketemu risikonya sebenarnya. Nah, ini kita restructure dengan men-delay selama satu tahun. Kita minta satu tahun tapi bunga kan kita bayar di depan malahan.

Masih menguntungkan?
Ini masih terlindungi kalau bicara return on investment. Memang akan berbeda case-nya kalau orang sangat perlu uang segera. Itu juga sebenarnya mohon maaf, kalau kita bicara saat investasi kan menandatangani tentang risiko investasi dan orang masuk investasi harusnya secondary needs, primary needs tabungan dulu saving dulu. Jadi saya agak bingung ketemu itu katanya tidak punya uang, loh ini investasi kok jadi primer.

Tapi kebutuhan orang macam-macam, memang tidak semuanya well educated. Jadi akhirnya orang-orang yang tidak masuk kriteria eligible sebagai investor pun masuk menjadi investor. Problem-nya di situ yang berkembang menjadi menekan, banyak menjadi sekian itu lebih banyak yang tidak menuntut untuk segera dibayar, yang segelintir itu yang bersuara setelah kita dalami ini termasuk orang-orang yang tidak eligible masuk ke level ini. Ini pelajaran juga bagi kita semua ke depan investasi ditambah disclaimer lagi.

Satu analogi ketika saya di bank, saya menjual produk derivatif, itu meskipun sudah ada kontrak yang panjang saya masih tambah satu lembar bahwa saya hari ini nama ini tanda tangan. Itu mungkin teman-teman belum punya pengalaman nanti ke depan kita harus hati-hati tidak mengejar volume tapi juga ada perlindungan nasabah.

Jadi itu case-nya hingga hari ini dengan likuiditas yang terbatas kami tidak bisa mencairkan semua. Dari uang yang tersedia ini saya lebih baik menggunakan bukan untuk membayar pokok. Sebab kalau dipakai untuk membayar pokok hanya sebagian yang terbayar. Kalau saya pakai menjamin return-nya berarti bunganya maka akan ter-cover semua. Akan ter-cover sampai saya membayar bunga itu sampai tahun depan pun masih cukup. Jadi semua yang jatuh tempo dengan asumsi 30% roll over, hari ini yang roll over itu uang saya masuk membayar bunga tapi memang pokoknya itu sumbernya dari mana ini saya nggak bisa bilang detail tapi percaya bahwa Kementerian (BUMN) sebagai pemegang saham itu berkomitmen menjaga perusahaan ini going concern. Apa wujud going concern-nya itu sama-sama mendukung upaya-upaya mencari solusinya. (ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com