Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 17 Jan 2019 09:43 WIB

Wawancara Khusus Dirut MRT Jakarta

MRT Jakarta Menuju Operasi dan Menanti Fase II

Eduardo Simorangkir - detikFinance
1 Pengoperasian Maret 2019
Halaman 2 dari 3
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy

Dua bulan menuju pengoperasian MRT Jakarta, bagaimana kesiapan MRT Jakarta dari sisi operasi, SDM maupun infrastruktur?
Fase I MRT Jakarta progresnya sudah mencapai 98,1%. Ada beberapa pekerjaan seperti entrance, interior finishing masih harus kita selesaikan dalam dua bulan ke depan.

Kemudian secara sistem, seluruh kereta sudah ada di depo, sudah mulai diujicobakan 16 set (rangkaian). Masing-masing set terdiri dari enam kereta (cars), jadi ada 96 kereta.

Testing comissioning sudah berjalan, sekarang uji coba operasi sedang berjalan paralel dengan testing comisioning mulai 24 Desember 2018 sampai di 25 Februari 2019. Setelah 25 Februari 2019 kita sudah uji coba operasi secara penuh, kereta sudah mulai kita jalankan.

Sebelumnya ini kan masih sangat terbatas karena berjalan bersama dengan testing comisioning. Jadi testing comisioning di pagi hari, trial run nya di malam hari. Jadi 24 jam kita jalan. Nanti mulai 26 Februari 2019 semua sudah mulai full operation, jadi kita mulai beroperasi dari pagi sampai malam. Sudah sama seperti normal operasi tapi kita belum angkut penumpang komersial. Tapi kita akan membuka secara terbatas atau selected untuk orang ikut uji coba.

Siapa saja yang boleh ikut uji coba?
Masyarakat dan stakeholder yang akan kita atur mekanismenya. Mungkin naik di beberapa stasiun, turun di beberapa stasiun dan mereka terlibat dalam proses pembelajaran naik kereta, memahami bagaimana kereta MRT Jakarta dan nanti mereka juga yang akan membantu memberikan informasi kepada masyarakat tentang MRT Jakarta sebelum operasi.

Jadi yang bisa naik nanti dipilih oleh MRT?
Tidak dipilih oleh MRT, first come first serve nanti pendaftarannya secara online. Jadi silakan nanti mendaftar, tapi kita belum buat kriterianya.

Tapi kita akan membuka semacam pendaftaran untuk publik dengan kuota tertentu. Misalnya hari ini kita akan buka 4.000 penumpang, siapa yang cepat mendaftar nanti dapat. Tapi kalau kuotanya sudah mencukupi kita akan tutup, nanti dia bisa naik besoknya lagi atau apa. Tapi mekanismenya akan kita atur.

Masih ada hambatan menuju operasi?
Halangan pasti ada, tapi kan bagaimana kita mengelolanya. Seperti waktu, kita harus kejar-kejaran dengan waktu. Kalau waktu 36 jam ada, kita pakai 36 jam. Sekarang kan bekerja terus 24 jam dengan sistem tiga shift.

Sejauh ini masih ada kekurangan yang dirasa dari hasil uji coba?
Pasti, setiap kita ngetes kan ada yang misalnya masih belum pas berhenti keretanya, masih belum pas berangkat keretanya. Tapi namanya juga uji coba.

Ada garansi atau mitigasi dari MRT supaya tidak sepi penumpang seperti infrastruktur-infrastruktur baru yang dioperasikan?
Garansi sih tidak ada. Makanya kita mendorong terus. MRT Jakarta berupaya maksimal supaya dia bisa dikenal, dan masyarakat bisa familiar dan memberikan dukungan. Jadi yang kita lakukan adalah berupaya maksimal untuk memastikan target yang sudah kita putuskan bisa terjadi. Pada hari pertama misalnya, kita targetkan 65.000 penumpang per hari, di akhir tahun bisa 130.000 kalau tarifnya itu sesuai dengan apa yang sudah kita usulkan ke pemerintah.

Tarif sudah sampai mana pembahasannya?
Lagi didiskusikan. Kita usulkan Rp 8.500/10 km. Jadi naik Rp 1.500 ditambah per kilometernya Rp 700.

Sudah diputuskan tapi belum ditetapkan atau bagaimana?
Masih dibahas oleh pemerintah karena memang belum ditentukan, belum ketuk palu. Kita sudah punya hitung-hitungan, tapi nilai realnya itu berapa akan diputuskan oleh pemerintah.

Condongnya ke mana harganya?
Masih sejalan dengan yang kita usulkan.

Rp 8.500/10 km?
Iya. Kita belum bisa menyampaikan bahwa itu hasilnya karena keputusan itu ada di pemerintah. Bahwa Rp 8.500 dan Rp 10.000 adalah angka yang diusulkan oleh MRT Jakarta, keputusannya tergantung pemerintah.

Bukannya harusnya sebelum akhir tahun kemarin sudah diputuskan?
Harusnya. Tapi kan sampai hari ini belum terjadi dan anytime kita menunggu keputusan itu.

Masih ada rapat lanjutan lagi atau tinggal menunggu keputusan?
Tinggal menunggu keputusan. Kalau rapat sudah selesai semua, sekarang tinggal tim tarif menentukan.

MRT Jakarta merasa perlu ada kebijakan lain dari Pemda untuk dorong orang bisa gunakan transportasi umum, khususnya MRT?
Pertama, saya kira benar-benar dukungan Jak Lingko mengenai integrasi antara MRT, TransJakarta, LRT, Kereta Bandara, KCI dan angkutan umum lainnya. Integrasi itu dari sisi fisik, rute, dan layanan ticketing atau pembayaran.

Berarti integrasi alat pembayaran juga dilakukan?
Iya. Kan sekarang Gubernur sudah memutuskan untuk membentuk semacam perusahaan patungan joint venture 3 korporasi. Itu didorong untuk disegerakan sehingga kita sudah bisa bicara integrasi ticketing nantinya.

Kapan rampungnya pembentukan perusahaan patungan itu?
Kalau itu mungkin agak lebih panjang, setelah operasi. Karena MRT beroperasi kan tiketnya sudah ada, dapat izin dari Bank Indonesia. Jadi sambil berjalan, integrasi dijalankan. Kan sekarang TransJakarta juga sudah jalan, LRT juga. Itu mungkin butuh waktu untuk mengintegrasikannya. Tapi saya kira tahun ini semuanya akan selesaikan di Desember 2019 itu yang namanya integrasi fisik, integrasi rute, integrasi pembayaran sudah terjadi.

MRT juga mengeluarkan uang elektronik atau kartu sendiri?
Iya. Kartu khusus MRT.

Uang elektronik yang sudah ada sekarang nggak bisa digunakan?
Bisa juga tapi MRT sendiri punya kartu. Izinnya sedang diproses ke BI, tapi nanti akan kita gunakan bersama-sama dengan kartu yang lain. Kan ada enam slot di vending machine kita. Satunya itu kartu MRT, jadi lima yang lain itu bisa kartu yang lain.

Kartu sudah dicetak?
Sudah. Tapi izinnya itu sekarang yang lagi kita urus ke BI, supaya MRT dapat hak untuk mengeluarkan kartu sendiri.

Apakah itu beda dengan kartu single trip dan multi trip yang akan digunakan nanti?
Itulah dia.

Tapi uang elektronik lainnya dari bank manapun bisa?
Iya.

Soal integrasi fisik tadi, apakah dilakukan di semua stasiun?
Ada lima stasiun yang sudah sempurna. Stasiun Bundaran HI, di bawahnya MRT, di atasnya TransJakarta, kemudian Dukuh Atas, Blok M, Sisingamangaraja dan Lebak Bulus. Kita lihat lagi perkembangannya, kalau bisa semua lebih bagus.

Apakah masih ada lagi yang akan diintegrasikan secara fisik menuju operasi?
Semua diintegrasikan, tapi yang secara fisik terintegrasi itu ya lima tadi. Fisiknya maksudnya melekat, tidak terputus. Yang lainnya kan secara rute itu tidak membutuhkan integrasi secara fisik.

Rute yang dempet dengan TransJakarta kemarin bagaimana diskusinya?
Lagi dilakukan studi oleh beberapa expert, melibatkan ITB, UI, UGM. Studinya lebih ke bagaimana melakukan pelayanan optimal terhadap seluruh pengguna transportasi yang sekarang ada di koridor 1. Bagaimana opsinya, kita tunggu. Salah satu rekomendasi yang sudah mereka keluarkan adalah merapatkan seluruh stasiun, kemudian bagaimana nantinya layanan-layanan ke rute lainnya bisa disediakan.

Artinya TransJakarta tetap harus relokasi stasiunnya akhirnya?
Ya ini salah satu yang sudah kita lihat di sini. Relokasi mungkin, ada integrasi sempurna. Tapi polanya ini yang lagi dilihat dan bagaimana implikasinya terhadap koridor 1.

Kapan ketok palunya?
Kalau hasil studi konsultannya rencananya akhir Januari ini sudah ada hasil preliminary. Nanti yang tentukan Pemda DKI.

Gerbong wanita untuk MRT bagaimana?
Akhirnya diputuskan ada. Tapi hanya pada jam sibuk, pagi dan sore. Tapi belum kita putuskan waktu tepatnya.

Penerapannya apakah sama dengan di Jepang bahwa tidak melulu harus diisi oleh penumpang wanita, bisa juga untuk lansia atau orang sakit?
Iya, seperti itu. Kalau ini harusnya bisa fleksibel. Satu gerbong dalam satu rangkaian.

Hasil surveinya itu menarik. Kenapa akhirnya kita berlakukan pada jam sibuk saja karena ternyata tidak mayoritas. Memang lebih banyak yang memilih perlu tapi 38% menyatakan nggak perlu.

Target pendapatan dan penumpang tahun ini?
Kalau penumpang kita 65.000/hari targetnya, dan menuju ke akhir tahun bertahap naik hingga 130.000 penumpang/hari. Kemudian sejumlah potensi pendapatan dari non fare box misalnya dari advertisement, retail, telecomunications dan naming rights.

Porsi pendapatan masing-masing dari fare box (tiket) dan non fare box (non tiket)?
Belum bisa saya sampaikan. Ini masih sangat fluid. Mungkin pada saat beroperasi tiga bulan pertama baru kita tahu porsinya seperti apa. Mungkin di Juni kita bisa berikan gambaran yang lebih jelas.

(eds/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com