Wawancara Khusus Menteri Keuangan

Pengakuan Sri Mulyani Kerja di Antara Dua Presiden

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 29 Apr 2019 11:10 WIB
Pengakuan Sri Mulyani Kerja di Antara Dua Presiden
Foto: Agung Pambudhy

Rencana penetapan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 5,3-5,6% apakah sengaja ditaruh usai pemilu yang berjalan lancar dan damai?
Sebetulnya nggak yah. Kalau persiapan untuk penyusunan APBN tahun depan, 2020, APBN itu mulai Januari selesai Desember. Nah, menyusun APBN untuk tahun depan memang tahapannya sejak bulan Februari lalu, itu di internal pemerintah dulu, BI, Bappenas, BPS, Menko Perekonomian untuk membahas biasanya asumsi-asumsi makro. Menteri ESDM mengenai harga minyaknya, dengan Bappenas dan BPS, kemudian BI. Berikutnya mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga. Jadi, itu sudah merupakan siklus penyusunan APBN diatur dalam peraturan pemerintah.

Nah, kebetulan untuk presentasi rencana rancangan awal dan termasuk pagu awal itu memang seharusnya pada bulan April ini. Karena jadwal pemilu luar biasa padat, sehingga kita menunggu sesudah pemilu kemudian presiden kan sempat cuti juga untuk kampanye, jadi tinggal wapres. Sehingga kita menunggu seluruh pemilihan selesai, sehingga ada waktu untuk melakukan sidang kabinet paripurna (SKP).

Ada yang bilang angka 5,3-5,6% ini angka yang moderat, tapi ada yang bilang ini terlalu optimis karena situasi gejolak dunia masih ada, IMF malah menurunkan proyeksi pertumbuhan dunia. Langkah-langkah untuk bisa mencapai angka itu apa?
Kalau pandangan orang berbeda itu sangat dimaklumi, namanya juga ilmu ekonomi dan kita bicara proyeksi yang bukan merupakan angka science. Namun dari sisi pemerintah kita menjelaskan kenapa angka itu muncul, jadi kalau dilihat pertumbuhan ekonomi itu bisa dilihat dari sisi permintaan dan penawaran, demand dan suplai. Dari sisi agregat demand bisa mencapai 5,3-5,6% itu mensyaratkan konsumsi harus tetap stabil di atas 5% dan selama beberapa tahun walaupun suasana sulit waktu harga komoditas jatuh tahun 2015 kita masih bisa menjaga, waktu inflasi juga rendah. Jadi harga stabil menyebabkan daya beli masyarakat relatif terjaga, confidence dari masyarakat terjaga terutama dari pemilu kita harapkan masyarakat menatap ke depan, kita lihat konsumsi menjelang ramadan, puasa, pertengahan tahun. Jadi itu persyaratan dari sisi konsumsi.

Dari sisi investasi ini mungkin tantangan, karena suku bunga kemarin cenderung naik paling tidak mempengaruhi. Kemudian suasana global sendiri tidak pasti mengenai perdagangan global melemah, pertumbuhannya masih di bawah 4% sekarang 3,8% pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi dunia turun lagi ke 3,3% dari yang tadinya 3,9% penurunannya sampai empat kali. Jadi kita menganggap suasana global agak murung, agak melemah jadi kita harus membuat ekstra effort supaya kita membuat iklim investasi kita menarik. Mungkin positifnya dengan selesai pemilu yang aman, sekarang orang melihat oh Pak Jokowi mendapatkan quick count yang cukup besar, ini memberikan kepastian arah kebijakan ke depan dan itu bisa dikapitalisi.

Yang agak berat lainnya adalah ekspor, karena lingkungan globalnya menekan atau melemah ini berarti tantangan untuk ekspor jadi lebih tinggi dan kita harus melakukan upaya yang lebih jauh lagi.

Kalau sisi ekspor kan unggulan kita, kita tahu sawit lagi diganggu sama eropa, di luar itu apa yang akan digenjot?
Kalau sawit di Eropa, tetapi di luar alternatif Eropa cukup banyak dan tumbuhnya cukup besar. Asia Selatan, India, Pakistan, Bangladesh itu negara yang penduduknya cukup besar dan mereka growing, berarti mereka memiliki kebutuhan itu. China tetap dengan jumlah penduduk paling besar dan ekonominya relatif tinggi. Tapi, kita lihat Afrika yang jumlah penduduknya 700 juta, di beberapa bagian Ethiopia, Kenya, Senegal mereka punya banyak sekali pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Jadi kita bisa mendiversifikasi.

Komoditas lain yang tidak berhubungan natural resource seperti coal, barang mineral lainnya itu saya kira memiliki korelasi besar dengan kondisi ekonomi dunia. Jadi kalau ekonomi dunia tumbuh tinggi, dia harganya juga tinggi dan permintaannya tinggi, jadi yang itu tidak bisa kita harapkan banyak. Namun, Indonesia punya diversifikasi sekarang produk dari manufaktur. Dulu konsennya pada labour intensif seperti sepatu, baju, tekstil, garmen. Tapi sekarang sudah mulai masuk, kita termasuk yang di dalam suplai chain meskipun tidak sekuat Thailand atau Vietnam. Tapi seperti produk handphone kita sudah masuk, elektronik merupakan bagian yang cukup memiliki potensi besar. Kemudian produk makanan, bahkan untuk Indonesia memiliki diversifikasi, makanan olahan. Jadi Indonesia salah satu area yang merupakan PR (pekerjaan rumah) kita untuk memperkuat industri kompetitivenes kita melalui produktivitas yang menigkat dan dari kemampuan kita untuk penetrasi pasar.

Kalau untuk investasi, selama kampanye atau jauh sebelumnya sering kali kita disebut China lagi China lagi yang investasi, sebetulnya posisi investasi terbesar siapa?
Singapura. Empat terbesar itu adalah Singapura, Jepang, RRT, sama Amerika. Jadi, ya orang kalau melihat mungkin Indonesia lebih kepada sentimen. Dulu tahun 70-an Indonesia mengalami sentimen negatif Jepang, makanya memunculkan kejadian Malawi. Jadi memang selalu ada konteksnya sosial, politik dalam hal ini dan khususul hari ini karena menjelang pemilu dan teknik pemilu sekarang diseluruh dunia dihadapkan teknologi informasi yang sangat cepat dan pemenang pemilu banyak sekali juga dilandasi oleh faktor yang sifatnya emosional maka teknik kampanye kayanya lebih happy kepada masalah emosional dan inilah menjadi tantangan kita merawat demokrasi supaya tetap berkualitas, artinya emosi kan tidak bisa dihilangkan, karena kita manusia ada keinginan rasionalitas, supaya kita lebih banyak berbicara program, apa yang dijanjikan, caranya mencapai itu bagaimana, hitungannya bagaimana, harusnya kan itu.

Stabilitas politik sangat menentukan sebagai salah satu daya tarik investasi asing masuk. Di luar itu apa bu?
Kalau istilah ekonominya kita sebut necessary condition. Jadi stabilitas politik itu necessary condition. Di negara yang tidak ada stabilitas politik tidak akan ada investasi, tetapi negara yang punya stabilitas politik tidak pasti bisa menarik inveatasi kalau tidak punya policy. Jadi inilah yang selalu kita di kabinet presiden minta bekerja lha untuk membuat ekonomi bergerak, investasi masuk, kalau perlu kita membuat keputusan yang sulit tapi penting, itu dilakukan. Apa yang membuat investasi datang, infrastruktur. Makanya Indonesia di dalam infrastruktur kualitas kita masih punya gap (rentang), makanya infrastructure gap kita masih tinggi di antara negara yang sama Indonesia masih di bawah, artinya kita perlu ngejar makanya kita bangun infrastruktur, jalan raya, tol, listrik, port, airport itu penting.

Kedua yang membuat investasi datang ke suatu negara adalah potensi negara itu sendiri dan kita punya, natural resource kita punya, penduduk besar, demografi kita muda, daya beli middle class nya mulai growth. Tapi yang sering membuay investor sering frustasi adalah peraturan, makanya kenapa kita ingin menyederhanakan dengan OSS, kenapa kita ingin ranking ease of doing business (EODB) harua naik, bukan karena kita ikut perlombaan dunia, tapi karena itu yang dijadikan faktor apakah investor merasa nyaman, dan ini saya tidak berbicara investor luar negeri saja, dalam negeri mereka juga membutuhkan kepastian regulasi, simplifikasi, dan kalau itu kurang dan masih membutuhkan lagi adalah risiko dan insentif. Makanya kadang-kadang pemerintah memberikan guarante (jaminan) seperti beberapa infrastruktur supaya investor masuk itu menggunakan guarante atau insentif seperti tax holiday, tax allowance. Hal seperti itu agar investor bisa menghitung, kalau ke Indonesia nilai investasinya segini, prospeknya segini, risikonya ini, kayanya masuk nih.