Wawancara Khusus Dirut Jasindo

Milenial Jadi Sasaran Perusahaan Asuransi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 18 Agu 2019 12:55 WIB
2.

Segmen Bisnis yang Dibidik Jasindo

Milenial Jadi Sasaran Perusahaan Asuransi
Foto: Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo, Eddy Rizliyanto (Istimewa/Jasindo)

Untuk Jasindo segmen bisnis apa yang dibidik?

Sebenarnya Jasindo asuransi pelat merah, orang tahunya kita itu segmen asuransi umum. Tapi, di asuransi umum sendiri Jasindo branding-nya sangat kuat di korporasi, biasanya megarisk yang kita cover. Masalah oil and gas, keuangan, aset-aset besar energi, pelabuhan. Orang tahu bukan hanya domestik tapi luar negeri itu asuransi Jasindo terkenalnya asuransi jasa.

Tapi bukan di ritel kita nggak punya produknya, kita punya, tapi lebih ngetop di corporate. Kalau kita sih membuat kelas di sini di internal corporate 60%, tapi ada juga yang sebut ritel 40%, tapi bagi perusahaan lain mungkin itu corporate juga. Kita anggap misalnya properti, aneka kami anggapnya di sini ritel.

Ritelnya seperti apa?

Misalnya kita travel insurance, itu dikategorikan ritel, asuransi kesehatan kita masih kelompokan di sini ritel padahal sebenarnya kesehatan yang di kita itu adalah kesehatan yang bagi perusahaan lain corporate, yang kita masuk itu adalah jamkesmen dan jamkestama dan asuransi pegawai-pegawai perusahaan besar. Misalnya perorangan kita belum masuk.

Apa Jasindo juga membidik milenial?

Kalau kita cerita milenial, kita harus lihat lagi besaran bahwa di tahun 2020-2035 Indonesia mengalami bonus demografi, di mana di periode itu adalah puncak suatu generasi Indonesia memiliki 70% penduduk kategori muda. Tapi muda itu menurut World Bank usianya 15-64. Sementara kelompok milenial yang lahir 1980-1990 sampai 2000 itulah bagian 70%. Tapi mungkin kalau rinciannya saya nggak tahu persis di populasi, kemungkinan yang disebut milenial 40-50% dari 70% bonus demografi itu. Kami menyiapkan strategi membuat korporasi dan ritel itu sama.

Namun demikian, kalau untuk potensi bisnis yang sudah dibuat konsultan kita PwC, bahwa bisnis kita tetap corporate, oil and gas, keuangan dan aneka. Aneka itu irisan. Aneka itu adalah sebagiannya termasuk ritel, personal accident, travel insurance, ada di situ semua makanya kami akan menggarap itu. Kami sedang menyiapkan platform digital menuju insurance tech. Karena sekarang sudah berubah model bisnis dari owning economy menuju sharing economy, makanya kita akan kolaborasi dengan perusahaan-perusahaam fintech untuk menggarap digital ini, digital insurance.

Digital insurance itu seperti apa, bisa dijelaskan?

Digital insurance ini untuk menggarap pasar ritel, lebih spesifik lagi pasar milenial. Milenial itu kan sudah terbiasa dengan gadget connected. Dia nggak makan nggak apa-apa, yang penting ada jaringan, baterainya full. Mereka nggak kemana-mana langsung bisa beli produk di gadget, kita sudah ada mockup untuk insurance tech, kalau mau beli produk asuransi bisa di situ. Bukan hanya itu, dia bisa melakukan transaksi yang lain, investasi, bayar pulsa. Tapi, di aplikasi kita, apa namanya, namanya belum disebut. Mudah-mudahan kalau bisa tahun ini kita launching. Mockup sudah ada, bisa investasi, bisa nabung. Yang kita kejar traffic, bukan hanya platform kita.

Milenilal sering disebut belum melek asuransi? Bagaimana tanggapannya?

Sebenarnya ada beberapa tantangan di Indonesia khususnya antara lain masalah literasi. Literasi keuangan khususnya asuransi masih rendah. Lebih kurang 15% yang disebut literasi 15% kira-kira, dari 100 orang cuma 15 orang yang tahu asuransi. Kalau yang punya (asuransi) namanya penetrasi itu cuma 8%. Tapi bagi kami justru potensi, yang nggak tahu mau kita garap.

Angka itu rendah, apa karena mahal?

Kita mesti kembali lagi, kenapa literasi rendah sosialisasi mungkin. Kalau dibilang mahal asuransi itu murah sebenarnya. Dan orang semua dalam hidup kan ada risiko, risiko itu exist, yang kita sebut risiko itu adalah finansial yang perlu kita asuransikan. Kami asuransi umum ya, jadi cerita risiko financial. Kalaupun jiwa kesehatan ada juga. Jadi yang mau kita cover mindset orang melek insurance dan kita aktif mensosialisasikan itu mesage OJK kita harus ikut mensosialisasikan. Memang potensi itu kita sendiri aktif.

Ada sudut pandangan BPJS sudah cukup, menurut bapak? dan kapan sebaiknya punya asuransi?

Sebenarnya kalau untuk anak milenial dia itu pasti melek asuransi setelah memiliki pendapatan sendiri. Kalau tidak, tentu yang mengcover adalah orangtuanya. Asuransi itu, asuransi kecelakaan diri termasuk travelling tadi, kesehatan sudah ada BPJS sekarang, sudah enak sekarang. Tapi kan itu hanga untuk sakit, apabila ada sakit-sakit critical ilnes, itu ditutup sendiri orang tua. Kalau punya pendapatan sendiri dia pantas sekali menutup itu. Critical illness biasanya 7, cancer, jantung, apalagi yang besar-besar saya juga lupa itu nggak terlalu mahal kalau ditutup sangat pantas.