Blak-blakan Menteri Perhubungan

Transportasi Pintar di Ibu Kota Baru

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 04 Okt 2019 10:00 WIB
2.

Konsep Transportasi Ibu Kota Baru

Transportasi Pintar di Ibu Kota Baru
Foto: Eduardo Simorangkir

Smart city-smart mobility, konsep seperti apa itu?
Kita memang dapat amanah untuk melengkapi ibu kota negara yang baru dengan aksesibilitas yang masa depan. Apa itu? Kita pasti buat satu konsep agar ibu kota negara jadi salah satu kota baru, kota masa depan, dan menjadi contoh bahkan jadi destinasi pariwisata karena aksesibilitasnya yang punya konsep masa depan.

Apa itu? Tentu angkutan masa depan itu adalah angkutan masal, 70% angkutan di ibu kota baru nanti angkutan massal, pasti konsep konektivitas transportasi kolaborasi antar moda harus baik. Jadi, kita bayangkan kalau sudah punya Bandara Balikpapan, Bandara Samarinda maka begitu turun dari sana harus ada konektivitas apakah itu jalan tol, apakah itu kereta api yang langsung menuju ibu kota negara, dan itu diharapkan kurang dari 30 menit, jaraknya 30-40 kilometer dalam range.

Satu keniscayaan harus ada jalan tol jalan highway dan harus ada kereta api. Nah kalau bicara kereta api, kereta api di masa depan berkelanjutan itu kereta bertenaga listrik, rencana kita itu pakai kereta listrik, biasanya kita tahu sekarang ada MRT dan sebagainya.

Ada peralihan antar moda dari bandara ke kota, katakanlah di titiknya itu HI gitu satu titik itu di pusat kota. Tapi di antara fungsi di pusat kota itu nanti bisa bus listrik, bisa semacam trem, atau autonomus, ada satu kombinasi bus dan kereta yang berjalan di atas batas-batas imajiner yang bisa turun dan naik dan sebagainya. Ini semuanya listrik.

Sehingga seseorang yang datang dari Jakarta sampai di Balikpapan naik kereta listrik, sampai dia di suatu titik tertentu itu listrik. Jadi antar moda akan diperhatikan dan juga listrik. Ini lah inisiatif kita untuk membangun ibu kota negara

Beberapa saat yang lalu saya ke sana sama pak Basuki. Itu yang namanya teluk Balikpapan sepanjang 70 km lebarnya 5 km ada yang 7 km itu indah sekali, pohonnya masih ada, ada pulau masih hijau. Ini juga jadi tantangan bagi kita untuk lakukan reservasi apa yang jadi indah sekarang harus dipertahankan.

Angkutan sungai juga akan indah, bayangkan di situ ada angkutan sungai. Bayangkan bentang di sana itu besar bisa saja ada landasan air sekitar situ.

Saya lihat ada inspirasi lah bagi ibu kota negara itu, maka kami sampaikan sebagai smart city smart comunity, dan itu akan mejadi satu destinasi. Bayangkan waktu Indonesia memiliki itu jadi kota idaman.

Bahkan, dalam konsepnya Kementerian PU mengatakan kota ini bukan cuma ibu kota negara tapi jadi ibu kota ASEAN. Di mana talent orang-orang pintar, anak pintar, keluarga unggulan, mau tinggal di sana. Sehingga kita harus berikan akomodasi prasarana yang baik selain pendidikan rumah sakit dan lain-lain.

Tadi bicara alat transportasi serba listrik, infrastruktur listriknya memadai nggak pak, Jakarta aja blackout nih. Kebayang kalau ibu kota baru yang super canggih kalau listrik terbatas kan bisa repot?
Saya bergeser sedikit, kita ada konsep namanya Indonesia sentris artinya bangun itu bukan di Jawa aja tapi seluruh Indonedia. Secara khusus Kalimantan itu daerah tertinggal dengan pertumbuhan hanya 2%, dibanding Jawa yang jauh mendekati angka 7%. Artinya apa, ada yang belum deliver.

Apa relevansinya saya bicara seperti ini? Di sana ada gas, ada minyak, ada batu bara, sehingga saya pikir dua tiga tahun ini kita bisa buat pembangkit yang efisien. Sehingga bisa mensuplai listrik dengan baik, saatnya kita lakukan inisiatif yang konkret.

Pak Presiden setiap bikin bandara itu selalu bilang pastikan bandara itu terhubung dengan tempat wisata. Jadi kalau kita akan bangun ibu kota negara pastikan juga orang mau investasi di situ kita siapkan infrastruktur dan utilitas ke sana.

Meski masih digodok apa sudah ada yang sounding, China salah satunya mau bangun transportasi publik itu gimana?
Kalau itu secara khusus mau investasi, ke saya ya, belum ada. Tapi saya bayangkan ini ada inisiatif yang masif dilakukan pemerintah yang berikan kesempatan untuk orang investasi.

Apalagi dalam konsep pendanaan ibu kota negara ini sebagian pakai APBN, diperkirakan sekian triliun itu 20% dari APBN. Tapi yang 80% itu KPBU kerja sama dengan swasta dan proyek lain yang mendukung. Jadi saya pikir by design kita mau buat proyek inisiatif yang berikan kesempatan bagi masyarakat investasi baik di dalam dan luar negeri mau ke situ.

Jadi investasi ada yang naturally datang dari investor, lalu ada juga yang kita lakukan.Ada yang by design dan undang KPBU itu.

Seperti di Labuan Bajo Makassar, kita buat project proposoal yang dishare ke masyarakat untuk dia investasi salah satunya investor asing. Apa yang kita lakukan di sana investor asing itu berminat sekali dengan pola yang kita lakukan di beberapa tempat bukan tidak mungkin ini sangat Diminati.

Jadi sejauh ini belum ada ya?
Belum, belum.

Soal kemungkinan peluang dari China, mengingat sentimennya sensitif soal investasi dari China di masyarakat, seberapa besar peluang pemerintah menerima hal itu?
Saya pikir investor bisa datang darimana-mana, bisa dari Jepang, dari Korea, dari China, dari Australia. Saya malah kemarin didatangi investor dari Kanada.

Jadi investasi itu keniscayaan bahwa masyarakat dunia bisa investasi di seluruh penjuru negara. Apalagi Indonesia itu salah satu negara yang rating kemudahan investasinya itu naik, sehingga ya tidak heran kalau banyak orang mau investasi.

Selama ini kita belum pernah dengar kan Kanada mau investasi, tapi dia bilang saya itu sudah di China, saya di China bangun kereta api. Mengapa nggak langsung keisini, ini berita baik ya. Apalagi indikasi media internasional menyebut Indonesia merupakan salah satu negara yang pertumbuhannya relatif baik dan cara kerja presiden yang baik pasti investor senang ke Indonesia.

Transportasi tanpa rel tadi sudah di mana aja yang terapkan?
Itu ada Australia, China dan Jerman. Saya bakal tugaskan Ditjen Darat ke Jerman untuk survey apa yang terjadi di sana. Kita combine aja apa yang ada di negara itu, kita masih punya wakru tiga empat tahun kan banyak ini.

Tadi sempat singgung soal pembangunan transportasi tidak melulu di darat, di sungai dan laut juga, seberapa besar intensitas pembangunan transportasi laut?
Laut dan udara adalah sarana yang mempersatukan bangsa ini. Bagaimana kita ke

Papua dan Aceh kan cuma bisa udara dan laut. Udara untungnya cepat, kalau laut kapasitasnya besar.

Sebagai ibu kota negara itu punya Teluk Balikpapan yang drafnya dalam, teluk itu sampai 20 sampai 40, ini ideal dibuat pelabuhan. Oleh karenanya konektivitas air bisa digunakan, terutama untuk logistik. Ada sayur, sapi dan sebagainya itu akan disempurnakan kami sudah bahas cukup detil. Rupanya rencana yang sudah dibangun cukup, tidak banyak lagi investasi yang harus kita lakukan.

Progress report bapak selama mimpin Kemenhub apa saja sih pak yang boleh diingatkan?
Ini masih fresh from the oven ya, bahwa sektor infrastruktur dan konektivitas salah satu yang berhasil di lima tahun terakhir. Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Presiden atas amanahnya dan semua pihak yang dukung kita. Memang spreading konektivitas transportasi sangat beragam, kita memang ingin melakukannya dengan tujuan memberikan dampak ke sektor lain.

Pak Presiden selalu menyampaikan kepada kami, Pak Menteri kalau investasi itu pastikan deliver berguna buat masyarakat, maka kita menseleksi apa yang dilakukan. Kalau sekarang lebih tajam lagi, yang namanya buat bandara misalnya iru harus mendukung parisiawata, kami selalu berpedoman kepada itu.

Katakan kita bersama BUMN bangun banyak bandara misalnya, ada Soetta, Bali, Kulonprogo, Medan, Balikpapan, Semarang dan sebagainya. Ini ada satu lompatan bagi konektivitas udara, ini memberikan layanan yang baik.

Pelayanan itu tidak terbatas pada bandara besar saja, tapi bandara kecil seperti di Miangas, Berau, Rote dan beberapa kota di Papua. Kayak di Asmat, Merauke, Manokwari dan sebagainya, kita bangun semua. Sehingga masyarakat yang hanya tahunya konektivitas laut aja, mereka sudah bisa menikmati dan menggunakan udara.

Bahwa terjadi ekses wah tahu-tahu tiket jadi mahal, itu menandakan bahwa konektivitas udara ini eksis, hubungkan pulau-pulai dan kota-kota di manapun itu, oleh karenanya saya hati-hati dalam upayakan kebijakan.

Di sektor laut kita elaborasi yang dilakukan BUMN dengan pelabuhan besar, katakan lah seperti Priok ya. Tidak ada yang membayangkan bahwa di Priuk ada kapal dengan kapasitas 10 ribu teus, 10rb kontainer. Karena kita berikan sesuatu yang mudah bagi masyarakat perkapalan dia mau ambil itu.

Tugas kita adalah bagaimana buat Tanjung Priok sebagai hub, jangan barang kita hub-nya di Singapura, di Malaysia, kita akan rebut itu. Bagaimana juga di Soetta dan Ngurah Rai itu jadi hub, sehingga manfaat ekonomis, apakah itu kargo apakah itu turis datang langsung ke Indonesia.

Kereta api ini kita juga cukup signifikan sekali dua tahun ini dengan adanya MRT, kita tidak terbayang MRT ada di Indonesia. 3-4 tahun lalu Pak Jokowi itu tetapkan ini harus dibangun, keberanian itu yang sulit. Mungkin kalau saya yang jadi presiden atau gubernur saat itu nggak akan jadi. Tapi Pak Presiden tegaskan ini bisa kita bangun.

Ini bagaikan jadi satu barrier entry yang jadi hambatan tapi justru jadi suatu yang biasa. Sehingga MRT sekarang sudah 15 km. Lima tahun lagi mendekati 100 km untuk hubungkan titik-titi di Jakarta. Bahkan LRT yang belum ada keberanian kita bangun di Palembang. Sehingga koneksitas di kota besar Indonesia kita bangun antar moda dan bisa terjadi.

Satu inisiatif satu langkah yang berani tidak serta merta tunjukan hasil, tapi itu harus dilakukan. Palembang misalnya jadi contoh, okupansinya baru 30-35%. Kami koordinasikan dengan Pemda feeder harus ada. Kita elaborasi masyarakat harus membutuhkan itu, dengan begitu akan jadi anchor masyarakat akan pindah dan kemacetan berkurang. Palembang ini jadi contoh, Jakarta bentar lagi, Surabaya mau eksis. Jadi memang angkutan masal harus jadi yang diutamakan.