Wawancara Ketua Kadin

Siasat Pengusaha Bertahan di Tengah Kemelut Corona

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 01 Apr 2020 14:52 WIB
Ketua Umum Kadin Rosan P. Roeslani
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani. Foto: Citra Nur Hasanah / 20detik

Itu kan terkait THR juga, bulan puasa sebentar lagi. Di sisi lain masyarakat butuh, kondisi pengusaha juga lagi pahit-pahitnya, adakah usulan nggak kasih THR, ataupun pemberian hanya separuh?
Kita sudah bicarakan, karena kan THR ini UU ya, wajib. Peraturan Menaker kalau kita telat pun kena denda gitu, ini memang ada teman-teman kita mungkin mau bayar full, terkendala karena terdampak langsung. Ada juga yang 50%. Ada juga yang tetap komit, tapi boleh nggak dicicil, jadi tidak semua. Ujungnya karena apa? Cashflow lah ini.

Nah kita lagi cari formulanya, ini juga kan buat jaga daya beli masyarakat juga kan. Ini masa nggak mudah. Ada juga pemikiran seperti di London, THR ditanggung pemerintah. Ada usulan begitu. Kan di luar negeri aja gaji ditanggung 80% juga ada. Jadi opsi itu ada, jadi pemerintah membantu para pekerja melalui dunia usaha. Salah satunya lewat perbankan, kita pinjam duit ke perbankan kita bayarkan THR tapi suku bunga recovery bond ini diminta rendah.

Usulan kami sih, kan kalau lewat bank mereka juga butuh marjin kita ngerti. 7 days repo mungkin 4,5%, mungkin bank tambah satu jadi 5,5%. Jadi ada itu yang dipikirkan, tapi memang recovery bond ini untuk mencegah PHK, jadi itu salah satu solusinya. Maka kita kejar agar ini segera berjalan.

Pertengahan Maret lalu Kadin ketemu Presiden, Kadin usulkan kebijakan lockdown, tapi sampai hari ini Presiden tidak mau ambil keputusan itu. Diskusi sama Presiden kemarin seperti apa?
Sebetulnya kita nggak bicara lockdown secara spesifik. Tapi justru kita bicarakan bahwa ini akan panjang Pak Presiden. Kita minta beberapa suatu kebijakan insentif, alhamdullilah meeting-nya pagi, siang langsung dirapatkan di kementerian ekonomi dan terkait.

Sorenya saya dipanggil pak Menko bahas ini, akhirnya keluar lah kebijakan fiskal PPh 21, 22, 25, itu semua dari kita. UMKM, kita juga ada bahas pembayaran BPJS, tapi BPJS belum keluar ya, jadi sudah ada beberapa keluar. Kita saat itu mintanya memang langsung semua industri saat itu, tapi yang keluar kan baru manufaktur dan pariwisata serta turunannya. Kita minta dari awal untuk itu.

Berapa poin yang diminta pengusaha, dan apa saja yang sudah dipenuhi?
Mungkin kurang lebih ada 70% lah, kan kalau dilihat ini kan makin lama makin besar, negara lain pun insentifnya makin besar. Karena tidak ada yang memperkirakan sebegitu dahsyat. Dulu mikir ini hanya sebentar, turun langsung naik lagi, V Curve. Ada yang bilang U Curve. Ini sekarang dibilang lagi L Curve, ini ada kurvanya. Mungkin ini lah ekuilibrium baru, sekarang banyak negara bicaranya pertumbuhannya minus, China aja diprediksi cuma 1%. India aja hanya nggak sampai 2%, gitu.

Berarti hanya Indonesia yang targetnya 5% ya?
Yah kita jangan bicara 5% lah sekarang. Dengan kondisi saat ini, kan di Kadin ada tim juga kita ambil assesment. Ini nggak menutup kemungkinan bisa akan minus. Assesment kita melihat, ini bisa jadi minus pertumbuhan kita.

Siasat Pengusaha Bertahan di Tengah Kemelut CoronaFoto: Citra Nur Hasanah / 20detik


Kondisi ini kan 180-an negara yang terkena ya, kalau hadapi resesi global menurut Anda apa yang akan terjadi di Indonesia?
Kalau dulu krisis Asean bisa minta tolong ke negara lain. Sekarang semua terdampak, jadi memang kita harus hope for the best but prepare for the worse. Kita harapannya tentu recovery lebih cepat ekonomi kita jadi lebih baik, tapi kan kenyataannya ini takes time. Eventually, kita saya yakin malah kita bounce back dan tumbuh lagi gitu, tapi ya kita mesti preparing dulu. Oleh sebab itu, yang sudah dilakukan pemerintah realokasi anggaran itu saya rasa itu suatu hal yang memang harus dilakukan.

Dan sekarang nomer 1 apa, keselamatan dan kesehatan. Itu dulu lah. Kedua ya ekonomi juga harus berjalan. Nah ini realokasi anggaran, kan kita tahu anggaran yang besar-besar, bisa direalokasi. Kita tahu paling besar pendidikan, tapi ya pendidikan jangan direalokasi lah gitu ya. Kita tahu berikutnya infrastruktur, ada pertahanan dan keamanan. Itu mungkin dua yang bisa direalokasi. Karena sekarang skala prioritas adalah kesehatan dan keselamatan.

Beberapa waktu lalu Kadin ketemu BNPB dan PMI, ketika satu sisi mesti kencangkan ikat pinggang, tapi Anda dan teman-teman kumpulkan bantuan sosial. Namun, sekelas pengusaha dinilai masih kecil, apalagi kalau ditambah konglomerat, tanggapannya bagaimana?
Sebetulnya gini, saya sudah kumpulkan mereka yang besar-besar. Jadi kita ada kerja sama dengan satu Yayasan Bunda Suci kita target Rp 500 miliar. Per kemarin sudah ada Rp 360 miliar, ini dari grup besar kita kumpulkan.

Saya telponin, Alhamdulilah mereka respons. Maka kita dalam bentuk alat-alat kesehatan, belum lagi yang di luar itu, yang kita minta pada grup besar lainnya mereka mau nyumbang langsung boleh saya bilang. Kita semua ke PMI, ada sumbangan Rp 10 miliar dari kami, ke BNPB ada Rp 20 miliar. Itu target di luar Rp 500 miliar, kalau mau nyumbang langsung kita bilang silakan.

Nah ini yang kita lakukan, ini masa berat. Tapi kita tahu ini masa-masa yang kita bilang kalau dulu banyak menikmati dari pemerintah, dari rakyat Indonesia, ayo kita give back. Alhamdulilah respons positif. Malah banyak, kadang saya sampai terharu, mereka nelpon saya, Pak Rosan saya dari ini, saya nggak kenal, kadang Whatsapp saya, kita mau partisipasi pak saya tahu Kadin aktif melakukan ini. Ada yang telpon ke saya lagi, ada yang transfer Rp 20 juta ada yang Rp 100 juta. Setiap hari ada yang kontak ke saya, transfer ke saya, saya nggak kenal, ke account kemanusiaan Kadin.

Ini luar biasa lho saya bilang, ternyata terus aja nih. Maka saya imbau terus mari kita sama-sama, dan responsnya Alhamdulilah positif. Masyarakat kita dalam kondisi ini ternyata merasa melupakan egonya, rasa persatuan kesatuannya, gotong royong ini muncul. Kadang saya terharu ini banyak yang nggak saya kenal datang ke kita.

Ya udah masuk itu terus, kita beli alat, sumbangin. Ya kita prioritas ke APD dulu, karena ini kurang. Lalu kemarin ke test kit, ke masker. Masker aja minimum kita kasih 2 juta itu udah pasti ada. Test kit kita sudah salurkan sejuta, kita masih order lagi. Penyaluran memang kita ini lewat BNPB, PMI, lewat Kemenkes. Saya sampaikan juga supaya barang ini yang masuk ke sini di Bea Cukainya lancar.

Pak Heru juga di Bea Cukai responsnya bagus. Walaupun saya sampaikan juga ke Bu Ani ke pemerintah, jangan dikasihkan pajak juga barangnya dari pemerintah ke dunia usaha yang masukin barang buat kasih ke rumah sakit dan masyarakat. Jangan dikasihkan pajak juga. Jadi memang perlu kerja sama secara keseluruhan.

Mau sampai kapan penggalangan donasinya dilakukan?
Terus ini sampai corona ini berakhir, kita kumpulkan terus aja. Kita lihat we have to prepare for the worse kan, kita nggak bisa sampai tanggal 1 April atau kapan. Nggak bisa kayak begitu, terus aja gitu selama masih ada yang mau nyumbang dalam bentuk apapun dengan jumlah berapapun akan kita apresiasi.

Apakah alokasinya berbeda-beda ya, kalau sekarang APD apa lagi yang menyusul?
Iya kita lihat kan sekarang APD nih ya, kalau dulu tes ki, lalu APD mulai menjerit. Lalu ini ada lagi ventilator, ini pasti nanti bahan-bahan pokok juga. Jadi kita kerja sama dengan beberapa retailer untuk siapkan itu untuk antisipasi untuk partisipasi ke bahan pangan dan bahan pokok.

Apakah Anda dan teman-teman pengusaha memiliki perasaan khawatir keadaan di Indonesia akan memburuk, bahkan sampai chaos?
Saya menyampaikan ke pemerintah kita harus kaji semua opsi semua kejadian yang mungkin timbul harus ada pemikirannya, opsinya, antisipasinya semua harus ada dan tentunya orang bisa jadi chaos kalau apa sih? Kalau perut kosong. Kalau perut kosong nggak ada makanan ujungnya bisa terjadi itu, oleh sebab itu, harus dipastikan bahwa logistik makanan dan kebutuhan sehari-hari harus selalu ada. Dengan harga yang terjangkau.

Saya juga sampaikan ke pengusaha kalau ada yang ambil keuntungan nggak wajar di saat kayak gini saya sendiri yang akan laporkan kepada pihak berwajib. Ini kan ada aja kadang-kadang yang nakal-nakal. Misal bikin APD tapi harganya harus segini, saya bilang lu mendingan nggak usah bikin. Saya bilang ini bukan saatnya lah, kalau mau cari untung di saat begini keterlaluan begitu.

Kalau bisa kita harga cost aja, udah gitu aja. Kalau bisa berikan gratis ya berikan, kalau nggak kuat juga paling nggak ongkos produksinya aja lah supaya pegawai mereka bisa digaji.

Di media sosial ada pembicaraan semua usaha tiarap, tapi industri telekomunikasi pasti panen terlebih lagi dengan program belajar dan kerja dari rumah. Apa ada imbauan dari Kadin untuk pengusaha telekomunikasi kasih diskon?
Pemakaian kan melonjak tajam memang karena kerja dari rumah, anak kita aja belajar dari rumah e-learning. Menurut saya sih mestinya itu bukan cuma diberikan diskon. Mungkin kalau berhubungan dengan pendidikan mestinya bisa dibebasin ya gitu. Ini lah saatnya semua berkontribusi. Pasti ada juga memang nggak terdampak industrinya, bisa survive lah gitu ya.

Mereka mestinya bisa kasih diskon lah kalau perlu di jam tertentu dikasih diskon itu kan bisa seperti itu. Bisa diatur lah semua itu. Bisa dilakukan itu, menurut saya harus dilakukan lah.

Halaman


Simak Video "Pasar Domestik Kini Jadi Sasaran Pengusaha Furnitur"
[Gambas:Video 20detik]

(ang/ang)