Wawancara Khusus Komisaris Shopee

Mengorek Peluang Startup di Tengah Pandemi Corona

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 05 Jun 2020 09:19 WIB
Direktur Toba Bara, Pendiri Indies Capital, VC Ventures, Presiden Komisaris SEA Group Indonesia, Shopee, Dewan Komisaris Gojek, Bukalapak
Foto: Dok. Inspirasi Digital

Sejak kapan berkecimpung di dunia investasi startup?

ya memang karena sebagai ketua Asosiasi, lebih banyak berbicara untuk urusan asosiasi, urusan undang-undang Minerba begitu. Sebenarnya saya sudah 7 tahun investasi teknologi tapi emang, ya bukan buat dipamerin lah. Sebagian memang sudah jalan seperti di Gojek orang sudah tahu, Bukalapak juga ya sebenarnya hanya investasi saja dan SEA yang orang juga banyak yang belum tahu.

Jadi sebelum 2017 saya investasi pribadi, saya dari perusahaan saya sendiri, ada investasi dari ya investasi kecil-kecil tapi rupanya alhamdulillah ada sebagian yang sukses juga. Tapi sekarang saya ada fund sendiri yang saya buat, perusahaan investasi saya sendiri namanya Indies, itu saya ada investasi buat company yang masih kecil lewat sub fund namanya ACV, kalau di Indies untuk perusahaan-perusahaan yang besar yang sudah established. Jadi memang saya bikin profesional investment company, jadi ada sekitar 20 orang yang buat ngurusin investasi.

Kalau masuk Shopee sejak kapan?

Shopee saya ikut sebelum Shopee ada. dulu ya saya ikut sebagai investor awal aja, terus sama founder-nya diminta jadi Chairman di sini ngurusin. Sebelumnya kan Shopee mulai aktif 2015, dulu namanya Garena. Investasi saya kecil-kecilan lah, waktu itu kan saya nggak tau Garena jadi apa, cuma gaming, masih kecil lah. Revenue-nya ya Shopee 0, Garena saat itu hanya Rp 1 triliun, tapi sekarang sudah Rp 50 triliun revenue-nya.

Shopee saja sekarang sudah Rp 25 miliar. Market cap kita sekarang US$ 40 miliar kurang lebih Rp 500 triliun, jadi Alhamdulillah. Shopee masuk Indonesia Desember 2015. Saya ya komisaris pertama dan satu-satunya di Shopee dan Garena Indonesia.

Kenapa memilih bisnis yang jauh berbeda dari bidang sebelumnya batu bara?

Jadi secara garis besarnya kalau bisnis batu bara ataupun power plant itu memang bisnis keluarga, saya perwakilan dari keluarga. Saya investasi di teknologi karena keluarga tidak ada yang tertarik, karena dianggap terlalu berisiko. Saya sendirian, berusaha, belajar sendiri. Jujur karena passion saya investasi. Jujur baru muncul 1,5 tahun terakhir terpaksa, karena dengan industri yang semakin besar kita juga harus juga bisa ngomong ke stakeholder, ya hom pim pa saya yang kena.

Dari batu bara dan teknologi mana yang paling menjanjikan?

Mungkin kalau energi kalau ada up and down jelas, tapi ka kalau Toba Bara fokusnya power plant dan inginnya renewable. Tapi kalau saya pribadi karena saya paling banyak investasi teknologi, tentu saya melihat teknologi itu prospek. Apalagi dengan work from home ini luar biasa. Peningkatan dari sisi orang penggunaan teknologi lebih banyak, baru bangun pagi orang sudah menggunakan mobile. Pesanan dari Shopee saja sekarang jauh lebih banyak dibanding tahun lalu, peningkatan yang luar biasa. Orang mau transaksi pasti e-wallet. Kirim barang semuanya sekarang logistik, kerja pakai aplikasi video conference.

Menurut saya perubahan yang cukup mendasar dan sekarang kantor-kantor sudah ngetes, bisa nggak bisnis saya jalan tanpa orang ke kantor dan ternyata bisa. di Amerika, perbankannya saja sekarang udah bisa hampir 90% fungsinya sudah nggak perlu masuk kantor. Ini sebenarnya transformasi yang pasti terjadi hanya gara-gara COVID dipaksa lebih cepat.

Kita sudah cukup banyak investasi ada Warung Pintar, ada Aruna, dan lain-lain. Jadi banyak perusahaan yang membuat market lebih efisien. Kita di semua lini. Kita sudah invest sudah sekitar 70 perusahaan, total jumlah investasi sekitar US$ 100 juta.

Kenapa berani investasi uang sebesar itu sementara startup tempatnya bakar duit, apa yang membuat Anda yakin?

Jadi bisa dibilang market-nya itu, segmentasi kan memang besar, bisa dibilang investasi awal lah, tapi ada juga perusahaan profit karena COVID. Tapi secara garis besar memang market-nya ini, potensinya sangat besar. Misalnya e-commerce, kan orang belanja masih 98% offline, online-nya masih 2%. Kalau kita bisa naik 10% aja, itu udah 5 kali lipat. Tapi adaptasi Indonesia jauh lebih cepat dari Amerika misalnya. Karena pertama muda-muda, kedua sangat suka mobile, ketiga yang sangat suka efisiensi. Jadi adopsi market Indonesia tuh mungkin salah satu yang paling maju di dunia. Jadi saya percaya dari 2% ke 10% itu mungkin bisa terjadi dalam waktu 5 sampai 7 tahun ke depan. Karena contohnya UMKM, pengusaha ritel kecil mau nggak mau harus online marketing, karena ya orang nggak bisa datang ke toko.

Berlanjut di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3