Wawancara Khusus Fajrin Rasyid

Mengupas Rencana Pendiri Bukalapak Mendigitalkan Bisnis Telkom

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 27 Jul 2020 09:15 WIB
Co-Founder dan CFO Bukalapak
Foto: detikINET/Adi Fida Rahman

- Dibandingkan tempat sebelumnya di Bukalapak seberapa menantang jabatan yang sekarang?

Berbeda tadi, berbeda. Jadi kalau dibilang mana yang lebih menantang susah menjawabnya karena itu adalah hal yang berbeda saja. Sama kaya susah mana lari atau renang gitu kan, ya beda gitu, seperti itu. Nah challenge di dalam perusahaan sebelumnya katakanlah ya soal growing dari yang tadinya nggak ada atau mungkin aplikasi dimiliki oleh kecil kemudian dikembangkan.

Challenge di sini (Telkom) adalah kita sudah memiliki bisnis nih yang besar nih, tetapi memang beberapa pihak menganggap atau menilai industri connectivity ini ke depan cukup challenging lah seperti itu, tidak semenarik 10-20 tahun lalu.

Dan di saat yang sama ada industri digital service dan digital platform yang dirasakan pertumbuhan atau dinilai oleh pelaku pasar atau analis di pasar ini sangat menarik nih dari sisi pertumbuhan, dari sisi user, dan lain sebagainya sehingga challenge saya adalah bagaimana mengubah mindset atau memperkaya mindset gitu ya karena again, yang baik-baik ya tetap saja gitu kan.

Untuk bisa bergerak ke sana tadi gitu kan, challenge-nya biasanya kalau kita bicara soal perusahaan yang sudah besar itu salah satunya adalah merasa sudah oke nih. Nah inilah yang menjadi tantangan. Kita jangan sampai merasa sudah oke. Kita harus siap nih dengan tantangan ini, otherwise (kalau tidak) perusahaan ini akan sulit bergerak ke atas tadi. Itu yang menjadi tantangan di sini bagaimana menumbuhkembangkan mindset agar terus bergerak ke arah yang lebih besar lagi.

- Seberapa optimis Anda untuk bisa memikul tugas-tugas berat itu di sektor digital?

I don't deny that this is not an easy jobs (Saya tidak menyangkal bahwa ini bukan pekerjaan mudah). This is very challenging (Ini sangat menantang). Hampir semua at least (setidaknya) semua orang yang bertemu dengan saya itu merasa bahwa Telkom ini punya tantangan cukup besar untuk bergerak ke arah digital telko karena beberapa pihak menilai DNA-nya berbeda.

Beberapa pihak lainnya menilai yang dibutuhkan dari sisi capability berbeda. Yang sebelumnya mungkin berurusan dengan kabel, tower dan semacamnya, sekarang berurusan dengan aplikasi-aplikasi OTT begitu kan, barangkali memiliki skill set yang berbeda dan itu challenge di situ. Tapi again, ternyata kita juga punya program-program atau rencana-rencana untuk mengatasi hal tersebut atau untuk menuju ke arah sana tadi.

Sebagai contoh kita juga mengembangkan program-program untuk mendukung bagaimana agar karyawan di Telkom itu bisa lebih digital savvy, jadi kita memiliki konsep yang kita sebut sebagai digital talent. Jadi talent di Telkom ini ada nih semacam matriks skill set yang bisa dilihat apakah karyawan ini sudah termasuk sebagai digital talent atau belum. Kalau misalkan sudah ya bagus, kalau belum, kita memiliki program pelatihan-pelatihan. Jadi gimana biar karyawan yang belum digital talent, belum digital savvy itu bisa in away ke arah sana juga.

- Kalau tugas sebagai direktur digital business sudah makanan sehari-hari di tempat Anda sebelumnya? Bisa dibilang begitu?

Ada hal-hal yang mirip dalam arti kalau kita bicara soal tadi ya di Telkom di digital service ya katakanlah, belum sekuat digital connectivity. Jadi saya melihat peran direktur digital business ini semacam startup besar within the big company gitu kan. And I think untuk itu saya dan teman-teman di bawah juga merasa bahwa kita mesti menerapkan startup mindset juga di sini.

Seperti apa sih? misalnya data driven. Jadi kalau dulu mungkin kalau kita bicara soal perusahaan besar ya, kadang-kadang yang penting perintah atasan gitu kan, bukan di Telkom ya tapi, katakanlah di satu perusahaan. Nah di sini saya tegaskan kepada tim saya bahwa saya kalau misalkan saya sendiri nih minta untuk mengembangkan suatu fitur di aplikasi yang kita kembangkan di dalam tim misalnya 'tolong dong bikin fitur A nih' ternyata datanya menunjukkan bahwa user dari aplikasi tersebut, customer gitu ya merasa bahwa fitur A itu jelek.

Nah kalau misalkan seperti itu, saya sendiri nggak boleh baper, saya sendiri ya sudah kalau memang datanya menunjukkan bahwa customer nggak suka fitur A ini ya sudah fitur A-nya dihilangkan saja, ya nggak masalah so three is data driven gitu kan, kita mengambil keputusan berdasarkan data, baik itu data tersebut ternyata berlawanan dengan keinginan pribadi saya ya, ya saya nggak boleh baper lah, kasarnya gitu, dan lain-lain lah, ada agile, bagaimana kita terus menerus berkembang gitu kan. Jadi jangan sampai kita kebanyakan mikir. Yang penting itu eksekusi, kita coba bikin semacam pilot atau implementasi suatu ide. Dari situ kita melihat bagaimana sih hasilnya dan bagaimana kita bisa improve dari situ.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3