Wawancara Khusus Dirut TransJakarta

Buka-bukaan Soal Halte Jadi Korban Kericuhan Demo Omnibus Law

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 06:00 WIB
Dirut Tj, Sardjono Jhony
Foto: Dirut Tj, Sardjono Jhony (Dok.TransJakarta)

Pengembangan Bisnis

Sejak MRT hadir, apakah ada penurunan penumpang Transjakarta?
Tidak ada. Dulu kan ketika kajian MRT keluar, kan seolah-olah Transjakarta itu terancam marketnya, tidak. Itu betul-betul berbeda. Halte kita kan lebih banyak, orang kan tentu lebih suka dengan halte yang dekat. Tapi kalau MRT stasiunnya banyak kan nggak mungkin. Masa iya kereta sepanjang itu berhentinya sedikit-sedikit, nggak mungkin.

Jadi transportasi publik massal yang kualitasnya baik, bersih, aman, nyaman, pelayanannya baik, andal itu kan sekarang jadi kebutuhan masyarakat. Nggak perlu dipromosikan, tapi masyarakat memang membutuhkan transportasi publik, massal, yang seperti itu. Jadi kita nggak khawatir soal market. Karena yang penting kita provide, kita menyediakan layanan transportasi umum yang terbaik. Nanti masyarakat yang menilai. Kalau penumpang naik terus, berarti sedikit banyak dinilai baik oleh masyarakat pengguna.

DKI sedang menggencarkan program satu kartu untuk semua moda transportasi di Jakarta, dengan didirikannya PT Jak Lingko Indonesia yang merupakan perusahaan patungan PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ), Transjakarta, PT MRT Jakarta (MRTJ), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro). MITJ sendiri adalah perusahaan gabungan MRT dan PT KAI di bawah naungan Kementerian BUMN dengan porsi saham di PT Jak Lingko sebesar 40%, dan Transjakarta, MRT, Jakpro hanya 20%. Bagaimana Transjakarta melihat bedanya porsi saham, terutama dengan MRT?

Kalau bicara sinergi BUMD, nggak penting soal berapa persen share-nya, yang penting manfaatnya yang sebesar-besarnya untuk masyarakat yang di bawah kontrolnya Pemprov DKI. Nanti mau pakai tangannya MRT boleh, pakai tangannya Jakpro boleh, Transjakarta boleh. Bahkan mau pakai tangannya PD Pasar Jaya atau Food Station juga boleh.

Tidak ada (keirian). Karena PT Jak Lingko adalah perusahaan yang non-dividen. Jadi secara finansial kita tidak akan mendapatkan benefit. Tapi secara teknologi, diharapkan perusahaan ini akan berkembang. Dan mungkin ke depannya setelah settle, setelah establish baru kita bicara financial benefit.

DKI mulai menggarap proyek 3 Transit Oriented Development (TOD) di Blok M-ASEAN, Fatmawati, dan Lebak Bulus. Bagaimana kontribusi Transjakarta dalam proyek tersebut?
Pemprov DKI dalam hal ini Pak Gubernur, betul-betul ingin mewujudkan integrasi antarmoda. Jadi antara Kereta API, MRT, LRT, Transjakarta, bahkan ada perairan untuk Kepulauan Seribu inginnya terintegrasi. Makanya model bisnis TOD ini mulai dibentuk.

Nah untuk MRT itu sudah dibentuk, TOD MRT. Itu yang punya saham MRT dan Transjakarta. Nanti akan ada TOD berbasis BRT (Bus Rapid Transit). Mungkin antara Transjakarta dengan Kereta Api, atau Transjakarta dengan LRT, atau dengan yang lain.

Yang TOD berbasis BRT di simpang Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) Kebayoran Baru. Kalau proyek integrasi lain ada, Dukuh Atas 1 kita yang garap. CSW kan proyeknya Transjakarta.

Bagaimana nanti nasib tangga penghubung ke Halte Transjakarta CSW dengan adanya proyek integrasi CSW?
Ya kan nanti ada CSW, nanti bentuknya cakram, dia 5 tingkat, ada eskalator, ada lift. Kemudian dia terkoneksi dengan MRT langsung, dia turun juga ke bawah. Dia juga terkoneksi dengan busway rute Tendean-Ciledug, itu nanti ada semua di CSW.

Nanti tangga yang ada sekarang dibiarkan saja, untuk darurat. (Karena tinggi sekali) maka itulah sebabnya Pak Gubernur memasukkan (CSW) ke dalam proyek strategis daerah. Itu kan ketika dibangun, apa nggak dipikirkan? Nah karena keluhan masyarakat banyak, tentang naiknya susah, dan sebagainya, padahal di atas ada halte, makanya Pak Gubernur memasukkan ini ke dalam proyek strategis daerah, sekaligus meningkatkan pendapatan dari TOD.

Sekarang sedang berjalan. Insyaallah 1 Mei 2021 selesai. Sudah 5 tingkat, bundaran, seperti cakram. Itu semua anggaran Transjakarta, fase 1 kurang lebih membutuhkan Rp 80 miliar. Tidak ada (investasi asing), Transjakarta semua.

Kinerja Transjakarta Selama Pandemi Corona

Adakah pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemutusan kontrak terhadap karyawan Transjakarta akibat pandemi COVID-19?
Nggak ada, kita nggak ada PHK, nggak ada apa-apa. Ya kalau pelanggaran terus di-PHK ya wajar saja. Tapi kalau PHK karena kita tidak bisa menggaji, atau gara-gara bebannya terlalu besar tidak ada.

Di akhir Desember 2019 ramai anak magang Transjakarta berdemo karena tak dilanjutkan menjadi PKWT. Kelanjutannya seperti apa?
Di zaman saya tidak ada, karena kan saya baru menjabat di bulan Mei. Pegawai magang yang diminta pegawai tetap tidak ada keributan. Paling tidak sampai sekarang saya tak terima laporan.

Apakah masih ada penumpukan penumpang di halte-halte Transjakarta karena diberlakukannya physical distancing?
Kan diantisipasi dengan headway yang diperpendek, jadi jarak antarbus lebih dekat. Sehingga penumpang tidak terlalu menumpuk di halte. Jadi nggak ada penumpukan penumpang.

Berapa persentase jumlah penurunan penumpang dari Maret-Oktober?
Kalau penurunan Maret-April-Mei itu drastis, penumpang kita tinggal 15%. Tapi sekarang picking up lagi, hampir 400.000 lagi per hari. Artinya sejak PSBB Transisi pertama itu pertumbuhannya kurang lebih 10-15% per minggu, date to date, Senin dibandingkan Senin, lalu Selasa dibandingkan Selasa naiknya 10-15%. Sekarang sudah 380.000-an lagi, hampir 400.000 penumpang per hari.

Pada pertengahan September lalu, di mana Pak Anies memberlakukan PSBB rem darurat, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan 62% pasien COVID-19 di Wisma Atlet terpapar di transportasi umum. Adakah kekhawatiran dari Transjakarta?
Data menunjukkan penumpang kita drop kok. Tidak ada data, tidak ada fakta yang bisa menunjukkan bahwa transportasi umum di Jakarta menjadi klaster baru. Mana data dan faktanya yang bisa membuktikan itu? Nggak ada.

Bagaimana penerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 di halte-halte?
Itu sangat ketat kita lakukan. Jaga jarak di dalam bus, halte, mencuci tangan, menggunakan masker, kita juga lakukan di kantor pusat, halte, kemudian penumpangnya yang tidak memakai masker tidak kita perbolehkan masuk. Kalau ada policy membagikan masker ya kita bagikan.

Berapa bus yang digunakan untuk shuttle ke Wisma Atlet?
Ada beberapa, tidak banyak. Itu masih sampai sekarang. Jangankan buat mengantar pasien. Sekarang angkutan di atas pukul 23.00 WIB kita provide untuk angkutan medis, khusus, buat dokter-dokter yang pulang malam, dan sebagainya. Ketika besok beroperasi lagi, setiap malam kita disinfektan. Aman dan bersih sejauh yang sudah kita instruksikan dan kita lakukan.

Berapa persentase peningkatan cost perusahaan dengan adanya pengeluaran untuk pengendalian COVID-19 di Transjakarta?
Biaya kita naik hampir 80%. Ya kan 90 penumpang yang tadinya bisa dibawa 1 bus, sekarang mesti 3 bus. Jadi mau nggak mau tadinya ada hubungan langsung antara jumlah pendapatan dan jumlah biaya, sekarang jadi nggak ada. Jadi tidak langsung hubungannya. Karena penumpang yang biasa diangkut satu bus, menjadi tiga bus. Jadi biaya membengkak walaupun penumpang turun. Kan biasanya penumpang turun, biaya turun. Ini tidak, jadi penumpang turun, biaya naik.

Adakah petugas di halte Transjakarta yang terpapar COVID-19?
Ada satu orang petugas layanan halte (PLH). Tapi itu tertularnya di kos. Jadi kalau di shuttle ke Wisma Atlet itu tidak ada kejadian.

Berapa jumlah karyawan Transjakarta yang terpapar COVID-19?
Banyak, tapi sudah kita preventif. Begitu kita tahu ada yang positif, kita swab massal, 1.046 orang swab 3 hari berturut-turut. Dari itu didapatkan 74 orang dinyatakan positif. Tapi sekarang semua sudah negatif, itu 2 bulan lalu. Berarti di bulan Agustus akhir.

Bagaimana penanganannya?
Ada yang isolasi mandiri, ada yang kita kirim ke hotel yang menyediakan layanan isolasi. Ada yang ke rumah sakit (RS) 2 orang. Tapi tidak ada korban jiwa.

Halaman

(zlf/zlf)