Wawancara Khusus Raden Pardede

RI Resesi Gegara Orang-orang Tajir Ngerem Belanja

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 09:30 WIB
Sekretaris Eksekutif Satgas PEN
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Realisasi ekonomi Indonesia sepanjang kuartal III-2020 lalu kembali mencatatkan pertumbuhan yang negatif 3,49%. Sebelumnya, pada kuartal II-2020, realisasi ekonomi Indonesia juga minus hingga 5,32%.

Capaian minus dua kuartal berturut-turut itu, membuat Indonesia resmi resesi. Ini adalah pertama kalinya Indonesia masuk jurang resesi sejak 1998 lalu.

Lalu, apa sih kira-kira yang menjadi pemicu jatuhnya RI ke jurang resesi?

Menurut Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Komite PC-PEN) Raden Pardede, salah satu pemicunya karena sekelompok masyarakat kalangan menengah ke atas sejak awal pandemi COVID-19 itu pada mengerem belanjanya. Hal itu berpengaruh pada konsumsi secara menyeluruh, hingga akhirnya membuat RI resmi resesi.

Namun, ada banyak faktor-faktor lainnya yang juga turut mempengaruhi hal tersebut. Untuk itu, simak wawancara eksklusif detikcom dengan Raden Pardede di bawah ini.

Bagaimana pandangan Raden Pardede terhadap realisasi ekonomi RI kuartal III-2020 itu?
Memang mengenai penurunan ekonomi kita sudah kita expect, penurunan ekonomi artinya kontraksi yang terjadi ini bukan sesuatu yang mengejutkan, karena memang sejak pandemi COVID-19 ini dilakukan, jelas pertama adalah pemerintah secara khusus waktu itu di kuartal kedua contohnya membuat satu aturan-aturan supaya jangan bepergian, ya namanya lockdown PSBB kan dampaknya tidak ada kegiatan, kalau tidak ada kegiatan ya kita mengalami penurunan kegiatan secara signifikan. Nah pemerintah melakukan itu adalah dalam rangka memang niatnya baik untuk melindungi rakyat supaya tidak terpapar.

Itu satu, jadi akibatnya memang kalau kita lihat dampak dari itu, itu sangat signifikan memukul perekonomian kita, kegiatan tidak ada, kalau kita lihat di kuartal kedua memang minus 5,3% kan. Jadi kontraksinya sangat luar biasa dan kalau kita lihat lebih jauh lagi sebetulnya adalah bahwa tempat-tempat wisata, tempat-tempat kita bepergian itu mengalami kontraksi jauh lebih hebat lagi. Contohnya kalau kita ke Bali itu okupansi rate nya dia di hotel itu tinggal 3% an - 4% bahkan banyak hotel yang sudah tutup. Banyak restoran yang sudah tutup di sana sekarang ini, jadi hotel pun tidak berfungsi tutup sudah kemudian restoran tutup, kemudian seluruh yang men-supply ke sana juga tutup.

lanjut ke halaman berikutnya