Wawancara Khusus Raden Pardede

RI Resesi Gegara Orang-orang Tajir Ngerem Belanja

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 09:30 WIB
Sekretaris Eksekutif Satgas PEN
Foto: Edi Wahyono

Itu karena memang lockdown itu. Jadi itu saya katakan pemerintah melakukan pelarangan PSBB contohnya di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia ini. Tentu kegiatan drop. Kedua adalah karena ketakutan daripada si rumah tangga itu sendiri, kita-kita ini takut bepergian juga. Ke mall pun juga berkurang. Gamau ambil risiko. Itu namanya precautionary motive, jadi motif berhati-hati. Untungnya tidak belanja.

Nah itu yang kita lihat sekarang ini, kelompok-kelompok yang terutama yang berpendidikan, kelompok yang berpendidikan yang sekolahan, yang elite-elite ini, yang punya uang pada saat yang sama, mereka tidak belanja, mereka mengerem belanjanya. Akibatnya memang tabungan mereka naik, kalau kita lihat dana pihak ketiga di bank itu naik. Sementara kredit turun. Kredit turun tabungan naik. Nah itu yang terjadi, jadi belanja tidak ada. Menurun sangat tajam, itulah yang berpengaruh saya pikir dan itu kita expect di kuartal II. Di kuartal III kalau kita lihat kemudian masih terus berlanjut. Kenapa? Karena kembali kelompok menengah ke atas yang punya uang ini juga belum belanja.

Jadi kalau kita lihat kenaikan tabungan di bank itu naiknya luar biasa. Bisa dibayangkan kenaikan tabungan di bank itu hampir Rp 300 triliun dalam tempo beberapa bulan dan mereka itu tidak belanja baik itu tidak belanja artinya belanja barang konsumsi maupun mereka tidak berinvestasi dulu sekarang ini. Mereka menunggu sampai dengan masa pandemi ini bisa diatasi sepenuhnya.

Jadi maksud saya di situ kalau di kuartal II kita sudah pahami itu akan drop luar biasa karena kita melakukan lockdown dan kemudian pandemi ini masih berlangsung jadi kita tau bahwa kita belum akan pulih sepenuhnya sampai pandemi ini, tapi kita sudah melihat memang kuartal III karena sudah mulai ada pengalaman kita sudah mulai tau mengatasinya.

Ada learning process, proses belajarnya. Karena pemerintah juga di manapun kebingungan bagaimana mengatasi pandemi ini di awalnya. Jadi nggak ada kita yang bisa sok tau bilang oh saya bisa ngerti ini mengatasi ini, wong terakhir kejadian seperti ini adalah tahun 1918, itu pada saat disebutkan dengan Flu Spanyol. Jadi kita itu belajar, negara lain belajar, apa yang kita lihat sekarang seperti Eropa, Amerika pun kan sudah babak belur juga, Brazil, Rusia babak belur juga.

Kita okelah, kita mungkin tidak terlampau baik dibandingkan dengan China, tidak terlampau baik dibandingkan dengan Taiwan, karena mereka itu kenapa? Mereka sudah terbiasa mengalami hal seperti ini. SARS kan di sana. Mereka sudah terlatih. Kemudian sistem manusianya juga beda. Pemerintahan beda. Kalau di sana dibuat dengan cara otoritarian bisa.

Jadi kita jangan bandingkan, kita dengan China, kita dengan Vietnam. Kalau tadi Taiwan itu mereka sudah sangat disiplin, manusianya disiplin. Korea juga begitu. Jadi kita maksud saya, kita harus menyadari kita itu beda, nggak sama dengan negara lain tidak bisa disamakan.

Tapi yang bisa dibandingkan mungkin dengan negara-negara Eropa. Eropa parah juga. Kita lihat negara-negara di Amerika Latin, India, AS pun parah. Itu dia. Jadi yang saya maksudkan pertanyaannya adalah bagaimana Anda melihat kuartal III ini? Jelas ada perbaikan dibanding kuartal II. Jadi kita sudah rock bottom artinya kita sudah hit yang paling dasar itu di kuartal II.

Itu akan naik lagi di kuartal IV. Karena kita lihat data-data indikator itu, kita lihat itu lebih baik di kuartal IV jadi kita lihat misalkan belanja mulai. Orang kan mulai lama-lama juga ini 'eh jangan-jangan saya mulai bisa atasi nih' kalau dia disiplin dengan pakai masker, kemudian jaga jarak, oh ternyata saya bisa mulai melakukan kegiatan. Intinya sebetulnya kalau tidak ada kegiatan tidak ada pergerakan ekonominya ya ekonominya akan kontraksi. As simple as that sebetulnya.

Pola belanja masyarakat kini sudah mulai beralih ke sistem online? Apakah itu tidak membantu peningkatan ekonomi RI?
Enggak. Artinya begini, ada pengereman berarti turun kan dia. Pengereman orang untuk belanja. Karena ada berhati-hati, ada ketidakpastian ini sampai kapan. Jadi itu yang saya sebutkan tadi orang yang mengerem belanja itu mengakibatkan tabungannya naik terutama yang upper income group, middle ke atas.

Kalau yang menengah ke bawah itu mereka masih bisa. Artinya mereka itu apa yang dilakukan oleh pemerintah, terutama kalau kita lihat pemerintah itu sudah lebih baik lagi menangani COVID-19 ini di kuartal III- IV makin disiplin makin tau menanganinya. Ini yang saya sebut learning by doing. Karena tidak ada yang bisa mengklaim dia pengalaman mengatasi krisis seperti ini.

Saya sudah ketiga kali ikut mengatasi krisis. Krisis yang ini sekarang totally different. Jadi saya harus belajar lagi bagaimana ini. Karena krisis itu ternyata berbeda. Krisis kali ini. Jadi yang saya maksud di situ adalah kemudian tadi kita mulai bisa mengatasi kesehatan ini. Tidak sepenuhnya berhasil seperti Singapura. Tidak sepenuhnya berhasil katakan seperti Taiwan.

Tapi kita sudah jauh lebih confident sekarang mengatasinya. Masyarakat juga akhirnya lebih confident dia mulai berani. Berani itu penting untuk dia kemudian melakukan kegiatan untuk misalkan sudah mulai jalan-jalan, ke Bogor, ke apa itu lho, sudah mulai kan. Kalau dulunya awalnya kita sama sekali tidak berani. Tidak ada kegiatan. Nah kalau tidak ada kegiatan ekonomi tidak jalan juga. Demikian juga di dalam program pemerintah.

Di awalnya kalau kita lihat program pemerintah itu perlindungan sosial, program-program pemulihan ekonomi nasional itu sangat lambat sekali. Kenapa seperti itu, karena data-datanya pun belum ada. Belum beres data kita.

Kita belum pernah mengalami krisis yang sebesar ini yang kita harus berikan bantuan sosial secara masif. Oleh karena itu, kemudian di kuartal III-IV kita makin bagus.

Sekarang kalau kita lihat bagaimana pencapaian kita untuk penyerapan perlindungan sosial itu 85%-90% (sampai akhir Oktober). Jadi sampai akhir Oktober kemarin itu perlindungan sosial itu 86-87% Jadi ini sangat baik sekali gituloh.

Jadi maksud saya di situ adalah kita artinya pemerintah pun makin lama makin bisa mengatasi ini kemudian masyarakatnya pun sudah mulai lebih yakin dan kemudian mereka sendiri pun makin bisa melindungi sendiri. Apapun alasannya itu kan berpengaruh seperti yang kita sebutkan tadi. Jadi itulah yang menjelaskan kenapa ada perbaikan di kuartal III dan bahkan akan lebih baik lagi kita lihat di kuartal IV.

Bagaimana kondisi ekonomi di Kuartal IV-2020 nanti? Apa saja yang akan dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kondisi sebelumnya?Nah, ada dua hal. Pemerintah akan tetap melakukan stimulus fiskal ya kan. Itu sudah jelas itu. Kemudian yang kita lihat kenapa kita lebih optimis juga kalau kita lihat juga adalah kepercayaan dari si rumah tangga tad yang mulai dia bisa keluar. Mulai berani dia bepergian. Itu sebetulnya menciptakan momentum untuk menggerakkan ekonomi. Yang ketiga kalau kita lihat like it or not bahwa ternyata sektor pedesaan kita, sektor pertanian kita, kemudian sektor komoditas, kita lihat itu cukup baik.

Pertanyaan kita pedesaan itu sebetulnya tidak terlampau berpengaruh banyak. Ada dampaknya tapi pengaruhnya tidak seperti di perkotaan. Kita lihat saja misalkan dari PDB itu sektor pertanian masih tetap bisa bertumbuh.Karena kalau sektor-sektor di perkotaan memang mengalami penurunan. Yang berikutnya juga kalau bisa kita lihat datanya bagaimana harga dari CPO yang membaik.

Orang yang bekerja di CPO dan juga turunan-turunannya itu yang bekerja itu sekitar kalau kita lihat dampak keseluruhan dari palm oil itu, saya pernah hitung antara 15-20 juta rumah tangga, pekerja mungkin sekitar 5 jutaan tapi kan kali 4 itu menjadi segitu.

Jadi berdampak sangat signifikan. Dan kalau kita lihat harga CPO sekarang itu di atas 700. Itu yang jelas membuat kita lebih yakin di kuartal ke-4 ini baik karena stimulus fiskal yang terus dilakukan oleh pemerintah, kemudian juga penyerapan dari anggaran pemulihan ekonomi nasional juga yang terus lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya karena kita learning by doing seperti yang saya katakan tadi itu.

Kemudian ada keyakinan daripada konsumen-konsumen tadi itu, rumah tangga tadi itu baik terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah dan juga ada kenekatan-kenekatan tadi. Itu kenekatan itu baik kalau orang sudah takut dia menjadi pesimis ya dia tidak belanja ya ekonominya ya sudah akan kontraksi. Nah itulah yang menjelaskan kenapa di kuartal IV ini kita lihat lebih baik.

Lanjut ke halaman berikutnya