Wawancara Khusus Raden Pardede

RI Resesi Gegara Orang-orang Tajir Ngerem Belanja

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 09:30 WIB
Sekretaris Eksekutif Satgas PEN
Foto: Edi Wahyono

BMKG mengingatkan Desember ini akan terjadi puncak La Nina sehingga akan mengancam khususnya di sektor ketahanan pangan. Bagaimana pemerintah mengantisipasi kemungkinan itu?
Ini memang kalau sudah La Nina ini is another problem lagi. Yang saya katakan tadi adalah tren apa yang akan kita usahakan, kita lakukan untuk melihat bahwa ke depan ini pemulihan ekonomi nasional ini bisa lebih baik. Kalau La Nina nanti terjadi apa yang kita lakukan, ya kita mungkin juga harus melakukan perbaikan di sana sini di dalam sektor pertanian ini walaupun nanti terjadi artinya persoalan iklim yang sangat ekstrem yang menjadi persoalan adalah biasanya maka kita bisa kekurangan bahan pangan sementara.

Ya seperti hal kalau sudah seperti itu mungkin kita terpaksa harus melakukan impor terhadap barang bahan utama kita untuk sementara. Tapi disisi lain sekarang ini pemerintah sudah merencanakan untuk yang lebih jauh. Di mana pemerintah sekarang ini kalau kita lihat apa yang dikatakan oleh Pak Presiden, pak Menko juga mengatakan bahwa mulai mengarah kita membuat food estate. Jadi supaya kita memang memodernisasi juga sektor pertanian kita yang bisa memproduksi lebih banyak secara produktif. Jadi nggak bisa lagi kita hanya mengandalkan petani-petani tradisional ini. Kita harus lebih memodernisasikan sektor pertanian kita supaya lebih produktif.

Itu akan kita lakukan mulai tahun depan dan ke depannya lagi. Kita lihat apa yang sudah mulai dicoba di Kalimantan Tengah. Apa yang juga sudah kita lihat di Toba Hasundutan di kampung kami itu. Nah itu adalah membuat lahan pertanian yang dikelola secara besar-besaran. Tetapi itu adalah tanah mungkin yang satu dua hektar atau lima hektar tapi karena dikelola secara bersama-sama itu menjadi seperti industri jadinya tidak dikelola sendiri-sendiri tapi dikelola secara bersama-sama. Hal-hal inilah yang mungkin yang harus terus dilakukan karena tanah kita sangat subur kok.
Tinggal kita mengelolanya secara produktif lebih modern. Itu sebetulnya yang kita harus lakukan untuk mengantisipasi hal-hal seperti La Nina ini.

Kuartal IV-2020 kabarnya untuk stimulus fiskal tetap akan diberikan, berupa apa saja selain yang sudah dilakukan?
Masih akan sama. Jadi sama itu adalah satu seperti yang sudah kita lakukan selama ini adalah yang kita sebutkan perlindungan sosial. Jadi perlindungan sosial itu awalnya kita rencanakan 203 triliun. Jadi ini ingat bahwa pagu awalnya itu Rp 203 triliun ini dibuatkan PEN ini adalah di bulan 5. Jadi baru bulan 6 baru dilaksanakan ini.

Jadi jangan dibandingkan dengan bulan Januari ya, karena bulan Januari belum ada ini. Yang awalnya itu kita buatkan itu adalah Rp 203,9 triliun sekarang kita tambah dia menjadi Rp 233,9 triliun jadi hampir Rp 240 triliun. Rp 232 triliun bahkan mungkin Rp 242 triliun ini. Nah ini akan terus. Kenapa? Karena kita tahu yang paling terkena dampak ini adalah kelompok yang menengah ke bawah. Kelompok yang paling miskin. Kalau kelompok yang kaya tadi, yang disebutkan di awal, ya ga perlu ditolong, malah mereka tabungannya masih ada.

Nah kelompok-kelompok yang ini, kelompok menengah ke bawah ini mereka sama sekali tidak punya tabungan. Jadi kalau dia tidak bekerja ya sama sekali tidak punya pendapatan. Bahkan untuk membeli kebutuhan yang sangat esensial untuk kebutuhan sehari-hari pun kurang. Nah itu lah yang benar-benar ditolong oleh pemerintah secara masif. Itu masih terus dilakukan.

Yang kedua adalah kelompok UMKM. Kelompok UMKM itu diberikan bantuan sosial atau bansos produktif. Diberikan kepada mereka, memang belum terlampau besar ya diberikan Rp 2,5 juta gratis untuk modal awal mereka itu jadi buat ibu-ibu rumah tangga, ya untuk misalkan buat gorengan, masakan di rumah kan dengan modal itu, itu bisa bergulir lah kita harapkan begitu. Kita sekarang akan berikan itu untuk 11 juta UMKM bahkan mungkin diperkirakan dari tempatnya pak Teten bisa sampai 12 juta UMKM. Bahkan ini juga akan di-pairing dengan KUR yang bunganya juga rendah.

Itu akan terus dilanjutkan. Itu dua hal itu yang paling besar sebetulnya. Ada lagi program-program berikutnya adalah sebetulnya program yang kita sebut padat kerja. Cuma kan program padat kerja ini belum bisa sepenuhnya kita lakukan karena memang kita khawatirkan juga kalau melakukan itu secara masif, akan ada infeksi kan.

Jadi program padat karya ini baru bisa kita lakukan itu secara signifikan secara masif nanti kira-kira semester pertengahan tahun depan sesudah kita bisa melakukan vaksinasi, dan sudah cukup signifikan baru kita bisa menggulirkan lagi program padat kerja ini. Jadi bantuan-bantuan yang sangat-sangat sederhana yang esensial, itu yang bisa kita lakukan. Yang bisa dilakukan sendiri oleh rumah tangga atau UMKM tadi itu.

Kemudian juga ada program yang kita berikan program restrukturisasi perusahaan. Memang jumlahnya tidak terlampau besar, mungkin belum banyak yang memakai ini. Ini akan terus kita pakai terutama ini untuk kelompok juga bukan kelompok yang kaya sekali. Tapi kelompok yang relatif dia menengah ke bawah juga.

Untuk kelompok yang atas yang diberikan sebetulnya adalah program biasa. Di mana kita berikan mereka itu bersama-sama dengan OJK mencoba merelaksasi supaya lebih mudah melakukan restrukturisasi dan juga kemudian pemerintah menempatkan dananya di bank. Pinjaman dari bank Indonesia, kemudian ditempatkan di bank-bank supaya bank-bank ini bisa menyalurkan kredit kepada dunia usaha. Ini yang kita lakukan untuk sampai dengan Desember ini.

Terkait relaksasi kredit, beberapa perusahaan pemberi pinjaman sempat tak mengikuti perintah Presiden terkait pembebasan kredit buat masyarakat terdampak misal ojol. Ini bagaimana realisasinya sekarang?

Memang di lapangan berbeda lagi tentunya. Itu berupa himbauan. Pada akhirnya kan ujung-ujungnya pengusaha itu leasing company juga kan berhitung. Yang menjadi persoalan sekarang di kita ini memang adalah konteks moral hazard. Jadi kalau dibuat seperti itu kan ada kriterianya sebetulnya. Dia katakan disebutkan orang yang tidak mampu, orang yang terkena dampak. Yang menjadi problem mungkin buat si dunia tadi itu yang memberikan kredit itu, itu memilah-milah ini sangat sulit sekali dan juga mungkin banyak juga yang moral hazard yang sebetulnya dia tidak terpengaruh tapi ikut juga kan ini masalah manusiawi juga kita ini kadang-kadang. Pokoknya kalau ada fasilitas meskipun saya tidak butuh saya ambil saja.

Ini yang mungkin, itu yang mungkin kita kembalikan tadi ke awal kita bicara bagaimana mengatasi COVID-19 ini. Memang kita harus akui masyarakat kita ini juga belum begitu disiplin. Dalam hal etika juga kita harus perbaiki diri kita.

Apa upaya pemerintah untuk menggugah kesadaran kelas menengah supaya mereka mau mulai berbelanja lagi?

Jadi menurut saya himbauan (himbauan pengamat menyarankan masyarakat mengerem belanja) itu himbauan yang salah. Ini kan dalam situasi begini kalau biasa kita sebutkan itu hemat pangkal kaya. Kalau situasi begini, kalau kelas menengah ke atas itu terlampau berhemat maka kita akan jatuh kepada resesi yang sangat panjang. Nah ini yang perlu saya ingatkan mungkin teman-teman saya para pengamat kalau mereka mengimbau mereka tidak belanja untuk jangka waktu yang panjang maka yang terjadi adalah kalau bayangkan, kita bisa bayangkan sekarang kita tidak belanja. Kalau kita tidak belanja. Perusahaan itu akhirnya rugi.

Kapasitas utilisasi penggunaan daripada kapasitas dari perusahaan ini pun turun terbatas. Kemudian apa yang terjadi, mereka tidak akan melakukan ekspansi dan tidak akan melakukan penambahan tenaga kerja. Boro-boro menambah tenaga kerja malah mereka mengurangi jumlah tenaga kerja. Kalau itu yang terjadi maka banyak sekali kelompok rumah tangga yang terjadi penurunan income dia. Ya seperti yang kita lihat sekarang lah. Kemarin itu kita lihat sendiri bagaimana data orang yang tidak bekerja itu naik. Dari 6,88 juta menjadi 9,77 juta yang tidak bekerja.

Nah kita bisa bayangkan kalau siklus ini terus terjadi karena dia mengurangi belanja, kemudian makin banyak yang miskin. Ujung-ujungnya tidak ada lagi belanja karena tidak ada pendapatan. Nah itu sebetulnya itu namanya kita masuk kepada pesimisme yang melingkar ke bawah. Dan itu berbahaya kita bisa bukan hanya resesi tapi depresi dalam waktu yang cukup lama.

Itu sebabnya ini sedikit saya kasih background aja, ini sebabnya sebetulnya itu yang dilakukan oleh dulu di tahun 1930 di mana John Maynard Keynes seorang ekonom dari Inggris yang menyatakan, dalam situasi seperti ini kita justru harus melakukan ekspansi. Pemerintah pada saat mereka melakukan stimulus, ekspansi sekarang ini harapannya adalah itu akan membangkitkan juga. Namanya stimulus. Stimulus itu kan untuk merangsang men-trigger supaya dunia usaha. Supaya tadi si rumah tangga yang punya uang itu juga ikut. Kalau enggak ya kita gagal.

Jadi kalau himbauan seperti itu berlawanan, kita sudah melakukan stimulus, harapannya tadi dunia yang kelas menengah atas itu akan belanja. Itu satu. Tetapi kita juga tau bahwa kelompok menengah atas ini adalah kelompok-kelompok yang memang elite. Seperti yang saya katakan tadi itu. Yang lebih takut terhadap masalah kesehatan ini. Makanya buat teman-teman kita ini, itu bahwa masalah kesehatan nomor satu. Masalah bagaimana kita mengatasi COVID-19 itu nomor satu gitu loh.

Nah saya tidak menyatakan kita sudah bisa benar-benar mengatasinya tapi di dalam konteks yang lebih luas saya mencoba mempelajari sekarang COVID-19 ini, saya bukan ahli COVID-19 tapi mempelajarinya. Saya banding-bandingkan itu. Ya jangan bandingkan kita dengan Singapura, jangan bandingkan kita dengan Malaysia, bagaimana kita mengatasinya. Jangan bandingkan kita dengan katakanlah Selandia Baru. Tapi bandingkanlah dengan yang saya sebutkan tadi, bandingkan dengan India, Brazil, Meksiko, Eropa, Amerika, itu perbandingan kita, Rusia gitu loh. Nah kalau kita lihat itu, we're not bad. Terus terang kalau kita lihat perbandingan itu, bukan berarti kita sudah puas. Kita ada learning by doing nya.

Justru itu yang kita himbau sekarang ini, kelompok menengah atas ini jangan juga terlampau berhemat. Bahaya. Jadi saya himbau bahwa teman-teman yang punya uang ini jangan sampai berhemat. Kalau berhemat atau tidak belanja itu dalam situasi begini itu pangkal depresi. Jadi artinya secara rasional saja melihat data-data yang ada, yakinkan eh ternyata kalau kita mengikuti protokol kesehatan kita masih bisa travelling kok, kita masih bisa belanja. Tapi ikuti saja protokol kesehatan. Itulah menurut saya yang bisa menggerakkan ekonomi kita.

Lanjut ke halaman berikutnya