Wawancara Khusus

Harjanto Halim: Bos Marimas Lulusan AS yang Tak Gengsi Terjun ke Pasar

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 03 Sep 2021 08:11 WIB
Bos Marimas Harjanto Halim
Foto: Dok. Pribadi
Jakarta -

Masih ingat dengan minuman serbuk Marimas? Yup generasi milenial pasti belum lupa dengan minuman saset dengan bungkus berwarna oranye ini.

Biasanya minuman ini digantungkan di warung-warung berdampingan dengan kopi atau es limun. Harganya yang murah dan rasanya yang segar ketika diseduh membuat Marimas menjadi minuman favorit pada tahun 1990an bahkan hingga 2000an.

Sudah tahu belum kalau Marimas itu didirikan oleh Harjanto Halim dari Semarang? Mau tau cerita lengkapnya? Yuk simak kutipan wawancara detikcom dengan Harjanto, ditulis Jumat (3/9/2021).

Bagaimana awal mula anda membuat Marimas?

Marimas itu saya buat tahun 1995. Sebenarnya begini, saya pulang kuliah dari Amerika Serikat (AS) itu tahun 1990, saya lulusan teknologi pangan. Setelah pulang saya juga tidak langsung bekerja, saya mulai merintis usaha membuat susu telur madu jahe (STMJ), snack, buka agen air mineral sampai bumbu masak. Saya juga membantu usaha orang tua juga.

Kalau di Indonesia, lulusan S2 luar negeri kalau nggak bisa langsung dapat pekerjaan itu kan kadang dianggap gagal sama orang. Terus kalau orang tuanya mapan, mereka bilang itu orang tuanya mapan ya enak. Padahal secara mental lebih berat, karena kita sebagai anak harus bisa melampaui apa yang dicapai oleh orang tua.

Kadang juga orang selalu mengomentari, lulusan S2 luar negeri kerjanya harus sesuai jurusannya dong. Padahal ya tidak seperti itu, yang penting harus berani.

Untungnya orang tua saya tidak mendidik anak seperti itu. Mereka selalu mengajarkan anaknya untuk tidak gengsi dan mereka mengutamakan pendidikan untuk anak-anaknya.

Kemudian bagaimana proses terbentuknya Marimas?

Saat itu saya melihat produk minuman kemasan rasa jeruk. Tapi bentuknya sirup dalam botol dan gelas plastik. Saya merasa kalau sirup di botol itu kan ribet ya, mau beli harus tukar botol, rawan dikerubungi semut dan takut botolnya pecah.

Nah kemasan saset ini di teknologi pangan kan lebih ke arah efisien dan ringkas. Jadi satu kali seduh cocok untuk satu gelas, kalau sirup kan satu botol bisa untuk 7-8 gelas.

Tahun 1995 itu minuman serbuk seperti barang baru. Saya menawarkan ke pasar-pasar, ke bakul-bakul. Susah memang, tapi saya menjelaskan ke mereka kalau produk ini seperti jamu lho, diseduh satu gelas. Mereka nggak percaya, masa minuman begini bisa diseduh kayak jamu.

Tapi saya gigih dan terus menawarkan ke pasar-pasar dan ke warung-warung. Saat itu saya kasih contoh gratis ke mereka, nggak saya kasih bayar.

Saya juga sempat menawarkan dengan menggunakan pengeras suara. Seperti pedagang obat, saya ajak bapak-bapak kumpul. Memang sih, paling enak menjual dengan bapak-bapak. Selain kasih sampel juga mereka nggak pernah nawar kalau beli ha ha ha. Saya turun ke pasar-pasar juga karena mau tau perilaku konsumen itu seperti apa.

Saat pertama kali dilempar ke pasaran, Marimas tersedia rasa apa saja?

Jeruk segar, jeruk nipis, gula asam, coco pandan dan sirsak. Saya ingat sekali itu. Paling laku rasa jeruk segar.

Berapa modal awal untuk membangun Marimas?

Waktu itu secara kasar sekitar Rp 100 jutaan. Waktu itu saya menggunakan uang hasil perputaran usaha yang lain seperti waktu jadi agen air mineral dan usaha sebelumnya. Itu untuk operasional dan produksi semuanya dari situ.

Seiring berjalannya waktu, Marimas kan mulai dikenal oleh masyarakat. Banyak yang konsumsi. Tahun 1997 saya mulai iklan nih. Mulai datang agency iklan ke saya menawarkan pemasangan iklan. Saya punya simpanan dan digunakan untuk pasang iklan meskipun rasanya seperti taruhan ya dan iklan waktu itu risikonya besar, tapi ternyata hasilnya memuaskan.

Dengan ketatnya persaingan, bagaimana strategi Marimas atau perusahaan ini?

Sekarang kita juga punya produk makanan sehat seperti Kongbap. Lalu minuman herbal cap jangkrik mas. Itu sebenarnya usaha kecil yang kita take over.

Kalau Kongbap itu sebenarnya terinspirasi waktu saya pulang dari Jepang. Di sana kok banyak multigrain kecil-kecil yang dijual, sama di Korea Selatan juga. Nah saya rasa di Indonesia itu bahannya ada semua. Akhirnya saya bawa dan saya kasih ke tim R&D saya mereka bilang, pak kok ini kayak makanan burung. Kemudian saya bikin dulu prototipenya dicampur dan komposisinya seperti yang sekarang dijual di pasaran.

Sebenarnya multigrain itu bisa membantu menurunkan indeks glikemik pada nasi putih. Kalau beras putih GI nya sekitar 90%, beras merah 55%. Kalau pakai Kongbap bisa jadi 60% itu efektif.

Lihat juga video 'Blak-blakan Harjanto Halim: Menjadi Indonesia Itu Tidak Sulit':

[Gambas:Video 20detik]



Harjanto Halim juga ternyata menjadi TikTokers. Cek di halaman berikutnya.