Wawancara Khusus Faisal Basri

Faisal Basri Bicara soal Kritikannya hingga Disebut Anti Investasi China

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 01 Nov 2021 09:47 WIB

Dengan waktu yang tersisa 3 tahun era Pak Jokowi, apakah proyek-proyek yang sudah berjalan akan sesuai yang diharapkan?
Pak Jokowi sendiri sudah menyadari, kok banyak bandara yang sudah kita bangun tapi penumpangnya tidak ada, pesawatnya tidak ada, atau jalan ke bandaranya belum selesai. Pak Jokowi sendiri mengakui. Kedua, tol Sumatera, itu tidak ada yang mengkritisi dari dalam, saya takutnya Pak Jokowi ini diblokade, dilindungi oleh sekelilingnya sehingga hanya mendengar apa yang Pak Jokowi senang, itulah bahayanya seorang penguasa kalau dikelilingi oleh orang-orang yang selalu membuat tuannya senang.

Di periode kedua ini kan ada Pak Prabowo dan Sandiaga yang merupakan lawan politik beliau sebelumnya?
Tanya Pak Sandiaga berapa kali ikut sidang kabinet, dia kampanye untuk dirinya sendiri. Ya salahnya sendiri ya, kenapa pilih Sandiaga Uno yang punya agenda politik. Kalau mau memberikan kesempatan ya silahkan, tapi jangan harapkan kinerjanya baik, mendukung harapan Pak Jokowi. Saya rasa di dunia ini hanya ada di Indonesia calon wakil presiden dan presidennya ditarik ke kabinet.

Kan dipuji itu sebagai langkah jenius?
Ya antara memuji dan menyindir, bedanya tipis. Atau dia ingin dapat proyek barangkali dari pemerintah.

Pak Faisal sempat berkiprah di politik, ada yang bilang Pak Faisal berani mengkritik pemerintahan tapi tidak berani mengkritik Pak Amin Rais. Apa itu benar?

Tugas kita adalah memastikan yang berkuasa menjalankan pemerintahannya dengan benar. Pak Amin Rais tidak masuk hitungan, jadi buat apa mengkritik Pak Amin Rais? Apa urgensinya buat bangsa ini? Ndak ada urgensinya. Buang-buang tenaga. Yang saya kritik kan kebijakan publik, Pak Amin bukan pembuat kebijakan publik.

Di sisa waktu jabatan Pak Jokowi, saran apa yang bisa pak Faisal berikan?

Saya tidak hanya bicara tapi sudah berbuat semaksimal yang saya bisa. Jadi sempat ikut menyusun konsep ekonomi Indonesia pasca pandemi. Kan harusnya berbeda, mindsetnya berbeda, pendekatannya berbeda, yang disebut sebagai transformasi ekonomi. Kita harus mentransformasikan ekonomi kita, walaupun di benak saya kita harus transformasi politik juga, tapi itu ya di luar. Walaupun saya tidak tahu, saya sudah tidak pernah dihubungi lagi, sudah seberapa jauh konsep itu berkembang, rencananya dulu akhir tahun ini akan diselesaikan.

Nah saya baru berjumpa dengan salah seorang yang terlibat dalam sekali dalam menyusun konsep ini, tapi dia sudah pindah dari Bappenas, dia jadi staf khusus Pak Jokowi. Kayanya nggak berlanjut tuh pak, kata dia, aduh sayang bener. Ini produk negara, yang menyusun Bappenas, jadi Bappenas mengundang 3 orang dari luar Bappenas. Profesor Arif Anshori Yusuf, Guru Besar dari Unpad, kemudian Teguh Danarto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, dan saya yang ketiga, saya datang belakangan. Itu kritis-kritis sekali, diskusinya luar biasa. Kan teman-teman Bappenas harusnya keluar dari boks, jadi sudah tercipta itu situasi yang baik. Sebagian konsepnya sudah disampaikan kalau tidak salah ke Pak Presiden dan kesannya positif, lanjutkan. Jadikan buku karena ada 4 pilar untuk transformasi. Setiap pilar dijadikan 1 buku. Nah follow upnya ndak tahu, kalau jalan itu gagal kita harus cari jalan lain.

Jalan lainnya antara lain, walaupun agak pahit, saya rasa semakin banyak yang direncanakan dan telah dibuat oleh Pak Jokowi terbukti ngawur, Pak Jokowi mulai ngeh, oh di sekeliling saya ada masalah.

Ada yang bilang Pak Faisal cuma jago kritik, tapi kalau terjun langsung akan sama saja. Jika Pak Jokowi menarik Pak Faisal ke kabinet, apakah akan bersedia?

Yang paling tahu kelemahan saya adalah saya sendiri, yang paling tahu kemampuan saya adalah saya sendiri. Saya mengukur diri dan saya memandang saya tidak cocok untuk menduduki posisi-posisi di dalam pemerintahan. Oleh karena itu saya tidak pernah mau ditawari apapun walaupun sudah sering ditawari. Diminta jadi Dirjen Bea Cukai saya tolak. Diminta jadi staf khusus Menko saya tolak. Diminta jadi komisaris juga saya tolak. Jadi tidak saja di pemerintahan tapi di BUMN juga saya tolak, perusahaan swasta juga banyak yang minta saya. Tapi ndak.

Saya mengingat sahabat saya yang sudah tidak ada, Riswanda Imawan. Saya kelihatannya sama setidaknya dengan prinsip dia. Saya ingin jadi burung yang bisa terbang kemana saja dan hinggap di pohon apa saja yang saya maui. Jadi saya cuma mau tim ad hoc, yang sifatnya sementara, oleh karena itu saya menerima tata kelola migas waktu ditawarkan oleh Menteri ESDM, itupun setelah berkonsultasi dengan dengan Buya Syafii Maarif. Saya deg-degan juga, maksudnya bukan takut sama mafia migas, tapi ini saya kompeten tidak, tapi saya diberikan kewenangan penuh untuk memilih anggota tim. Diberikan kewenangan penuh untuk melaporkan, jadi hari ini jam segini saya melapor ke pemerintah, lalau hari yang sama jam berbeda saya lapor ke publik tanpa ada yang ditambah dan dikurangi. Itu saya diberikan kewenangan penuh.

Nah kalau anda jadi menteri anda tidak bisa begitu saja berbeda pandangan dengan menteri lain. Karena anda harus patuh kepada Pak Jokowi, jadi repot. Kalau saya jadi menteri pertanian saya nggak boleh ngomong tentang transportasi. Itu bukan karakter saya, saya lintas sektor.


(das/zlf)