Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 29 Nov 2013 14:14 WIB

Kilau Hobi dan Bisnis Batu Mulia (3)

Koleksi Batu Mulia, dari Mistik Sampai Investasi

- detikFinance
Foto: Antara Foto: Antara
Jakarta - Manusia mengenal keindahan batu mulia sejak ribuan tahun lalu. Keindahan, keunikan, dan kelangkaannya membuat batu mulia menjadi benda koleksi yang menarik banyak peminat. Bukan sekedar koleksi, batu mulia pun bisa menjadi sarana berinvestasi.

Salah satu kolektor yang cukup dikenal adalah Galih Jati, yang tinggal di daerah Yogyakarta. Pria berusia 30 tahun ini sejak kecil sudah mengagumi batu mulia. Awalnya, ketertarikan Galih dipicu karena faktor mistik.

"Banyak yang bilang kalau batu-batu ini bertuah. Saya percaya itu," ujarnya. Galih sendiri mulai serius menggeluti koleksi batu mulia pada 2007. Ketika itu faktor mistik tidak lagi menjadi dasarnya, melainkan keindahan si batu-batu mulia.

Kini koleksi bapak satu putra ini sudah mencapai ratusan, yang dia sendiri sulit menghitungnya. Dana sekitar Rp 20 juta sudah dihabiskan untuk menggeluti hobi ini.

"Namun bisa dibilang saya ini kolektor kelas bawah. Banyak yang lebih senior dan koleksinya jauh lebih mewah. Satu batu saja harganya miliaran rupiah," kata Galih, tertawa.

Koleksi Galih beragam, mulai dari batu akik, safir, opal, jamrud, dan sebagainya. Selain karena keindahan dan keunikan batu-batu tersebut, Galih tertarik mengoleksi karena bisa menjadi instrumen investasi.

"Waktu 2007-2008 saya beli safir masih sekitar Rp 200 ribu. Sekarang sudah mencapai Rp 1-2 juta. Kemudian jamrud Brasil yang dulu harganya hanya Rp 200-300 ribu per karat, tahun ini sudah Rp 600-700 ribu. Setiap tahun pasti ada kenaikan harga yang signifikan," papar Galih.

Untuk membedakan batu mulia asli dengan yang palsu, lanjut Galih, sekarang lebih mudah. Ada pihak yang menyediakan jasa tersebut, dengan tarif Rp 50-200 ribu per batu. "Semacam notaris lah, itu untuk mengecek keaslian batunya," katanya.

Namun dengan pengalaman bertahun-tahun, seseorang bisa lebih mudah menentukan sendiri keaslian sebuah batu mulia. "Kalau orang awam memang agak sulit. Setelah ada pengalaman baru bisa melihat serat-serat di batunya," tutur Galih.

Kini Galih bukan hanya menjadi kolektor, tetapi juga menjual batu-batu mulia secara online. Dia memperoleh pasokan dari berbagai daerah seperti Pacitan (Jawa Timur), Garut (Jawa Barat), dan Kalimaya (Banten).

Saat ini, demikian Galih, batu mulia yang banyak diminati kolektor adalah safir dan jamrud. "Namun batu-batu lokal seperti belacan dan garut ijo juga sedang booming," ujarnya.

Pelanggan Galih datang dari berbagai daerah, bukan hanya di kota-kota besar. Bahkan dia pernah mendapat pembeli dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Dari bisnisnya, Galih mengaku bisa mendapat omzet Rp 5-8 juta per bulan.

Galih percaya bahwa hobi dan bisnis batu mulia dapat bertahan lama. "Orang sudah mengenal batu mulia sejak ribuan tahun dan sekarang masih diminati. Bisa dibilang hobi batu mulia ini bisa bertahan selamanya," tegasnya.



(hds/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed