Impor Jagung akan Disetop Sementara

Impor Jagung akan Disetop Sementara

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 03 Agu 2015 15:52 WIB
Impor Jagung akan Disetop Sementara
Jakarta - Setiap tahun Indonesia harus mengimpor hingga 2-3 juta ton jagung, padahal produksi di dalam negeri selalu berlimpah. Nilai impor jagung rata-rata per tahun mencapai triliunan rupiah.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Muladno mengatakan jagung impor yang selama ini banyak dipakai untuk pakan ternak akan dihentikan sementara impornya.

"Akan ada aturan impor jagung termasuk untuk pakan ternak akan disetop sementara, sampai situasi betul-betul baik. Lalu nantinya, BUMN yaitu Bulog yang akan dimintai untuk mengimpor jagung," kata Muladno dalam jumpa pers di Gedung C Kementerian Pertanian, Senin (2/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan kebijakan penghentian impor jagung untuk sementara waktu sampai batas waktu yang tak ditetapkan. Alasannya saat ini produksi jagung Indonesia berlimpah bahkan bisa ekspor jagung ke Filipina.
Β 
"Kami mau nggak ada lagi berita impor jutaan ton ternyata bisa ekspor jagung. Situasi kondusif itu harga bisa di atas HPP (harga pembelian pemerintah), diserap semuanya ke Bulog, perhitungan kebutuhan jelas, dan dipastikan kondisi tidak lagi butuh impor," kata Muladno.

Menurut Muladno, payung penghentian impor jagung akan ditetapkan melalui Instruksi Presiden.

"Itulah semangat impor distop mendadak. Ini dalam rangka mengendalikan impor. Impor jagung untuk semuanya, tidak hanya pakan. Akan diatur Inpres (Instruksi Presiden) pembatasan impor untuk 7 komoditas strategis yaitu beras, jagung, kedelai, bawang, cabai, gula dan daging," ujarnya.

Muladno menjelaskan, dampak terdekat dari kebijakan tersebut yaitu pasokan jagung impor yang sudah merapat di pelabuhan masuk, maka akan ada perlakuan. "Di rapat tadi, Menteri sampaikan jagung yang sudah mendarat dan akan dilepas (masuk), sedang dibahas apa tindakan lebih lanjut," tambahnya.

Selama ini dalam 10 tahun Indonesia terlena dengan ketergantungan pangan dari negara lain, termasuk jagung impor.

"Jagung pada prinsipnya kami ingin ajak pengusaha untuk bermitra untuk tingkatkan perannya ke petani. Supaya tidak impor. Semua harus begerak dari petani, pengusaha, dan pemerintah," katanya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads