Anak Usaha AP II Bakal Buat Kampung Kargo 90 Hektar di Bandara Soetta

Yulida Medistiara - detikFinance
Rabu, 09 Nov 2016 21:39 WIB
Ilustrasi (Foto: Ahmad Ziaul Fitrahudin/detikcom)
Jakarta - Anak usaha PT Angkasa Pura II, yakni PT Angkasa Pura Kargo akan membuat proyek cargo village untuk memecahkan persoalan over kapasitas penampungan cargo. Cargo village ini akan dibangun di lahan sebesar 90 hektar dengan target muatan kargo sebanyak 1,5 juta ton.

"Yang berhubungan dengan cargo, kita akan bangun cargo village, cargo village akan bangun di lahan 90 hektar untuk membangun gudang di bandara Soekarno Hatta. Sekarang jumlah cargo ada 30 ha kita akan dipindahkan di kapasitas di lahan 90 hektar, jadi akan lebih besar 3 kali lipat dari sekarang," kata Dirut Angkasa Pura Cargo Denny Fikri, di kantor Hipmi, Menara Bidakara II, Jakarta Selatan, Rabu (9/11/2016).

Saat ini kapasitas penampungan terminal cargo di Bandara Soekarno Hatta ada 300 ton-700 ton per tahun yang ditampung di lahan 30 hektar. Hal itu yang membuat cargo village perlu dibangun, apalagi salah satu tujuannya ingin menjadikan Bandara Soetta sebagai hub sehingga dapat menampung barang-barang kargo yang akan dikirim ke luar negeri maupun dari luar negeri.

"Kalau kita lihat saat ini Bandara Soetta untuk domestik sudah menajdi hub, internasional cita-cita kita menjadi hub. Kita ingin menjadikan Bandara Cengkareng sebagai hub untuk internasional kita inginnya cargo-cargo di negara tetangga balik ke sini," kata Denny.

"Kita juga ingin hubungan antara internasional dan domestik lebih mudah sehingga Jakarta sekarang kan menjadi hub, jadi domstik masuk ke Jakarta itu jadi hub sehingga bisa diterbangkan kemana-mana," ungkap Denny.

Dia berharap ada teknologi yang memungkinkan untuk menjadikan proses di Cargo Village itu lebih cepat. Ia masih menimbang apakah teknologi yang digunakan akan dari luar negeri atau dari dalam negeri.

"Kemudian kita harapkan teknologi yang lebih cepat, saat ini kita bersaing dengan Singapura dan lain-lain, itu proses cargo mereka kan cepat, kita harapkan proses cargo kita cepat, itu harus dibantu dengan teknologi. Nah teknologi itu yang perlu dicari apakah itu dari luar itu apakah create sendiri, itu yang kita pertimbangkan," kata Denny.

Pengelolaan cargo village ini akan dilakukan dengan cara tender terbuka. Dia membuka kesempatan bagi semua pihak karena tujuan awal cargo village supaya Indonesia bisa berdaya saing dengan luar negeri.

"Yang pasti dengan membangun cargo village yang baru kita bisa bersaing dari luar dan membawa cargo sehingga transhipment bisa terjadi, dan Jakarta bisa jadi hub. Mengenai siapa pemainnya yang mengoperasikan itu ya kita serahkan ke pasar akan kita buka," ujar Denny.

Proses tender akan dilakukan pada tahun 2017 untuk menentukan operator dan mengakomodir sistemnya. "

Kita harapkan tahun depan bisa dilakukan proses tender untuk menentukan cargo terminal operator dan mengakomodir sistem," kata Denny.

Selain proyek pembangunan cargo village, Denny menyebut juga akan membangun bagaimana akses pengiriman kargo melalui jalur darat yang saat ini rupanya cukup sulit karena over kapasitas. Untuk mengatasi hal tersebut juga mendayagunakan kereta Bandara Soetta dan Tol Kunciran yang saat ini juga sedang dalam proses pembangunan.

"Hal lainnya kalau fasilitas banyak bagaimana dengan akses bandara, selain dengan kereta, nantinya akan ada di sini merupakan pintu keluar Tol Bandara, pernah dengar nggak Tol Kunciran, nah dari Daan Mogot ada tol awal tahun depan yang harapannya di 2018-2019 sudah jadi dan ada pintu keluar situ. Jadi nggak mungkin banyak fasilitas kalau akses tolnya nggak ada," ujarnya. (dna/dna)