Ekonom INDEF (Institute For Develoment of Economic and Finance), Bustanul Arifin, mengatakan ada empat faktor yang menyebabkan ketimpangan terjadi. Salah satunya, spending quality atau kualitas penggunaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) yang kurang maksimal.
"Jadi uang banyak, tapi program-programnya (Pemda) tidak banyak menyentuh langsung masyarakat. Misalnya kalau dana pendidikan, yang dibutuhkan adalah akses merata, bikin gedung dan sebagainya, tapi tidak terlalu dirasa masyarakat," kata Arifin di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (4/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, 3 faktor lainnya yang memicu ketimpangan, adalah distribusi lahan, strategi ekonomi makro yang belum mengarah ke kualitas pertumbuhan, dan akses dari masyarakat. Oleh karena itu, menurut masih banyak yang perlu dikerjakan pemerintah agar bisa mengurangi ketimpangan.
"Contohnya untuk masalah ketimpangan lahan, pemerintah baiknya bukan sekedar bagi-bagi lahan, tapi bagaimana lahan itu mampu benar-benar dimanfaatkan. Jadi akses pemberdayaan manusia, teknologi, supaya yang paham semua dan mampu dijembatani. Itu salah satu contohnya, yang langsung dirasakan masyarakat," tuturnya.
Baca juga: KPK: Gara-gara Korupsi Ketimpangan Orang Kaya dan Miskin Tinggi
Ia pun menjelaskan, rata-rata ketimpangan di daerah perkotaan lebih tinggi dibanding wilayah pedesaan.
"Di kota, yang kaya sangat kaya, yang miskin sangat miskin. Di pedesaan lebih rendah, kalau average hanya 0,32% terakhir. Sedangkan di perkotaan 0,41%" terang dia. (hns/hns)











































