"Kerja sama bilateral ini akan memberikan dampak positif bagi Indonesia maupun Finlandia dalam merespons tantangan global/kerja sama Indonesia-Eropa," kata Siti.
Utamanya, ia melanjutkan, dalam isu pembangunan berkelanjutan yang ditopang konsep bio-economy. Konsep ini kalau di Indonesia lebih dikenal sebagai green economy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait lingkup kerja sama, menurut Siti, akan lebih berfokus pada penelitian dan pengembangan kehutanan. Ia mencontohkan soal perencanaan hutan melalui pendekatan integrasi pendekatan hulu/hilir produk hasil hutan untuk meningkatkan nilai tambah dan efisiensi sumber daya, Sistem Verifikasi Legalitas Kayu, perhutanan sosial, peningkatan kapasitas melalui pelatihan pegawai/pelaku usaha maupun program S2/S3 dan pengembangan ekowisata.
Kerja sama RI dan Finlandia Foto: Sudrajat/detikcom |
Sementara itu, Kimmo Tiilikanen dalam sambutannya menyampaikan soal pentingnya sustainable management of forest and tree outside of forest untuk diintegrasikan dengan Sustainable Development Goal (SDGL. Selain itu, peran UNFCCC, Land Use, land Use Change dan Forest sangat penting dalam pengelolaan hutan.
Pada bagian lain, ia juga menyampaikan apresiasi terhadap upaya Indonesia dalam memberantas praktek ilegal logging dengan promosi legal trade on timber melalui FLEGT yang telah di luncurkan pada April 2016. "Finlandia telah menerima pengiriman kayu berlisensi FLEGT dari Indonesia," ujarnya. Finlandia, imbuhnya, telah menyiapkan system nasional untuk proses lisensi tersebut.
Baca juga: RI Tolak Perdagangan Sawit Dikaitkan Isu HAM
Kimmo juga menyatakan kerja sama tersebut dibangun dengan memperhatikan keunggulan Finlandia dalam memanfaatkan limbah sebagai bahan baku produksi, atau yang dikenal dengan istilah lain circular economy.
Sementara itu Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Henri Bastaman menyatakan kerja sama ini telah ditindak-lanjuti melalui pembentukan Kelompok Kerja Bersama. Dari Indonesia diwakili oleh Badan Litbang dan Inovasi (BLI) dan LUKE (badan Litbang Finlandia).
Rencana kerja sama mencakup isu 1) Biomass Production, 2) Resource smart planning and decision making, 3) harvesting and logistic 4) biorefineries and industrial symbioses, 5) bioeconomy product, services and value chains.
"Kelompok kerja ini dijadwalkan bertemu kembali pada Juli mendatang di Indonesia untuk membahas setting prioritas, sumber-sumber pendanaan dan pelaksanaan kegiatan yang merupakan prioritas untuk dilaksanakan," papar Henri. (jat/hns)












































Kerja sama RI dan Finlandia Foto: Sudrajat/detikcom