Laporan dari Xiamen

Pengalaman Naik Pesawat dan Kereta Cepat di China, Mahal Mana?

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 13 Jul 2017 11:42 WIB
Stasiun Kereta Hangzhou. Foto: Feby Dwi Sutianto
Jakarta - Di China, moda transportasi massal seperti kereta cepat dan pesawat udara berkembang pesat sehingga masyarakat, baik warga lokal maupun asing, punya pilihan dalam berpergian.

Meski kedua moda ini menjadi pilihan bagi para traveler, bagaimana harga tiketnya?

Kali ini detikFinance mencoba membandingkan moda transportasi massa itu untuk rute yang sama. Pertama, menggunakan pesawat terbang dari Xiamen Gaoqi International Airport di Kota Xiamen, Provinsi Fujian menuju Hangzhou Xiaoshan International Airport di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Saya memakai maskapai lokal, Shandong Air.

Awalnya, saya berencana memesan tiket satu pekan sebelum keberangkatan untuk penerbangan tanggal 11 Juli 2017. Pada aplikasi pemesan tiket online, Qunar, harga tiket kelas ekonomi berkisar RMB 350-an. Namun, saya memutuskan membeli tiket pada satu hari sebelum keberangkatan tanggal 10 Juli 2017.

Tak disangka, harga tiket langsung 'membengkak' lebih dari 100% atau menjadi RMB 700-800 (asumsi RMB 1 = Rp 2.000). Ketika saya mengecek kembali tiket pesawat untuk keberangkatan satu sampai dua pekan ke depan, tarifnya kembali turun yakni mulai dari harga RMB 331 atau serupa dengan tarif kereta cepat Tipe D untuk kelas ekonomi.
Xiamen Gaoqi International Airport. Xiamen Gaoqi International Airport. Foto: Feby Dwi Sutianto
Dari Hangzhou yang berada pesisir Timur China menuju Xiamen yang terletak di pesisir Selatan China, saya memilih menggunakan kereta cepat yakni dari Stasiun Hangzhou Timur menuju Stasiun Xiamen Utara.

Menggunakan aplikasi serupa (Qunar), pemesanan tiket dilakukan satu hari sebelum keberangkatan. Uniknya, pemesanan jauh hari atau mendekati keberangkatan, tarif kereta cepat tak berubah.

Saya memilih memakai kereta cepat kelas ekonomi (second class) Tipe D untuk keberangkatan tanggal 12 Juli. Kereta cepat Tipe D atau Dòngchē memiliki kecepatan antara 200-250 km per jam, sedangkan kereta cepat Tipe G atau Gāotiě mampu melesat 250-400 km per jam.

Harganya berbeda, tiket kelas ekonomi (second class) kereta cepat Tipe D dijual mulai harga RMB 333, sedangkan Tipe G dipatok mulai RMB 389 untuk second class.

Untuk kereta cepat Tipe D, China Railway High-Speed (CRH) sebagai pengelola kereta menawarkan pilihan tempat duduk mulai dari second class, first class, business class, soft sleeper, hingga deluxe soft sleeper. Ada juga pilihan tanpa tempat duduk.

Naik Pesawat dan Kereta Cepat di China, Mahal Mana?Foto: Feby Dwi Sutianto

Kereta Cepat Bisa Check In 10 Menit Sebelum Berangkat

"Datang ke bandaranya 90 menit sebelum keberangkatan bila check in di ticket counter," konfirmasi petugas maskapai Shandong Air.

Normalnya, check in angkutan udara dilakukan paling lambat 1,5 jam sebelum keberangkatan. Alhasil, pengguna pesawat komersial harus datang ke bandara beberapa jam sebelum keberangkatan untuk mengantisipasi antrian check in dan antrean pemeriksaan (security check point). Umumnya, bandara berada di luar atau di pinggiran kota sehingga memakan waktu bila kita tinggal di pusat kota.

Tak hanya datang lebih awal, ada potensi besar terjadi penundaan bahkan pembatalan penerbangan. Saya sendiri sempat mengalami pembatalan penerbangan.

"Mohon maaf, penerbangan anda tanggal 10 Juli pukul 20.00 malam dibatalkan karena ada prediksi gangguan cuaca. Kami akan membantu proses refund ataupun reschedule," bunyi pesan singkat di ponsel saya.

Pemberitahuan 4 jam sebelum keberangkatan juga dilakukan melalui via telepon. Saya memutuskan mengambil penerbangan pagi keesokan harinya pada pukul 07.20 waktu Xiamen. Proses penjadwalan ulang penerbangan ini dibantu oleh petugas operator menggunakan Bahasa Inggris.

Boarding ke dalam pesawat dibuka 30 menit sebelum keberangkatan. Penerbangan berlangsung tepat waktu yakni 7.20 pagi pada tanggal 11 Juli. Pesawat Shandong Air SC8795 yang saya tumpangi mendarat pukul 08.40 di Hangzhou atau terbang selama 1 jam 20 menit.

Sebaliknya, waktu check in moda kereta cepat lebih dinamis. Sepuluh menit sebelum keberangkatan, penumpang masih diizinkan untuk check in di loket stasiun. Penumpang bisa juga check in di loket atau di mesin check in. Saya memilih check in di loket penumpang internasional. Jadwal keberangkatan kereta yang saya pesan 10.20 pagi untuk tanggal 12 Juli.

Karena proses antrean, saya baru bisa check in 10 menit sebelum kereta berangkat. Beberapa penumpang mau mengalah bila kita menjelaskan sedang buru-buru saat proses check in.
Naik Pesawat dan Kereta Cepat di China, Mahal Mana?Foto: Feby Dwi Sutianto

Setelah tiket diperoleh, saya berlari menuju pintu keberangkatan. Terlebih dahulu, harus melewati proses pengecekan tiket hingga pemeriksaan barang bawaan dan badan. Bila dinyatakan clear, kita bisa menuju pintu keberangkatan yang tertera di tiket.

Kereta yang akan saya tumpangi yakni D2285 tiba di peron Stasiun Hangzhou Timur tepat pukul 10.20. Saya kemudian masuk ke gerbong nomor 9 kelas ekonomi. Kereta transit hanya 2 menit. Tepat pukul 10.22, kereta berangkat dan melesat menuju Kota Xiamen.

Selama perjalanan, pengguna kereta bisa menikmati pemandangan berupa hamparan pegunungan dan persawahan yang berada di Provinsi Zhejiang dan Provinsi Fujian. Kereta juga menembus perut bukit melewati terowongan hingga melewati jembatan panjang di atas sungai. Jalur kereta dibangun melayang dengan pilar-pilar menjulang di atas tanah, namun sesekali jalur kereta menapak di tanah.

Selama perjalanan, saya duduk di pinggir jendela. Saya bisa mengamati pemandangan, termasuk perkembangan pembangunan infrastruktur di China.

Pekerjaan konstruksi seperti pembangunan jembatan, jalur kereta, jembatan layang hingga terowongan terlihat selama perjalanan. Apalagi, cuaca hari itu sangat cerah sehingga mata bisa bebas memandang.

Sama seperti pesawat, pengumuman di dalam kereta cepat disampaikan dalam 2 bahasa yakni Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris. Informasi dengan dua bahasa ini, sangat membantu bagi para penumpang yang tidak paham Bahasa Mandarin.

Penumpang kereta juga bisa melihat kecepatan terkini. Saya mencatat, kecepatan kereta maksimal di papan informasi elektronik yakni 232 km per jam. Untuk kereta Tipe D yang saya tumpangi, kecepatan maksimal adalah 250 km per jam. Kecepatan kereta akan melambat saat mendekati stasiun pemberhentian. Kereta yang saya tumpangi berhenti di beberapa stasiun, sebelum sampai di stasiun tujuan.

Setelah menempuh perjalanan 6 jam 42 menit, kereta cepat yang saya tumpangi sampai pada pukul 17.02 di Stasiun Xiamen Utara. Jadwal seharusnya, kereta tiba pukul 16.39 atau terlambat 3 menit dari rencana kedatangan.
Pengalaman Naik Pesawat dan Kereta Cepat di China, Mahal Mana?Foto: Feby Dwi Sutianto
Stasiun Kereta Cepat di China sama Megahnya dengan Bandara

Secara kasat mata, stasiun kereta cepat di Kota Xiamen dan Hangzhou sama besarnya dengan bandara yang di kedua kota tersebut. Lantas bagaimana fasilitas dan sistem keamanannya?

Untuk stasiun kereta cepat seperti Hangzhou, fasilitas pembelian dan penukaran tiket berada di lantai 1. Tersedia juga mesin cetak tiket mandiri. Stasiun di Hangzhou juga menyediakan loket khusus bagi traveler asing. Dari pantauan, antrean penumpang terlihat sangat panjang pada loket untuk penumpang domestik. Antrian pendek justru terlihat pada mesin pencetak tiket mandiri atau 'ATM' tiket.

Bagi yang memiliki banyak waktu luang, penumpang bisa bersantai pada taman terbuka hijau di depan Stasiun Hangzhou Timur. Bagi yang terburu-buru, penumpang bisa langsung menuju ruang tunggu penumpang bila tiket telah dipegang. Umumnya, ruang tunggu terletak di lantai paling atas atau lantai 2.

Sebelum masuk ke ruang tunggu, penumpang harus melalui pengecekan tiket dan paspor kemudian masuk ke area security check point untuk pemeriksaan badan dan barang bawaan.
Pengalaman Naik Pesawat dan Kereta Cepat di China, Mahal Mana?Kereta Cepat di China. Foto: Feby Dwi Sutianto

Bila dinyatakan lolos pemeriksaan, penumpang bisa memilih tempat duduk di dekat pintu keberangkatan kereta. Umumnya, tersedia tulisan nomer kereta pada papan informasi elektronik. Bila bingung, kita bisa bertanya ke petugas dengan menunjukkan tiket.

Ruang tunggu penumpang kereta sangat luas. Bila waktu boarding telah tiba, penumpang bisa antre di pintu elektronik menuju peron keberangkatan. Caranya, tiket dimasukkan ke dalam mesin di pintu elektronik, ketika tiket berhasil 'tertelan' dan muncul kembali, kita bisa mengambil tiket. Selanjutnya, pintu elektronik akan terbuka secara otomatis.

Kita bisa langsung menuju platform atau peron untuk menunggu kedatangan kereta. Di sini, penumpang bisa menunggu sekitar 5 menit sebelum kereta tiba. Di setiap stasiun, tersedia pula lift khusus untuk penyandang disabilitas.

Peron stasiun terbuka sehingga angin dan paparan cahaya matahari leluasa masuk melalui atap-atap stasiun.

Bila kereta akan tiba, petugas stasiun meniup peluit. Petugas juga memberi instruksi agar penumpang menunggu di belakang garis kuning peron. Umumnya, kereta hanya berhenti antara 2-5 menit untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

Setelah beberapa penumpang turun, penumpang yang akan berangkat baru diizinkan masuk.

Perlu diingat, tiket kereta harus disimpan baik-baik karena penumpang kembali harus melalui pintu elektronik saat di stasiun tujuan. Tanpa tiket, penumpang mengalami kesulitan untuk keluar.

Untuk kereta, penampilan gerbong di dalam dan luar tampak bersih. Di dalam kereta, petugas kebersihan berkeliling secara berkala memungut sampah dan membersihkan lantai kereta. Di dalam kereta, toilet tampak bersih dan tidak berbau. Di sudut kereta juga tersedia air hangat gratis untuk membuat minuman.

Bila lapar di tengah perjalanan, penumpang bisa memesan makanan pada pramugari kereta. Mereka secara rutin menawarkan makanan. Penumpang juga bisa memesan makanan bersamaan saat membeli tiket menggunakan aplikasi di 12306.

Lantas bagaimana dengan fasilitas dan keamanan di bandara?

Saat keberangkatan dari Xiamen Gaoqi International Airport, penerbangan domestik berada pada Terminal 4. Di sini, penumpang tidak perlu melalui security check point menuju area check in.

Bagi yang membawa barang bawaan yang akan dimasukkan ke dalam bagasi pesawat, pemeriksaan barang dilakukan dilakukan di belakang check in counter. Mesin x-ray barang terpasang di belakang petugas check in. Ada juga fasilitas self check in.

Bila tiket dipegang, penumpang bisa masuk ke ruang tunggu. Namun pengguna jasa angkutan udara harus melalui pemeriksaan keamanan. Untuk Bandara Xiamen, pemeriksaan terbilang sangat ketat dan detail untuk penumpang lokal dan asing.

Pertama, penumpang harus melakukan pengecekan tiket dan identitas. Di sini ada juga pengecekan rekam wajah. Ada seorang penumpang warga lokal yang ditolak masuk. Dia diarahkan menuju pos Polisi yang tidak jauh dari proses pemeriksaan.

Bila lolos pemeriksaan pemindai wajah, tiket dan identitas, penumpang wajib memasukkan barang bawaan, termasuk melepas ikat pinggang atau benda-benda yang mengandung logam untuk dimasukkan ke mesin x-ray.

Petugas Aviation Security memeriksa secara seksama penumpang, termasuk telapak sepatu. Meski pemeriksaan dilakukan secara cermat, petugas keamanan tetap menyampaikan dengan bahasa yang santun.

Bila membawa air minum, penumpang wajib mengosongkan botol. Bila lolos, pemeriksaan, penumpang bisa menuju area boarding. Penumpang bisa juga berbelanja karena di area boarding domestik tersedia pula area komersial.

Di area boarding, pengelola bandara juga menyediakan fasilitas smoking room, ruang menyusui, hingga fasilitas isi ulang air minum. Alhasil, penumpang yang diminta mengosongkan isi botol saat pemeriksaan bisa mengisi ulang air minum kembali ada juga gelas plastik bagi penumpang yang tidak membawa tempat minum.

Bila waktu boarding tiba, penumpang bisa menunggu dan mengatre di masing-masing gate keberangkatan. Di sini dilakukan pemeriksaan tiket. Pemeriksaan tiket juga akan dilakukan kembali sesaat sebelum masuk ke dalam pintu pesawat.
Pengalaman Naik Pesawat dan Kereta Cepat di China, Mahal Mana?Foto: Feby Dwi Sutianto

Catatan Para Traveler di China: Lebih Suka Naik Kereta Cepat

Traveler asing dan lokal memiliki cerita sendiri terhadap transportasi udara dan kereta di China.

Julian Lee, pelajar asal Indonesia, mengaku sangat suka berpergian keliling beberapa kota di China menggunakan kereta cepat daripada pesawat. Selain itu, stasiun kereta cepat di China rata-rata berlokasi tak jauh dari pusat kota, meski ada juga yang berada di pinggiran kota.

"Kalau aku lebih pilih kereta karena cepat dan nyaman. Rata-rata, stasiun kereta kan di tengah kota jadi nggak terlalu jauh ke lokasi tujuan, kalau bandara rata-rata di pinggir," ujar Julian.

Namun, ia juga memilih opsi pesawat bila berpergian sendiri untuk rute jarak jauh.

"Tapi kalau perjalanan sendiri dan jauh, saya sebagai perempuan, lebih pilih naik pesawat," tambahnya.

Untuk pemesanan tiket, wanita yang fasih Berbahasa Mandarin ini lebih mengandalkan layanan berbasis aplikasi bernama Qunar pada ponsel pintar. Selain bisa memilih harga dan maskapai untuk pesawat, Julian merasa nyaman dengan sistem pembayaran yang ditawarkan.

"Meski Qunar pakai Bahasa Mandarin cuma praktis. Kemudian di sini bisa pesan tiket kereta, pesawat, hotel. Kemudian pilihan pembayaran juga praktis, bisa pakai non cash seperti Alipay dan WeChat," tuturnya.

Julian juga berbagi pengalaman untuk pemesanan tiket pesawat menggunakan aplikasi. Bila tiket kereta memiliki tarif tetap sesuai harga tertera di informasi, tidak dengan tiket pesawat. Bila tak jeli, ada tambahan biaya yang dikenakan di luar harga yang tertera di awal.

"Kalau beli lewat aplikasi, harus dicek detail karena setelah proses transaksi kemungkinan ada tambahan biaya seperti asuransi, delivery tiket dll. Jadi bisa pilih untuk tidak mengambil opsi. Jadi harus detil lihat harga awalnya," ungkapnya.

Sama dengan Julian, Ying juga lebih suka berpergian menggunakan kereta cepat. Pelajar asal China ini memilih kereta cepat karena bisa memperoleh potongan harga sebesar 25%.
Pengalaman Naik Pesawat dan Kereta Cepat di China, Mahal Mana?Foto: Feby Dwi Sutianto

"Tapi pengalaman saya, pesawat itu lebih mahal maka saya pilih naik kereta karena lebih murah. Apalagi pelajar dapat potongan 25% (tiket kereta)," ujar Ying.

Namun, Ia tetap menggunakan pesawat bila waktu tempuh relatif lama meskipun tarif angkutan udara lebih mahal daripada kereta cepat.

"Kalau jarak jauh seperti dari Xiamen, Fujian ke rumah saya di Shenyang, Liaoning. Saya pilih naik pesawat. Kalau naik kereta bisa 24 jam, pesawat cuma 4 jam," sebutnya.

Untuk memesan dan membeli tiket, Ying selalu mengandalkan layanan berbasis aplikasi. Ia memakai aplikasi bernama 12306 untuk pemesanan tiket kereta dan aplikasi besutan C-Trip untuk pembelian tiket pesawat.

"Saya biasanya pakai aplikasi namanya 12306. Itu aplikasi pemesan tiket pakai apps," tambah Ying. (feb/ang)