Jumlah tersebut masih mencukupi hingga 8 bulan ke depan.
"Stok beras kita, hari ini 1,7 juta ton, kebutuhan 213 ribu ton per bulan. Jadi 1,7 juta ton dibagi 213 ribu ton sama dengan 8 bulan. Kita mulai, ini sudah masuk September, masuk Oktober, sekarang kan masih pengadaan nih, berarti 8 bulan ke depan sampai Mei," kata Amran di kantornya, Jakarta, Senin (4/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini yang menolong sehingga kekeringan kurang. Kami kebijakannya adalah tidak boleh (tanam) di bawah 1 juta hektar," terangnya.
Selain itu, tambah Amran, untuk menghadapi paceklik pihaknya juga melakukan pompanisasi, menyediakan embung, long storage, hingga mempercepat tanam. Amran menjelaskan, paceklik terjadi apabila luas tanam hanya 500 ribu hektar, sementara dirinya telah membuat kebijakan untuk melakukan luas tambah tanam 1 juta hektar perbulan.
Tak ganggu HET
Lebih lanjut, Amran mengatakan, kekeringan juga tidak akan membuat harga eceran tertinggi (HET) menjadi bergejolak. Dirinya mengatakan, acuan harga tersebut sudah disepakati oleh seluruh pihak. Dengan demikian, para pedagang akan menjual beras dengan sesuai dengan yang ditetapkan.
"Harga sudah HET jadi jangan dilewati," jelas Amran.
Lebih lanjut dirinya mengatakan, saat ini stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang untuk wilayah Jakarta mencapai 45 ribu ton/ hari. Sedangkan kebutuhan hanya sekitar 30 ribu ton/hari.
"Jadi ini tidak ada lagi ceritanya (naik) karena sudah ada HET. Sejak 2016, harga (beras) tidak pernah bergejolak."
Seperti diketahui, HET beras diatur berdasarkan zonasi. Contohnya, di Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB dan Sulawesi yang dianggap sebagai wilayah produsen beras, HET sebesar Rp 9.450/kg untuk beras jenis medium dan Rp 12.800/kg untuk beras medium.
Sementara untuk wilayah lainnya yang membutuhkan ongkos transportasi lebih, harga tersebut ditambah Rp 500. Contohnya di NTT dan Kalimantan, harga beras medium Rp 9.950/kg dan premium Rp 13.300/kg. (hns/hns)











































