Rizal yang pernah menjadi Kepala Perum Bulog pada 2000-2001 menjelaskan, memang panen beras akan tergangu jika terjadi kendala cuaca. Namun jika terkendala karena curah hujan yang tinggi, dia menghitung penurunan jumlah panen hanya sekitar 1%.
"Jadi enggak perlu impor. Tapi kalau sedang elnino cuaca panas sekali siklus 6 tahun sekali bisa anjlok 10%, itu setara 3 juta ton," tuturnya dalam Diskusi KPPN DPP PAN 'Ekonomi Indonesia di Tahun Politik' di markas DPP PAN, Jakarta, Rabu (14/2/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan melihat data tersebut, maka menurutnya pemerintah tidak seharusnya membuka keran impor. Apalagi menjelang musim panen raya.
Jika impor dilakukan pada saat masa panen, Rizal mengkhawatirkan harga gabah petani akan merosot. Alhasil petani juga yang dirugikan.
"Kasihan petani, harga gabah turun. Impor boleh tapi harus ada timing-nya," tambahnya.
Rizal curiga kebijakan tersebut diambil sebagai langkah politik untuk menjatuhkan elektabilitas Presiden Joko Widodo. Sebab setelah keputusan itu diambil ramai menjadi perbincangan publik.
"Jangan-jangan yang impor itu tujuannya politik menurunkan elektabilitas Pak Jokoi. Karena kan sebenarnya bisa saja tunggu 2 bulan lagi," pungkasnya. (dna/dna)











































