Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 12 Mar 2018 12:45 WIB

Laporan dari Boston

Booth Indonesia di Pameran Seafood Boston Letaknya Dekat Toilet?

Ari Saputra - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Boston - Tidak mudah mempromosikan industri perikanan Indonesia di pasar AS. Perlu berebut lapak untuk mendapatkan posisi strategis yakni berada di dekat pintu masuk sehingga para pembeli potensial melirik seperti pada pameran Seafood Expo North America (SENA).

Sebelumnya, ruang pamer Indonesia berada di bagian belakang, mojok, dekat WC dan sepi pengunjung. Beruntung, Indonesia mempunyai Konsul Jenderal RI di New York, Abdul Kadir Jailani yang berusaha sekuat tenaga memperoleh lapak lain yang lebih strategis.

[Gambas:Video 20detik]


"Pokoknya usaha sana-sini, sampai dapat di sini (di tempat ini). Ini ngegeser space exhibitor yang lain, yang sudah menempati tempat ini bertahun-tahun. Nggak mudah," kata AK Jailani, panggilan akrab konsul tersebut saat bercerita kepada detikFinance di sela-sela pameran Seafood Expo North Amerca (SENA), di Boston Convention & Exhibition Center, AS, Minggu (11/3/2018).

Ia mengatakan posisi tersebut sangat penting dalam sebuah pameran berskala Internasional. Lokasi ikut menentukan jumlah calon pembeli mau mampir di tengah kompetisi yang diikuti ratusan exhibitor dari berbagai negara di 5 benua.

"Dulu saya mempunyai toko di Pasar Turi, Surabaya. Saya tahu betul bagaimana lokasi itu menentukan jumlah pembeli yang mau mampir," tandas penyuka fotografi ini.

Hasil kerjanya membuat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melirik. Jika sebelumnya, tahun 2017, ia tidak hadir karena lokasi paviliun Indonesia yang mengenaskan, kali ini Susi bersemangat.

Tidak lain karena lokasi pameran paviliun Indonesia yang sudah representatif. Sebelumnya, Susi mengancam tidak akan hadir lagi jika letak dan kondisi ruang pamer masih memprihatinkan.

"(Sekarang) jauh lebih ramai dan representatif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun kemarin saya tidak bisa datang. Karena saya bilang, kalau nggak bisa mengusahakan besar ya lebih baik tidak usah," ucap Susi pada kesempatan serupa.


"Tahun ini sangat baik, besar dekat dengan pintu utama, langsung begitu masuk. Dan tadi semua komentar dari perusahaan-perusahaan (perusahaan nasional yang ikut pameran-red) juga sangat baik. Dan beberapa pengusaha besar yang selama ini terpisah dari booth Indonesia pada saat ini mau bergabung. Saya sangat berterima kasih pada Pak Konsul yang mengusahakan ini," imbuh Susi sumringah.

Sebagai catatan, SENA merupakan pameran industri pengolahan dan olahan hasil laut terbesar kedua di dunia setelah di Brussel, Eropa. Dan di Amerika Utara, pameran SENA ini diikuti oleh ratusan exhibitor dan dikunjungi ribuan calon pembeli potensial. Nilai kontrak yang dihasilkan dalam pameran ini mencapai jutaan dolar AS.

Menurut panitia pameran SENA, pameran tahun ini menampilkan ruang pamer seluas lebih dari 86.000 meter persegi. Jumlah exhibitor mencapai 1.341 perusahaan dari 57 negara termasuk dari peserta baru dari negara Fiji, Oman, Ukraina dan Venezuela. Dari 1.341 perusahaan, Indonesia 'hanya' mengirimkan 21 perusahaan di bawah naungan Paviliun Indonesia.

"Berjalan di lantai pameran, Anda bisa melihat, mendengar, dan merasakan denyut nadi industri makanan laut. Melalui percakapan dan pertemuan pribadi dan juga dalam program konferensi terstruktur, orang bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang tren yang disukai teman sebayanya, dan terlibat dalam percakapan produktif tentang tantangan yang muncul," kata Direktur Acara dan Diversifikasi Komunikasi SENA, Wynter Courmont dalam keterangan tertulis.

Tidak mengherankan, dengan potensi ekonomi, nilai ekspor dan jangkauan pasar SENA yang sangat luas tersebut membuat Susi bersemangat. Ia mendatangi seluruh exhibitor satu persatu dan mendengar langsung keluhan pengusaha nasional tersebut.


Susi juga menerima sejumlah pengusaha dari Australia dan India yang berniat menginvestasikan sejumlah modal di industri perikanan nusantara.

Selain itu, Susi langsung melobi sejumlah tokoh yang berpengaruh dalam industri perikanan di Amerika seperti President of National Fisheries Institute John Connely dan penasehat senior untuk Ocean Concervancy, Sandra Whitehouse.

Bahkan ia mengundang secara khusus teman lamanya, mantan Menlu AS John Kerry untuk berdiskusi mengenai industri perikanan global, khususnya di Indonesia.

(Ari/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com