Follow detikFinance
Minggu, 18 Mar 2018 12:59 WIB

Ini Sisi Positif Defisit Neraca Perdagangan RI

Niken Widya Yunita - detikFinance
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia 3 bulan berturut-turut defisit. Defisit neraca perdagangan itu bisa dinilai memiliki sisi positif.

"Apakah defisit perdagangan selalu buruk? Jika kita melihat secara objektif defisit perdagangan sebenarnya punya sisi positif. Peningkatan defisit perdagangan terutama disebabkan oleh meningkatnya nilai impor bahan baku dan barang modal," ujar Ketua Umum PPP Romahurmuziy, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/3/2018).

Menurut anggota Komisi XI DPR itu, peningkatan impor bahan baku Januari hingga Februari tercatat sebesar 23,7% dibanding posisi yang sama 2017. Sementara impor barang modal naik 31,16% atau setara US$ 4,7 miliar.



Impor bahan baku dan barang modal digunakan oleh industri manufaktur untuk memproduksi barang jadi. Impor bahan baku berkontribusi terbesar dari total impor atau sebesar 74,6%.

"Ketika impor bahan baku dan barang modalnya naik, ini menandakan bahwa sektor industri manufaktur kembali melakukan ekspansi produksi," ucap dia.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan non-migas tahun 2017 tercatat 4,8%. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan sektor pertanian dan perdagangan, yakni masing-masing 3,81% dan 4,4%. Pemulihan konsumsi rumah tangga tahun ini jadi faktor utama pendorong peningkatan produksi sektor industri.

"Untuk 2018, sinyal positif ini selaras dengan aneka kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah seperti stabilisasi harga pangan, tidak menaikkan BBM bersubsidi hingga 2019, dan penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran," kata Rommy.



Namun, lanjut Rommy, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Dari sisi ekspor ketergantungan ekspor komoditas mentah seperti batubara, minyak dan kelapa sawit (CPO) membuat struktur ekspor Indonesia rapuh terhadap fluktuasi harga global. Solusinya Pemerintah perlu mendorong industrialisasi produk-produk komoditas menjadi barang jadi dengan nilai tambah yang lebih besar.

Kemudian dari sisi impor, ketergantungan terhadap bahan baku impor berakibat pada membengkaknya biaya produksi sektor manufaktur ketika rupiah melemah. Oleh karena itu diharapkan pemerintah fokus untuk lakukan industri substitusi impor bahan baku agar serapan bahan baku lokal makin meningkat.

"Pastinya industri membutuhkan infrastruktur yang mendukung," tuturnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan pada Februari 2018 yang tercatat mengalami defisit US$ 0,12 miliar. Angka defisit ini terus terjadi 3 bulan terakhir sejak Desember 2017 lalu.

(nwy/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed