Follow detikFinance
Rabu, 21 Mar 2018 19:16 WIB

Dolar Perkasa, Berkah atau Musibah Bagi Industri?

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Ada yang bilang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amrika Serikat (AS) memberikan keuntungan bagi kinerja ekspor nasional. Sebab, saat terdepresiasi nominal yang didapat dalam bentuk rupiah semakin banyak.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan justru pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia.

"Tapi saya optimis ini (pelemahan) jangka pendek, artinya ini lebih banyak efek tekanan psikologis," kata Enny di kantor Indef, Jakarta, Rabu (21/3/2018).


Dampak negatif bagi perekonomian terlihat dari kinerja ekspor Indonesia dalam neraca perdagangan tercatat defisit selama tiga kali alias lebih besar nilai impornya.

Jika pelemahan rupiah menguntungkan kinerja ekspor seharusnya pelaku industri bisa memanfaatkan momentum depresiasi rupiah yang belakangan ini sudah tembus Rp 13.700 per US$.

Menurut Enny, pelemahan rupiah ini justru menjadi kendala bagi industri terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Dia mencontohkan seperti industri makanan dan minuman (mamin) yang komposisi bahan bakunya sebesar 70% dari total biaya produksi.

Dengan kata lain, maka industri tersebut harus membeli bahan baku yang lebih mahal saat dolar menguat terhadap rupiah.

"Kalau terjadi depresiasi nilai tukar ya pasti dia tidak akan kompetitif, akan terjadi penurunan kinerja," ungkap dia.


Kinerja ekspor nasional yang belum terbantu dari kondisi pelemahan rupiah karena produk yang diekspornya hanya komoditas.

Dia menyadari harga komoditas bisa melejit tinggi saat pelemahan rupiah. Namun belakangan ini beberapa negara tujuan ekspor komoditas tengah mengendurkan produktivitasnya. Hal itu juga

"Jadi gini dengan asumsi harga komoditas tetap tinggi. Padahal ketika rupiah terdepresiasi besar kemungkinan kinerja dari negara tujuan ekspor kita terutama china, jepang itu juga menurun, artinya produktivitas mereka menurun, harga komoditas tidak sebanding. Jadi percuma kalau terdepresiasi tapi harga komoditasnya turun. Jadi nggak break even point," tutup dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed