Follow detikFinance
Rabu, 25 Apr 2018 19:29 WIB

Harga Mainan Impor Naik Karena Dolar Ngamuk, Kolektor Tak Khawatir

Selfie Mifathul Jannah - detikFinance
Foto: Angga Aliya ZR Firdaus/detikFinance Foto: Angga Aliya ZR Firdaus/detikFinance
Jakarta - Nilai dolar Amerika Serikat (AS) nyaris tembus Rp 14.000 belakangan ini. Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) kemarin, (24/4) nilai 1 dolar tercatat Rp 13.999.

Dari kenaikan kurs dolar tersebut, beberapa jenis barang di dalam negeri pun diperkirakan akan naik. Termasuk mainan action figur, yang banyak digemari oleh kolektor di Indonesia.

Hal tersebut dikatakan salah satu kolektor mainan Bosni Gondo Tambunan, dirinya menjelaskan, akibat adanya kurs dolar yang menguat pasti harga mainan pun ikut naik.

"Mungkin akan naik, karena kan hitungannya itu dolar ya, terutama yang mainan figur. Tapi kalaupun naik itu tidak akan mempengaruhi banyak. Karena naiknya tipis- tipis jadi masih bisa kita perkirakan," kata dia kepada detikFinance, Rabu (25/4/2018).


Meski mengalami kenaikan Gondo menjelaskan tidak akan ada kenaikan yang signifikan. Para kolektor yang biasanya sudah mempersiapkan anggaran tersendiri untuk mengoleksi mainan kesukaannya hanya perlu menambah sekitar Rp 100-200 ribu.

"Sebenarnya kenaikan harga itu tidak begitu mempengaruhi kolektor, karena kan dana yang dihabiskan kolektor ini kan dana lebih yang dipersiapkan kalaupun ada kenaikan dari kurs dollar, naiknya hanya berapa ratus ribu, kalau kata saya tidak terlalu signifikan," papar dia.

Gondo mengatakan untuk kenaikan kurs dollar terhadap rupiah ini termasuk bertahap dan naik tipis. Para kolektor bisa mempersiapkan keuangannya bila kurs dolar informasinya terus diperbaharui.


Gondo mengaku beberapa tahun lalu pernah mengalami kejadian dimana saat pre order memesan mainan perhitungan kurs rupiah masih Rp 13.000. Namun ketika mainan itu akan di bayarkan kurs dolar naik menjadi Rp 16.000

"Kalau saya pribadi akan tetap beli (meski harga naik) memang sudah mempersiapkan budget-nya. saya cukup gembira dengan sistem sekarang karena naiknya tidak signifikan, tipis tipis. Soalnya saya pernah pre order, kita udah membayangkan US$ 100 dengan kurs Rp 13.000- 14.000 tapi ketika barangnya datang kurs lagi Rp 16.000, nah jangan sampai seperti itu lagi," kata dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed