Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 27 Apr 2018 15:43 WIB

Rachmat Saleh, Drop Out dari Harvard hingga Jadi Gubernur BI

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: dok. BI Foto: dok. BI
Jakarta - Tidak semua kesuksesan hanya diraih melalui universitas bergengsi. Misalnya Rachmat Saleh yang pernah drop out dari Universitas Harvard dan mampu menjadi orang nomor satu di Bank Indonesia (BI).

Kesempatan untuk belajar di Universitas Harvard ia dapatkan ketika telah bekerja di BI. Saat itu ia ditawari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S-2 dari Agency for International Development.

Singkat cerita ia mengikuti tes dan lulus. Sebelum pergi ke Amerika, Rachmat Saleh bertolak terlebih dahulu Srilanka dan India untuk belajar kebanksentralan.

Dalam buku berjudul Legacy, Sang Legenda Kejujuran Rachmat Saleh yang ditulis Syafrizal Dahlan Dkk disebutkan bahwa setelah selesai belajar soal bank sentral di India dan Srilanka, Rachmat kemudian mengenyam pendidikan di Harvard.

Namun sayang, baru enam bulan belajar di universitas terkemuka tersebut Rachmat Saleh diminta segera untuk meninggalkan Harvard. Ia diberi penugasan untuk mengambil alih perwakilan BI di New York.



Kegiatan tersebut termasuk dalam rangka menasionalisasikan perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia termasuk De Javasche Bank (nama BI sebelumnya) menjadi bank sentral.

Alhasil, cita-cita Rachmat Saleh untuk meraih gelar S-2 harus disimpan terlebih dahulu. Sang dosen pembimbing pun, Profesor David Bell turut memahami kondisi tersebut dan memberikan 'ilmu dadakan' tentang tata cara mengambil alih dan mengelola perwakilan bank sentral.

"Akhirnya Professor David Bell pun maklu. Bahkan Rachmat Saleh diberi ilmu dadakan tentang cara mengambil alih dan mengelola perwakilan bank sentral," tulis Syafrizal Dahlan dalam buku itu.

Banyak hal yang dilakukan Rachmat Saleh ketika mengambil alih perwakilan bank sentral tersebut. Ia harus membenahi internal kantor dan melanjutkan bisnis yang tertunda.

Selain itu, ia juga sering melakukan kunjungan ke Konsultan Jenderal RI di New York untuk mengharmonisasikan lembaga-lembaga tersebut. Sebab, ia merasakan adanya keganjilan hubungan antara kantor perwakilan BI dengan kantor Lembaga Alat-alat Pembayaran Luar Negeri (LAAPLN).

Setelah berhasil memesrakan kembali kantor perwakilan BI, Rachmat Saleh juga menjalin hubungan baik dengan The Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) dan bank-bank internasional lainnya untuk merintis kerja sama.

Begitu perjalanan panjang di Amerika selesai, Rachmat Saleh tidak langsung kembali. Dia kembali mengembara dan bekerja di Bijbank Amsterdam.

Dua tahun lamanya Rachmat Saleh tinggal dan bekerja di Belanda. Baginya, bekerja sebagai sekretaris di sana merupakan tempat 'perkuliahan sambil praktik' yang baik. Sebab dengan mudah menambah pengetahuan dan pengalaman mengenai kebanksentralan.

Setelah 'kuliah' di New York dan Amsterdam Rachmat Saleh akhirnya kembali pulang ke Indonesia. Ia kembali ke BI dan jabatannya naik menjadi Kepala Bagian Ekonomi Statistik merangkap Kepala Bagian Koperasi.

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed