Follow detikFinance
Jumat, 22 Jun 2018 14:32 WIB

Ada Perang Dagang, RI Mau Tingkatkan Ekspor Sawit Ke China

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terus berlanjut. Kali ini, giliran negara tirai bambu melakukan balasan terhadap kebijakan dagang AS.

China merespons cepat dengan mengumumkan rencana pengenaan tarif dan bea masuk 25% untuk produk-produk AS. Ini bakal berlaku 6 Juli untuk produk pertanian, mobil, dan produk akuatik dari AS, senilai US$ 34 miliar atau setara Rp 476 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Ternyata dengan adanya situasi tersebut Indonesia bisa masuk sebagai pilihan alternatif China khusus untuk pengiriman minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Hal tersebut dikatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.


Ia menjelaskan, dengan adanya perang dagang antara China dan Amerika yang semakin memanas Indonesia perlu bersiap untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

"Gini kita mengikuti terus prosesnya karena kebijakan atau hal itu bisa berubah setiap saat seperti halnya sebelumnya ada pengumuman mengenai dikenakannya tarif kemudian batal sekarang dikenakan lagi. Dalam situasi seperti ini memang kita akan berhati-hati tapi kita juga tidak diam kita bukan mau memanfaatkan tapi kalimat yang lebih tepat itu kita sekarang melihat ini sebagai peluang untuk mengisi kekosongan itu," kata dia di Kantor Kementerian Perdagangan, Jumat (22/6/2018).

Untuk mempersiapkan adanya kekosongan tersebut, Indonesia akan mempersiapkan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Tokyo bulan depan.

"Kalau toh terjadi pengenaan bea masuk antar dua negara itu maka kita akan coba masuk dan dalam pertemuan membahas mengenai RCEP di Jepang di Tokyo awal bulan. Kami akan melakukan pertemuan bilateral dengan beberapa negara termasuk dengan Tiongkok. Untuk kita membahas kemungkinan kemungkinan yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan ekspor kita," papar dia.


Secara spesifik yang akan dibahas dalam rencana kerjasama bilateral tersebut Eggar mengatakan akan fokus untuk beberapa komoditas saja salah satunya sawit.

"Ya banyak sekali produknya termasuk yang kita akan ikut serta di Shanghai ekspo itu kan kita sekarang sudah mendapatkan tambahan kuota pertemuan Bapak Presiden dengan Perdana Menteri Tiongkok Li Peng itu penambahan kuota minimum 500.000 Ton CPO kita kemudian juga ya kita lihat juga dengan tekstil ya dan juga garmen kita juga ada soal kemudian baja mereka juga sebenarnya over supply," kata dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed